Minggu, 03 April 2016

MENULARKAN KEBAHAGIAAN (SEBUT SAJA NAMANYA CORUNDUM)

Sudah sejak lama salah satu teman di kantor yang biasa saya panggil Kang Jeppe, mengajak saya untuk gowes di sekitar kediamannya, di daerah Bekasi Timur.

Bicara soal gowes, Kang Jeppe ini boleh dibilang salah satu gurunya, tak hanya di lingkungan kantor tapi juga di lingkungan tempat tinggalnya. Memang, kami sering bercanda bahwa kalau soal sepeda kami berbeda "agama". Saya lebih suka bersepeda di jalan raya, sementara Kang Jeppe lebih suka berpetualang di medan berlumpur. Tapi, sepeda tetaplah sepeda kan?

Dan akhirnya awal April lalu saya kontak beliau (tentunya melalui sms, karena di jaman orang begitu sering berkomunikasi dengan WhatsApp atau BBM, beliau tetap keukeuh dengan fitur sms. So last years, Kang... Hehehehe) untuk sebuah janji, gowes bareng. Yang terlintas, saya bakal gowes dengan beberapa bapak-bapak, blusukan ke kampung, untuk sekedar menikmati susu jahe.

Menikmati pagi di istana Kang Jeppe
Perjalanan lebih dari 30 km dari kost saya menuju kediaman Kang Jeppe, sebetulnya sudah terbayar lunas ketika saya disuguhi beberapa potong pisang goreng, tempe, lontong, dan tentu saja teh manis hangat. Tapi ternyata bukan hanya itu yang saya dapat dari perjalanan kali ini.

Sekira 1 jam menikmati hidangan mewah dari Kang Jep dan nyonya, segerombolan anak usia belia datang menyerbu dengan sepedanya. Beberapa anak kalau gak salah sempat menukar sepedanya dengan sepedang terparkir rapi di workshop Kang Jep. Ternyata oh ternyata, mereka lah yang bakal teman saya gowes.

"Jangan lupa buku tulis sama pensil sama alat tulisnya. Lihat ada apa aja ya di jalan. Nanti pas warung engkong, langsung tulis. Trus liatin ke Om Bayu. Om Bayu kan scriptwriter", wanti-wanti Kang Jep pada 6 anak yang sudah siap gowes itu.

Wah, jadi dapat tugas tambahan nih. Saya kok disuruh ngangon bocah :)


Berasa ngawal putra cikal saya, M. Hideyoshi 'Abdul 'Aziz Adhiwarsono
Berpetualang sambil belajar
Gowes kalau gak foto itu ya....percuma :)
"Ah, palingan lewat jalan kampung biasa. Masih bisa dilewatin dengan mudah lah sama Si Keong", pikir saya.

Ternyata salah besar :)

Sebagian besar jalanan memang aspal, atau setidaknya tanah kering berbatu. Tapi sebagian kecil lagi ternyata tanah lembek, yang benar-benar membuat saya kerepotan mengendalikan Si Keong yang menggunakan ban United Oshaka 26x1,50 berprofil road. Beberapa kali saya harus kerja keras agar tak terjerembab, sementara Kang Jep dan 6 petualang kecil terus melaju nyaris tanpa rintangan.

Di tanjakan ini, cuma 3 anak lelaki saja yang dengan penuh tawa bisa lewat tanpa harus turun dari sepeda. Kalian GILA ! :)
Setelah melakukan perjalanan kurang lebih 1 jam, akhirnya kami sampai di Warung Engkong. Hidangan susu jahe sudah lebih dari cukup buat saya. Ditemani obrolan soal sepeda di bawah pohon rindang, memandangi deretan sepeda, susu jahe jadi terasa jauh lebih nikmat.

Si Keong ngos-ngosan lewat lumpur
United Patrol, sang Road Captain.
Di Warung Engkong ini saya juga sempat diminta kasih nilai tulisan teman gowes saya :). Luar biasa, berpetualang tanpa mencurahkannya dalam tulisan, memang membuat semuanya nyaris percuma. Tulsian yang mereka buat mungkin terkesan sederhana. Tapi mereka menulisnya DENGAN HATI. Seberapa sering kita yang jauh lebih tua dan mengaku sebagai wartawan, masih menulis dengan hati dan tanpa embel-embel materi ?

Tandas 1 gelas susu jahe, perjalanan pun kami lanjutkan, kembali ke kediaman Kang Jep. Saya pikir, ambil nafas dulu lah sebentar, baru pulang ke kost saya di Utan Kayu.

Tapi berhubung sang tuan rumah terus menahan, saya pun akhirnya tinggal lebih lama dari perkiraan saya. Dan tentunya tidak sia-sia.

Setelah diajak berpetualang, Kang Jep ternyata menyematkan beberapa oleh-oleh di tubuh Si Keong. Shock Suntour XCM, Brifter, kaliper rem belakang, jadi 3 senjata baru yang bakal menemani saya dan Si Keong berpetualang di jalan raya.

"Cicing ulah protes". Kalau gurunya sudah bilang begitu, saya bisa apa?
Pembedahan Si Keong
Matahari makin condong ke Barat, saya pun akhirnya pamit pulang. Senjata yang baru menempel di Si Keong, membuat saya makin semangat gowes, walau jarak lebih dari 35 km harus saya lalui sebelum saya bisa mulai beristirahat lagi.

Tapi sepanjang perjalanan justru banyak hal lain yang melintas di kepala saya. Yang paling luar biasa menyegarkan, tentu pengalaman gowes dengan petualang-petualang kecil dari Corundum itu. Dari mereka saya belajar, bahwa hidup adalah berpetualang dan belajar.

Terima kasih Corundum untuk kebahagiaan yang telah kalian tularkan.

Sampai ketemu di petualangan berikutnya.

Catatan:
Berdasarkan perhitungan terakhir di sini, saat itu nilaia Si Keong sudah mencapai Rp. 2.490.000.
Tambahan oleh-oleh dari Corundum (anpa bermaksud menilainya dengan rupiah), membuat nilai Si Keong saya perkirakan menjadi Rp. 3.490.000.







Bayu Adhiwarsono©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar