Rabu, 30 April 2003

RELIGI TANYA

Dia menari telanjang di penghujung mataku lelap
Dia bernyanyi di daun telingaku tuli
Dia kecup bibirku hambar terlumat birahi
Dia genggam jemariku kaku merindu sepi
Dia mencumbuku

aku ?

tampar wajahNya dengan amarah menggundah
lempari singgasanaNya berjuta kesah tak henti membuncah
jauhi tatapNya berpaling tak jua hampiri melangkah

masihkah pantas kubilang satu bisik di ciptaNya,
aku cinta Dia ?


jakarta, tigapuluh keempat di duaributiga, 01.40




Bayu Adhiwarsono ©
*Tulisan ini di-publish oleh Bayu Adhiwarsono,
dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta*

Senin, 14 April 2003

BOLAK BALIK DEKOK !

aku merindu dendam, dendam merindu
rindu sekali...hik

rembulan merindu purnama, purnama merindu
rindu sekali...hik

aku merindu rembulan, rembulan merindu
rindu sekali...hik

dendam merindu purnama, aku tidak dirindu
tidak dirindu sekali...hik

kau tuli dia tertawa
aku bisu mereka tergelak
kita buta kalian terkekeh

nyinyir amis nisan tak terkubur...merongga
bersamaku sepi berakad setia
merindu tuli bisu buta

kumau tanpamu jangan,
mabuk gila mati sendiri

jakarta, empatbelas keempat di duaributiga, 03.45





Bayu Adhiwarsono ©

Minggu, 13 April 2003

PEREMPUAN TUA MENUNTUN SEPEDA TUA

perempuan tua menuntun sepeda tua
tak kuat lagi kaki mengayuh satu satu
tak perkasa lagi meliuk diantara keangkuhan hari
tak berkuasa lagi atas tujuannya sendiri
mencari Tuhannya, hilang senja kemarin
menggapai Tuhannya yang menampiknya pagi kemarin

perempuan tua menuntun sepeda tua
nanar mata menatap yang tak pernah ada
kuku-kuku kaki hitamnya menapak terseok terjatuh terdiam tenggelam
duh, urat-uratmu indah tercipta berwarna daki musim kemarau tahun lalu
dan mentari pantulkan lengket peluh bercucur menoda

perempuan tua menuntun sepeda tua
mana cantikku dulu
mana arjunaku esok

duhai merana miskin tanpa arti
terjajah waktu

itu aku !

jakarta, tigabelas keempat di duaributiga, 13.30

Bayu Adhiwarsono ©

PAGI MASIH PAGI

aku bisa saja bilang rindu padaMu
tapi aku belum sikat gigiku ini pagi
aku bisa saja memelukMu erat
tapi aku belum mandi sepagi ini
aku bisa saja mengecup bibir pipi kening jemariMu
tapi aku belum terbangun benar dari mimpi malam tadi
aku bisa saja bercinta lagi denganMu hingga tujuhbelas penggalan masa
tapi aku belum sarapan biskuit dan soda hari ini
aku bisa saja berjanji pergi bersamaMu
tapi aku belum lepas sarungku di pagi sedingin ini

namun jangan Kau bilang selingkuh itu indah lalu Kau pergi
bergenggaman jemari salah satu dari dia mereka
namun jangan Kau bilang aku tak cinta Kau

karena cinta dimulai tengah hari nanti hingga senja saja

dan nanti malam
Kau boleh telanjangi aku lagi

sungguh !


jakarta, tigabelas keempat di duaributiga, 10.00




Bayu Adhiwarsono ©
*Tulisan ini di-publish oleh Bayu Adhiwarsono,
dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta*

mamih...apa ini namanya ?
cinta, permataku sayang
pahit ya ?
selalu, intanku terpilih

bapak...apa ini namanya ?
rindu, barepku terbangga
palsu ya ?
tentu, arjunaku terperkasa

mamih bapak....apa ini namanya ?
air mata, pelangi kami terindah
sejuk ya ?
pernahkah tidak, bintangku tersilau

lalu mengapa aku terhidupkan saat itu dendamku ?
untuk nyeri pedih dan sendiri kah....
untuk luka amarah dan mati kah...

bisu terdiam karena aku menanya jawabku sendiri
mematung akur karena aku menjawab tanyaku sendiri

duhai Asal Muasal,
hapus hamba dari tunggakanMu,
bayar masaku sekarang saja

jakarta, tigabelas keempat di duaributiga, 03.50





Bayu Adhiwarsono ©

Jumat, 11 April 2003

SATU MASA DI PATAS AC

:kenangancimonehinggagerbangtolkebonjeruk


kacang, tisu, roko, akua, kolonyet...
kacang, tisu, roko, akua, kolonyet...

bang..., ada cinta ?
tak ada

bang..., ada tulus ?
habis

bang..., ada tawa ?
besok

bang, ada si dia ?
bekas

lalu apa kau jual, bang?
kacang, tisu, roko, akua, kolonyet...
cuman itu hanya itu, itu saja

kacang, tisu, roko, akua, kolonyet...
kacang, tisu, roko, akua, kolonyet...


jakarta, sebelas keempat di duaributiga, 09.15




Bayu Adhiwarsono ©
*Tulisan ini di-publish oleh Bayu Adhiwarsono,
dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta*

Sabtu, 05 April 2003

AIR MATA MASIH MENANGIS

air mata itu belumlah habis jua,
ketika hujaman peluru mengoyak mimpi bocah tak berinduk
merenggut tawa yang sempurna di senja tiba
mengubur bangkai sang ayahanda di pelukan persada
namun air mata itu belumlah habis jua

air mata itu belumlah kering,
saat keangkuhan imani masih menonggak damai
hanya untuk redakan angkara bergolak
yang menari diatas duka dan dendam
dan syahwat pun dipanggilnya Tuhan
namun air mata itu belumlah kering jua

air mata itu belumlah usai jua,
walau ketulusan kembali terjajah tirani
datang bawa mimpi buruk yang baru
yang bukan hitam pekathanya darah dan ketiadaan
namun air mata itu belumlah usai jua

air mata itu belumlah terseka jua,
kala cinta tak lagi bersinggasana
melata mencari mahkota berlumpurkan nista
teriakkan hymne keabadian beku menusuk menggigil
namun air mata itu belumlah terseka jua

:bush, untuksejumputnyawakaurenggut

air mata itu belumlah habis jua,
ketika hujaman peluru mengoyak mimpi bocah tak berinduk
merenggut tawa yang sempurna di senja tiba
mengubur bangkai sang ayahanda di pelukan persada
namun air mata itu belumlah habis jua

air mata itu belumlah kering,
saat keangkuhan imani masih menonggak damai
hanya untuk redakan angkara bergolak
yang menari diatas duka dan dendam
dan syahwat pun dipanggilnya Tuhan
namun air mata itu belumlah kering jua

air mata itu belumlah usai jua,
walau ketulusan kembali terjajah tirani
datang bawa mimpi buruk yang baru
yang bukan hitam pekathanya darah dan ketiadaan
namun air mata itu belumlah usai jua

air mata itu belumlah terseka jua,
kala cinta tak lagi bersinggasana
melata mencari mahkota berlumpurkan nista
teriakkan hymne keabadian beku menusuk menggigil
namun air mata itu belumlah terseka jua



jakarta, lima keempat di duaributiga, 02.05



Bayu Adhiwarsono ©