Kamis, 27 Maret 2003

INDAHNYA MATI TANPAMU

jangan menangis di bahuku kini hingga nanti tak pernah
air matamu itu yang tenggelamkan angkuh pengembara durjana ini
bawa jauh gundahmu dan muntahkan di ujung samudera sana
dimana tatap ketulusan tak pastikan hati yang merindumu
biar kurengkuh, kucumbu,kugauli pedihku sendiri
dan kau bukan untukku kau bilang!

jangan bakar sepi ku dengan kerling meracun matamu
senyum itu jua kemarin memangkas asaku habis tak sisa
kumaki, kuserapahi, kusumpahi, kukutuk hina cinta ini untukmu saja
kau yang tuli atau aku tak menduga untuk berbisik sekadar berbisik

lalu siapa yang jalang?

jangan membelai angin di wajahku dalam lentik jemari menipu
taringmu itu...taring itu mengorek luka bekaskan borok merelung
dan ku kan menari bersama lalat iringi kidung kegelapan
na na na...ni ni ni...indahnya mati tanpamu

jangan bicara tulus rasaku di balutan iba mu
bibirmu tak sehina itu walau kulumat malam tadi di mimpiku
bukan kau tak menahu kenistaan hasrat kasih
aku...aku...aku yang terpenggal nurani terseret pesona


jakarta, duapuluhtujuh ketiga di duaributiga, 09.15




Bayu Adhiwarsono ©
*Tulisan ini di-publish oleh Bayu Adhiwarsono,
dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta*

Kamis, 20 Maret 2003

AKU, KERINDUAN, DAN REMBULAN

ada rasa yang perlahan datang membuka tabir malam yang sempurna
sedikit berdebar, sedikit gatal, sedikit membingungkan
lalu ku bertanya pada rembulan yang penuh,
tidak teriak, hanya berbisik sayup sekali...
"lan, rembulan,...rasa apa ini namanya?"
tidak terdengar jawaban...
"rembulan! rasa apa ini namanya?"
bisik itu ku keraskan sedikit,
tidak juga terdengar jawaban...
"hai bulan! dengarkah kau,......rasa apa ini namanya?"
kini ku teriak

ternyata rembulan tengah dirundung tuli malam ini,
justru rasa itu yang perkenalkan dirinya sendiri....

"kau tanyakan apa aku ini?,
aku ini kerinduan yang datang mengusik sepi mu,
dan seperti yang telah lalu, aku datang tanpa permisi,
terkadang, bahkan mungkin seringkali ku goreskan luka,
namun sesekali rasaku semanis madu berselimut gula-gula,
aku lah Kerinduan...!"

dan ku pun terdiam, lalu ku bertanya lagi,
tak berbisik apalagi teriak, cukup di hatiku saja,

"siapa titahkan kau datang? pergi jauh!, malam ini ku ingin satu...
mencumbu rembulan yang tuli, bukan diusik kerinduan!"


jakarta, duapuluh ketiga di duaributiga, 02.45






Bayu Adhiwarsono ©
*Tulisan ini di-publish oleh Bayu Adhiwarsono,
dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta*

Selasa, 18 Maret 2003

KAU ADA

kau ada…
dengan kesempurnaanmu hiasi semesta
menari di ujung kaki cintamu
menghentak terlenakan irama yang bukan untukku
lalu terlelap kala jemarimu bekukan ku terpesona

kau ada…
sungguh kau ada di hatiku
menghantar mimpiku tanpa yang lainnya
gelap, sepi, hanya terlukis indahmu
aduh engkau, aku merindu

kau ada…
kudustai seperti yang kau mau
tidak, bukan kau, kau tak ada
pergi jauh dari cintaku
itu memang yang terbaik
kau ada…

namun kau ada
hanya di mimpiku yang itu pun harus terhapuskan
apa lagi yang kupunya kini dan nanti
jika mimpi pun kau rengkuh dari asaku

jakarta, delapanbelas ketiga di duaributiga, 15.05

Bayu Adhiwarsono©

BERSENGGAMA DENGAN MIMPI

aku tak mampu bertanya
pada sunyi malam kala fajar mulai mengintip celah hari
apakah memang rasa ini harus kupendam
dan kukunci rapat dalam peti pedih hati
wahai bidadari berjuta masa

aku juga tak mampu berhenti mencintaimu
bak mentari selalu terangi hari
walau terkadang angkasa terselimuti kelabu
namun kau tahu pasti itu ada tersembunyi
wahai pelangi berlaksa warna

