Senin, 30 Mei 2016

NEW SADLE, SEATPOST, HUB, AND SPOKE

* Sebuah catatan singkat saja. Demi runutnya perjalanan Si Keong, apalagi sepertinya sepeda kesayangan ini suatu saat bakal diturunkan ke si cikal, Muhammad Hideyoshi 'Abdul 'Aziz Adhiwarsono. 

Kemarin sore, saya tekadkan untuk menambah racun yang menempel di Si Keong. Banyak yang ingin saya tebus, mulai dari sadel baru, hingga cyclometer. Tapi toh semuanya harus ada rem. Jangan sampai nafsu upgrade bikin dapur gak ngebul :)

Seperti biasa, saya arahkan sepeda ke Acin Bike Corner, langganan saya untuk urusan sepeda.

Daftar pertama yang langsung saya eksekusi, adalah Hub model Quick Release. Buat saya ini penting, karena beberapa kali saya agak kerepotan untuk bongkar-bongkar Si Keong ketika masih menggunakan Hub bawaan pabrik. Demi hasil sempurna, saya juga minta ganti spoke. Sekalian saya minta yang warna keemasan, untuk menyesuaikan dengan corak pannier. Demi menekan budget, saya hindari mengganti sproket ulir yang sebelumnya sudah terpasang.

Hub United 36H with golden spoke
Menu berikutnya adalah sadel. Ya, sadel lama Si Keong memang sudah waktunya ganti. Selain karena sudah mulai sobek di bagian belakang, sadel yang masih bawaan pabrik itu sudah terlalu lama saya "siksa". 

Pilihan jatuh pada DDK Speedline dengan chromoly rail , yang juga memiliki garis corak kuning keemasan. Salah satu lapak online-nya ada di sini

Dan demi alasan kepatutan, seatpost lama yang sudah berkarat pun saya ganti dengan Uno alloy 25,5 mm.

DDK Speedline
Si Keong habis nyalon
Seperti kebiasaan buruk saya sebelum-sebelumnya, saya lupa menyimpan nota belanja episode ini. Yang saya ingat, total saya harus membayar Rp. 725.000. Totalnya saya ingat, karena tak sengaja menemukan struk debit di dompet saya :)

So, jika mau niat hitung-hitungan, nilai Si Kukut sekarang sudah melambung jauh dari nilai pertama ketika beli dulu.  

Ini + Ini + Ini + Ini + Ini                    = Rp. 4.265.000
Hub + Spoke + Sadle + Seatpost       = Rp.    725.000
                                                  _______________ +
Nilai terbaru Si Keong                       = Rp. 4.990.000

Apaaaaaa ???? Sudah hampir 5x lipat ????
Mudah-mudahan istri tercinta gak pernah buka blog ini.











Bayu Adhiwarsono©

Selasa, 17 Mei 2016

MENULARKAN KEBAHAGIAAN (PAK JONI DAN SEPEDA FUJI)

Di salah satu forum sepeda yang saya ikuti, Cycling-ID, ada salah satu thread unik. Bukan thread jual beli, yang memang selalu ada di forum manapun. Tapi thread untuk menghibahkan barang yang tak terpakai. Ada beberapa ketentuan yang harus dipenuhi, untuk bisa memboyong barang-barang hibah di thread tersebut. Silakan mampir ke sana untuk rekan-rekan yang penasaran. Kalau anda punya keberuntungan besar, sepertinya bisa lho membangun sepeda berbekal hunting di thread ini. 
Thread barang hibah seperti itu sepertinya belum pernah saya temui di forum komunitas non-sepeda. Entah di komunitas roda dua ataupun roda empat. Atau memang sebetulnya ada, tapi saya yang kurang melek informasi.

Menularkan kebahagiaan, saya percaya itu salah satu alasan disediakannya thread itu. Masih ingat tulisan saya di sini? Saya yakin alasannya serupa.

Nah, beberapa waktu lalu saya kembali merasakan kebahagiaan yang ditularkan itu. Sore itu, saya mampir ke Acin Bike Corner untuk stel FD+RD, rem depan, sekalian mau beli celana padding. Dan seperti rutinitas menunggu di bengkel, obrolan hangat sesama goweser pun terjadi. Kala itu, yang jadi teman ngobrol saya adalah Pak Joni. Pria berusia 74 tahun (kalau tak salah), yang datang dengan sepeda Fuji jadulnya. Bukan sembarang sepeda jadul, saya yakin. Karena di sepedanya saya lihat terpasang lengkap semua asesoris yang dibutuhkan untuk gowes sehari-hari maupun untuk keperluan touring.

Ngobrol ngalor-ngidul, mulai dari rute gowes sehari-hari, sampai pengalaman beliau selama bekerja sebagai konsultan di hutan pedalaman Kalimantan.

Sempat terselip celetukannya ketika melihat Si Keong, "Maaf aja nih. Saya gak kebayang anda sepedahan gak pake fender. Ngeri kalau pas ada genangan yang ada bangkai tikusnya aja sih, nyiprat ke punggung kita. Apalagi jalur ke pulogadung, aduh......gak kebayang saya".

