Minggu, 21 Agustus 2005

SUDAH LAMA

sekian lama kata-kata hilang dari ujung jemarikudan kala ku kembali disini
aku hampir lupa bagaimana

nikmatnya memaki
lepasnya menangis

leganya meronta

ku tak ingin semua yang dulu pernah singgah
tak pernah kembalitapi salahkah
bila kini aku memilih tertawa bersama rembulanku saja

bila kini aku memilih berkata-kata dengan pelitaku saja

bila kini aku memilih menghitung waktuku tidak tanpa mereka

jangan lalu kau bilang aku tak seindah dulu lagi
atau tak sepuitis dulu lagi demi pelita dan rembulan yang kini temani ku menjejak bumi


jakarta, duapuluhsatu kedelapan di duaribulima, 23.01


Selasa, 08 Februari 2005

WAKTU KAU TAK ADA

:Alsi Nurkhalisah, kaladirimujauhduhaiistrikuterkasih

semuanya seperti bergerak dan terjadi begitu cepat,
sementara aku sendiri merasa berjalan mundur,

hingga tak ada satu hal pun

yang menjadi seetidaknya sedikit masuk akal

padahal hampir tak ada yang baru beberapa hari belakangan ini
masih seperti kemarin,

kalau kata sebuah lagu
laparku, marahku, tangisku,
kenyangku, senyumku, tawaku,

dan diantaranya, gundahku, gelisahku

kecuali dirimuya...
hadirmu yang saat ini tak ada

seperti percikan api yang terjatuh di lautan jerami kering

membakar dan menghulangkan semuanya,

semua rasaku

tapi jika kubilang rasa,
kupikir tak juga sepenuhnya benar,

karena masih ada yang tersisa,

bahkan mungkin semuanya kecuali wujud dirimu


jakarta, delapan kedua di duaribulima, 06.30