Minggu, 29 Juni 2003

JERITAN DI UJUNG BARAT SERAMBI RUMAHKU

peluru itu tak bertuan !

memang, aku selimuti serbuk mesiu itu dengan timahku sendiri,
jujur, ku biarkan mataku membidiknya,
sungguh, jemariku lah yang menarik pelatuknya,
sumpah mati, di telingaku tembakan itu membisik untuk yang pertama kalinya

tapi Tuhan,
peluru itu tak bertuan !

aku hanya menginginkan dia terdiam,
bukan mati sisa tulang di kubur massal,

aku hanya merindu jadi tirani baginya,
bukan ingin membelenggunya di bawah lars-ku,

tapi Tuhan,
peluru itu tak bertuan !

menembus tengkorak masih berkulit,
mengoyak dada menghitung detik,
merobek bahu gendong sang ibunda,
merajam jemari belai mimpiku,
meregang satu jiwa tersisa,

demi peluru,
yang tak bertuan !

demi peluru,
yang berjinjit dari ujung senapan ku !

demi aku,
yang dia bilang berTuhan !


jakarta, duapuluhsembilan keenam di duaributiga, 13.35




Bayu Adhiwarsono ©
*Tulisan ini di-publish oleh Bayu Adhiwarsono,
dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta*

Rabu, 25 Juni 2003

TANPA SYAIR

malam pergi musim hujan windu kemarin
mengajak mimpi terbang di warsa lalu
menggenggam setampuk masa terbawa serta
beralaskan sepatu kasih biru merona,
ditujunya mata angin kedelapan
hari nanti jelang

pagi belum juga tiba
walau langsir usai terbebani asa
dan air mata kupenggal dari penantianku
biarkan amarah gantikannya
hingga kukecup rinduku
hari nanti jelang

kantuk ?
satu lagi yang tak kukenal
selain kau

terjaga ?
satu lagi yang selalu kucumbu
selain kau

dan kudengar bisik itu lagi,
cinta dimulai tengah hari hingga senja

ya,
hari nanti jelang

jakarta, duapuluhlima keenam di duaributiga, 05.00





Bayu Adhiwarsono ©

Jumat, 13 Juni 2003

JADAH !

anak bangsa ini berlari mencari ibundanya,
mereka bilang namanya “PERTIWI”

anak negeri ini berteriak merindu ayahandanya,
mereka bilang gelarnya “ABDI BUKAN SAHAYA”

sejak senja hingga senja,
dilupakan, dilupakan,dilupakan

dari pagi sampai pagi,
disia-siakan, disia-siakan, disia-siakan

jenuh merengkuh
amarah terberai

tertera di peta tanpa mata angin
terlukis di kanvas tiada warna
terbentang di permadani tak hampar

anak bangsa,
anak negeri,
dia tulis sendiri namanya di nisan tak bertiang


jakarta, tigabelas keenam di duaributiga, 00.45




Bayu Adhiwarsono ©
*Tulisan ini di-publish oleh Bayu Adhiwarsono,
dan dilindungi oleh Undang-Undang Hak Cipta*