Saya cuma nyengir kuda. Pertama karena berulang kali beliau memanggil saya dengan "anda" atau "Bayu", kedua soal kecipratan bangkai tikus. Jujur saja, selama ini soal itu tak pernah sedikit pun terlintas di benak saya. Satu-satunya yang jadi alasan saya ingin memasang fender di sepeda saya, lebih karena malas kecipratan air dan lumpur saja, ketika harus gowes huhujanan. Tapi mendengar celotehan beliau, saya jadi lumayan ngeri juga. Tikus, bray !!! Nempel di punggung kita??? Beuh....

Mungkin beliau menangkap pikiran saya. Atau mungkin beliau memang pada dasarnya orang baik.

"Bayu, coba minta nomor telepon anda. Kalau tak salah saya masih ada 2 fender belakang dan 1 fender buat depan di rumah. Nanti kapan-kapan saya cari", tiba-tiba beliau mengagetkan saya dari lamunan soal tikus.

Setelah bertukar nomor telepon, beliau segera pamit. Buru-buru.

5 menit......

10 menit....

dan saya masih betah nongkrong di Bengkel Acin. Selain cuaca yang lumayan panas, melihat berbagai kesibukan di bengkel ini membuat saya melupakan soal si tikus. Mulai dari mereka yang sekedar minta dibetulin rem-nya, hingga suka cita anak kecil yang dibawa kedua orang tuanya demi sebuah sepeda baru.

Sekira 20 menit kemudian, mendadak ada telepon masuk.

Pak Joni? Ada apa nih, baru tadi pamit kok udah nelepon lagi?

"Bayu, ternyata masih ada", teriaknya. Ada kegembiraan di suaranya.

"Apanya, Pak?"

"Itu, fender untuk anda. Kapan kita bisa ketemu?", sekarang suara tuanya terdengar antusias luar biasa.

Agak tak enak hati. Jadi tadi beliau buru-buru pamit pulang demi mencari fender yang beliau janjikan untuk saya. Beliau mengnggapnya hutang, saya menganggapnya sebagai basa-basi. Ada yang salah dengan saya.

"Duh, maaf nih Pak. Saya besok rencananya mau pulang dulu ke Bandung. Insya Allah saya balik Jakarta Senin. Selasa atau Rabu gimana?", dengan kurang ajarnya saya malah menunda pertemuan. Selain memang harus pulang ke Bandung, saya juga memang belum ada dana untuk menebus fender yang beliau janjikan untuk saya. Semuah-murahnya, saya perkirakan beliau bakal jual fendernya sekitar 100 sampai 200 ribu rupiah.

"Anda masih di situ? Di Acin?", sekarang nadanya sedikit mendesak.

Sambil berpikir keras bagaimana cara menolaknya secara halus, "Masih sih, Pak. Mungkin sebentar lagi saya mau gowes lagi". 

"Ya sudah. Anda tunggu dulu di situ. Saya sekarang ke sana". Dan mendadan telepon itu terputus.

Sementara saya berpikir, ini orang tua kok ya ngeyel banget pengen ketemu. Beliau bilang rumahnya di sekitar Jalan Otista, sementara Acin Bike Corner alias Bengkel Sepeda Acin ada di Cipinang Muara I. Mungkin beliau pikir, lumayan.....barang yang teronggok di garasi bisa jadi duit. Sial, memang ada yang salah dengan diri saya. Suudzon kok ya gak kelar-kelar.

Tak sampai 20 menit beliau muncul dengan sepeda Fuji-nya. 3 buah fender saya lihat dililitkan di pundaknya.

"Orang tua gila!", saya pikir.

"Ini, Bayu. Tinggal anda sambung yang 2 fender untuk di belakang. Biar makin panjang", nyaris tak menunda di antara nafasnya yang baru saja gowes di tengah cuaca terik.

Saya terima, timang-timang, berpikir keras gimana enaknya cara bayarnya, "Jadi berapa nih, Pak?". Nekat saya beranikan diri bertanya.

"Ah....gak. Itu untuk anda. Ambil aja, daripada mubadzir di garasi saya".

Wah.....ternyata beliau memberikan fender itu secara cuma-cuma. Gowes bolak balik Cipinang Muara - Otista, "cuma" demi memberikan fender gratisan???

Ngangkut fender hibah

Sempat mengobrol lagi dengan beliau, tapi tak lama. Karena jujur saya sudah tak sabar untuk menuntaskan amanah beliau, yang dititipkannya dalam bentuk fender. Sesampainya di kost, saya langsung ngulik.

Dan inilah hasilnya.....

Tanpa menunggu lama, langsung terpasang
Tampak belakang
Si Keong siap gowes dalam segala cuaca
Sekali lagi, terima kasih Pak Joni. Saya percaya betul, tujuan pemberian itu tak lebih dari "MENULARKAN KEBAHAGIAAN". Dan tujuan anda tercapai, Pak. Have a wonderful ride with your Fuji, sir.




Bayu Adhiwarsono©