Sabtu, 12 Maret 2011

LELUCON

mengaku sebagai orang paling ahli,
tak cuma satu ilmu
tapi nyaris semua
yang lain adalah sampah
berteriak lantang
walau sebetulnya bukan mencari menang
inikah sebuah lelucon ?

di sudut lain ratusan orang saling teriak,
mengandalkan jas dan dasi
menyembunyikan rakus dibalik suara lantang
yang cuma mencari menang
bukan untuk perut-perut yang menanti kenyang
atau ini namanya lelucon ?

cerita lain ada di lapangan,
yang sejatinya menawarkan bukan hanya soal menang
bukan pula soal mengapa tak menang
karena keadilan adalah bendera,
yang sejak awal dikibarkan
tapi semua berteriak
merasa paling punya hak menang
mungkinkah ini termasuk lelucon ?


jakarta, duabelas ketiga di duaribusebelas, 22.00



Bayu Adhiwarsono©

Jumat, 10 Desember 2010

MELAWAN !!!

Iwan Fals (tak perlu dijelaskan siapa dia kan ?) pernah berkata dalam sebuah lagunya,  

"Cepatlah besar matahariku, menangis yang keras jangan lah ragu. 
Tonjok lah congkaknya dunia, buah hatiku. Doa kami di nadimu !"

Dari sekian panjang lirik di lagu berjudul Galang Rambu Anarki (nama ini pun tak perlu dijelaskan siapa kan ?), tiga kalimat di atas setidaknya bisa menjadi nafas lagu itu secara keseluruhan.

Sama sekali tidak ada yang salah dalam rentetan kalimat itu, jadi bukan karena itu tulisan ini tertumpah juga. Justru kepadatan maksud yang tersirat maupun tersurat dari bait demi bait di lagu itu, yang membuat saya "terperanjat". Terperanjat, karena ternyata harapan kita sebagai orang tua yang begitu melimpah ruah pada anak-anak kita, bisa diutarakan dengan sedemikian singkatnya. Terwakilkan dengan sempurna, nyaris tanpa cela.

Dunia memang congkak.

Kemunafikan, penindasan, keangkuhan, materialistis, jadi warna dunia yang makin lama makin membusuk. Dan masa ketika anak kita mulai beranjak menemui dunia nyata, tak ayal adalah masa ketika dunia ini makin membusuk, jauh lebih busuk dari dunia yang kita jalani sekarang ini.

Tergerus, terjerumus, hanyut, dan lalu terpuruk oleh pergerakan jaman, jelas bukan jadi pilihan yang ingin kita sodorkan pada anak-anak kita. Dan berdiam diri, tentunya bukan sikap yang bisa pula jadi pilihan.

Melawan !!!

Melawan lah dengan segala yang kau punya !

Dunia dan segenap isinya boleh makin membusuk, tapi tidak dengan anak-anak kita.




*Inspired by: Galang Rambu Anarki, a song by Iwan Fals

Bayu Adhiwarsono©

Kamis, 09 Desember 2010

MERASA KAYA KARENA MISKIN

*la·cur a 1 malang; celaka; sial; 2 buruk laku;
         me·la·cur v berbuat lacur; menjual diri (sbg tunasusila atau pelacur);
         me·la·cur·kan v membuat jadi pelacur: ~ diri, menjual diri;
         pe·la·cur n perempuan yg melacur; wanita tunasusila; sundal;
         pe·la·cur·an n perihal menjual diri sbg pelacur; persundalan;
         ~ ilmiah penyelewengan yg terdapat pd dunia ilmu pengetahuan;
         ~ keagamaan persetubuhan yg dilakukan dl rangka upacara ritual yg keramat

*sun·dal 1 a buruk kelakuan (tt perempuan); lacur; jalang; 2 n perempuan jalang; pelacur;
               ber·sun·dal v menyundal
               me·nyun·dal v menjadi sundal (pelacur dsb);
               per·sun·dal·an n perihal bersundal (menyundal); pelacuran


Itulah arti dua kata dasar di atas, yang saya temukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia. Satu benang merah yang saya temukan dari keduanya, adalah "menjual diri". Tidak ada keterangan tambahan, apa yang sebetulnya disebut sebagai "menjual diri" dalam pengertian sundal dan lacur di atas.

Lalu apa bedanya, antara para pelacur (bahasa populernya wanita tuna susila atau pekerja seks komersil), dengan para (sebagian ?) jahanam yang melacurkan diri di dalam gedung parlemen atau bahkan istana negara ? Lalu apa bedanya pula mereka, dengan para perempuan atau lelaki yang memilih bertahan dengan pasangannya, karena alasan materi (baik sebagai satu-satunya alasan, maupun alasan sampingan) ?

Yang pasti, persamaan diantara mereka adalah sama-sama membiarkan diri mereka diperbudak oleh materi. Alias INGIN KAYA ?

Padahal, bukankah lebih baik merasa kaya karena miskin, daripada merasa kaya karena kaya atau bahkan merasa miskin karena kaya ?  

The world is never enough anyway.





*Sumber: Kamus Besar Bahasa Indonesia

Bayu Adhiwarsono©

Minggu, 19 September 2010

KAU, MEMBUSUKLAH !

pernah aku mempertanyakan mana musuh yang harus kusudahi nafasnya ?
pernah kau lihat aku ragu mengambil langkah seperti titahmu ?
atau pernah kau dengar aku kembali tanpa potongan telinga yang kukuliti ?

lalu
kemarin kau bilang aku tak ikut berperang
seperti kau
seperti para jenderalmu yang lantang berteriak dari balik meja
seperti meriam yang gegap gempita melelehkan baja
seperti petir yang tanpa kau komando menyambar tenda-tenda musuh

lalu
kemarin kau palingkan muka
menjauhkan sapa
dan membakar tanda pangkatku
di belakang punggung hina ku

salah bila
aku mengutukmu hingga terhancurkan masa
dan tenggelam di tengah buih ludahmu sendiri ?

dan ketika hari suci mu tiba,
ku harap kau masih layak disucikan
hingga tak basi lalu terbuang


jakarta, sembilanbelas kesembilan di duaribusepuluh, 22.05


Bayu Adhiwarsono©

Sabtu, 18 September 2010

TERIMA KASIH, TUAN !

kau boleh berkata semaumu,
berteriak sesukamu,
menghantam sekeras mungkin,
memaki selantang apa pun,
lalu pergi

kau boleh menginjak,
meludah,
menghinakan,
lalu pergi

tapi tolong ku pinjam telingamu,
bukan untuk mendengarku bicara karena itu tak guna

dengarkan saja tepuk tangan gegap gempita
juga siulan nyaring
semuanya bukan untuk mengejek Tuan

itu tanda kagum kami,
betapa manusia sepertimu masih layak disebut manusia

terima kasih


 jakarta, delapanbelas kesembilan di duaribusepuluh, 21.09

Bayu Adhiwarsono©