lalu apa guna hati ini terciptakan
bila keraguan senantiasa menyelinap
mengusik segala asa di khayalan
menyisakan gundah dan amarah yang cuman hanya saja
bergolak tanpa terperikan

hingga kapan ini berakhir,
esok, lusa, warsa nanti, atau memang tak akan pernah jua
jika kasih dan kerinduan untukmu cuman hanya saja
menggeliat, gerogoti sepi ku, hempaskan kepastian
menawarkan keindahan yang mungkin semu

jakarta, delapanbelas ketiga di duaributiga, 05.05

Bayu Adhiwarsono©

Minggu, 16 Maret 2003

ELEGI DUKA

menatap kelembutan di indah parasmu
sejukkan tatapku yang dambakan warna kesempurnaan
sekejap kerling matamu singgahkan embun damai
dan lukisan senyum di bibirmu menggoreskan surgawi
yang hanya di mimpiku saja

sayup bisikanmu teduhkan amarahku
seperti tawamu yang lantunkan tawa menggema
lalu harus dengan apa lagi kuakui pesonamu…
saat itu memang ada terciptakan
walau untuk di khayalku saja

tidakkah kau tahu silau mentari yang terangi hari
sepasti cintaku yang hanya untukmu
namun takkan pernah ada yang cukup dariku
tidak kerinduanku sepenuh hati
juga ketulusan kasih yang dalam terukirkan

apa lagi yang harus kujejakkan di asa ini
kala tak ada lagi jendela hatimu yang terbuka
hanya untuk ijinkan singgah hatiku
dan kugenggam jua semuanya kini
dalam kebekuan hasrat tanpa kasihmu

jakarta, enambelas ketiga di duaributiga, 16.40

Bayu Adhiwarsono©

Rabu, 12 Maret 2003

KUINGKARI

haruskan kuingkari terbitnya mentari di ufuk timur
seperti kuingkari cintaku yang hanya untukmu
haruskah kudustai hadirnya bintang dan rembulan di malamku
seperti kudustai kasihku padamu utuh
haruskah kupalingkan wajahku dari embun pagi terwujud
seperti kau palingkan mimpiku jauh darimu

lalu untuk apa terciptakan ketulusan
atau memang itu hanya kesemuan lain yang angkuh
saat kepalsuan kini jadi yang terindah
untuk hanya sekedar terucapkan
dan kucampakkan jua nurani terberaikan

kan kujejakkan langkah di bentangan yang tak pasti
menggapai bayangan mimpi dibalik tangis
yang harus kupendam jua pasti
demi hadirnya lagi pelangimu di hari ku
cairkan kesunyian yang lama membeku

biar kuingkari cintaku yang hanya untukmu
biar kudustai kasihku padamu utuh

jakarta, duabelas ketiga di duaributiga, 20.30


Bayu Adhiwarsono©

Senin, 10 Maret 2003

CINTA, KATANYA

cinta adalah memberi,
tanpa memimpikan balasan
itulah mengapa,
cinta selalu berakhir dengan air mata
karena seperti juga cinta,
air mata selalu mengalir keluar

lalu manakah yang terindah
sepi selamanya tanpa tahu arti cinta
untuk kemudian kehilangan pun tak pernah kan singgah
atau hidup terselimutkan cinta
dan rasakan rindu saat semuanya lenyap

haruskah kututup pintu hati
tak biarkan cinta lukis tinta penuh asa
saat kutahu akhirnya air mata jua
yang hiasi kepedihan nurani

jakarta, sepuluh ketiga di duaributiga, 01.30




Bayu Adhiwarsono ©

RONGGA

rongga sepi itu ada
tercipta tanpa pintu dan jendela
namun mengapa ku terhisap kedalamnya
menggeliat hempaskan amarah
saat bernafas pun ku terseret tenggelam

melolong teriakkan namamu
walau dirimu justru berlari menjauh
tinggalkan jejak langkah yang membeku
dan ku pun semakin terbelenggu
diikat temali kehampaan sungguh

akankah ku bangkit kini
dari sepi yang tanpa arti
tanpa cinta yang terperikan
kala asa pun terkungkung kepalsuan

jakarta, sepuluh ketiga di duaributiga, 12.10

Sabtu, 01 Maret 2003

AKU, KINI NANTI ESOK LUSA MATI

datang
tawa
pedih
pergi
kosong

luka, selimut malam ku
sendiri, kidung merdu ku
hampa, pelita gelap ku
sia-sia, penuntun langkah ku

keindahan,
mimpi,
yang kau hancurkan jua demi aku yang melata
kaubilang kita bukan untuk kita

jakarta, satu ketiga di duaributiga, 17.30




Bayu Adhiwarsono ©