Senin, 20 Juni 2016

RAMADHAN RIDE : DIVERSITY


Sebagian jama'ah tengah menunaikan Shalat Ashar di Masjid Istiqlal
Setelah mengunjungi Masjid Agung Sunda Kelapa sehari sebelumnya, di hari ketiga Ramadhan tahun ini saya memilih Masjid Istiqlal sebagai tujuan Ramadhan Ride #GowesToMosque.
Sebagian orang mungkin bilang, "Kenapa bukan ke Istiqlal dulu?". 
Atau justru, "Ah, semua aja pengen ke Istiqlal. Gak ada Masjid laen apa?".

Jadi kieu mang, ijinkan saya menjawab 1 pertanyaan itu sekaligus.


Pertama, urang nu ngaboseh sapedana. Keun we atuh kumaha urang, maenya kumaha batur. Perjalanan saya bersama Si Keong ini memang sejak awal saya niatkan sebagai Ramadhan Ride #GowesToMosque, bersepeda mengunjungi beberapa Masjid selama bulan Ramadhan. Pertama kali dalah hidup saya, dan bukan sebagai upaya napak tilas perjalanan apa pun.

Istiqlal? Kenapa tidak? Masa seumur hidup saya baru 2 kali mampir shalat di Masjid yang katanya terbesar se-Asia Tenggara itu. Itu pun bukan sengaja, alias sambil lewat.

Selain itu, tak ada target khusus saya pasang untuk Ramadhan Ride #GowesToMosque perdana ini. Random kalau bahasa kekiniannya. Yang pasti, harus bisa tetap terjangkau dengan bersepeda dalam keadaan berpuasa. Dan itu ukurannya saya perkirakan sekitar 10-15 km. Di atas itu sepertinya saya bakal butuh usaha ekstra untuk menahan dahaga. Ampun ah ari kedah kitu-kitu teuing mah.

Kembali ke urusan rencana saya bersepeda ke Masjid Istiqlal. Seperti hari sebelumnya, saya pun memutuskan untuk pulang dulu ke kost, seusai kajian ba'da Dhuhur di Masjid tvOne. 

Kajian ba'da Dhuhur di Masjid tvOne
Ba'da ashar baru saya mengayuh Si Keong menuju Masjid Istiqlal melalui gerbang sisi timur laut yang berada tepat di seberang Gereja Katedral Jakarta. Ya, seperti yang kita tahu, lokasi Masjid Istiqlal memang berseberangan dengan Gereja Katedral Jakarta. Ini pula yang menjadi salah satu simbol betapa eratnya Masjid Istiqlal dengan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, selain fakta bahwa Masjid ini dirancang oleh seorang Protestan bernama Frederich Silaban.

Sepanjang yang saya perhatikan, Masjid ini juga tak punya lahan khusus untuk parkir sepeda. Sayang sekali. Padahal Masjid Istiqlal bukan hanya berstatus sebagai tempat ibadah kaum muslimin, tapi juga sudah menjadi salah satu objek wisata bagi turis lokal maupun mancanegara. Menyandang setidaknya 2 status itu, memiliki tempat parkir sepeda seharusnya sudah jadi sebuah keniscayaan di era sekarang ini.

Dan seperti pengalaman sebelumnya ketika saya #GowesToMosque episode pertama ke Masjid Agung Sunda Kelapa, kali ini saya juga diarahkan untuk memarkir sepeda saya di dekat gardu parkir. Masuk akal, karena di lokasi seperti inilah biasanya pengamanan terpusatkan sengaja ataupun tidak.

Melipir di pojokan gardu parkir (lagi)
Dari parkiran, saya dengan mudah menemukan jalan masuk Masjid melalui Pintu Al-Fattah, yang dengan mudah langsung mengarahkan siapa pun jama'ah yang masuk menuju tempat wudhu.

Suasana di dalam Masjid Istiqlal
Terdengar pengumuman dari pengurus Masjid, "Bagi para jama'ah yang ingin ikut berbuka bersama di Masjid Istiqlal, kami persilakan untuk mengambil wudhu dan langsung menuju lantai 2". Berulang kali.

Itu juga yang saya lakukan. Berwudhu, menuju lantai 2, masuk ruang ibadah utama, melakukan shalat sunnah 2 rakaa'at, dan lalu beri'tikaf. Membaca beberapa ayat-ayat suci Al Qur'an, sambil sesekali menjawab pesan singkat dari istri tercinta, dan di sela-selanya saya tak lupa mengagumi Masjid ini.

Asma Allah masih terasa begitu diagungkan di sini. Seperti di manapun bumi dipijak, terutama di dalam Masjid tentunya. Tapi ada yang berbeda.

Di atas karpet merah tempat para ma'mum seringkali diimami Imam-imam besar, menghadap mihrab tempat ulama-ulama besar di Indonesia pernah berdiri, lalu melemparkan pandangan pada segenap sudut Masjid yang begitu luas dan megah, saya merasa makin kecil. Kecil di hadapan Allah SWT, kecil di antara entah berapa juta jama'ah yang pernah beribadah di sini, dan merasa kecil di antara sekian banyak perbedaan yang ada di muka bumi milik Allah ini. Masjid ini seakan berdiri dan berkata pada siapapun, "Islam diciptakan sebagai rahmatan lil 'alamin". Nyaris siapapun bisa masuk ke Masjid ini tanpa rasa minder. Mulai dari kaum paling papa hingga para raja, bahkan orang gila sekali pun. 

KULAAAAN ??? NU GELOOO ???

Ya, ketika saya tengah duduk di bagian tengah Masjid, ada seseorang yang mondar mandir di selasar sebelah utara sambil mengacung-acungkan jarinya seakan tengah memberi ceramah atau kajian pada jama'ah. Padahal saya perhatikan tak ada siapa pun di sekitarnya, dan bahkan orang ini pun sama sekali tak mengeluarkan suara. Hanya terlihat mulutnya terus komat kamit.

Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, yang artinya sesaat lagi akan tiba waktu berbuka. Tapi kok jama'ah di dalam makin sepi? Dan seperti tak ada pergerakan dari siapa pun untuk bersiap berbuka. Tak terlihat juga pengurus Masjid membagikan hidangan berbuka, seperti yang saya alami di Masjid Agung Sunda Kelapa.

"Kalau gini caranya, saya harus cari buat berbuka ke luar Masjid nih...", sambil  saya langkahkan kaki ke luar.

Tapi baru saja sampai selasar Masjid, saya melihat sudah banyak orang yang duduk dengan rapi masing-masing menghadap 1 nasi kotak dan 1 botol air mineral. Hadeuh.....jadi selama ini mereka sudah pada anteng di sini. Pantesan di dalam makin sepi. Naaaa....ari urang ngadon diuk we di jero.

Tampang lapar semua :))
Setelah saya ikut mengatur barisan, eh.... duduk berbaris, terus terang saya sedikit kaget. Karena dengan setting-an seperti ini, bisa jadi jama'ah bakal "diarahkan" untuk langsung menyantap hidangan berat begitu azan dikumandangkan. Padahal sejak menikah, saya nyaris tak terbiasa lagi langsung berbuka dengan hidangan berat.

"Allahu Akbar....Allahu Akbar..."

Betul saja. Begitu muazin melafalkan takbir membuka azan, panitia langsung mempersilakan jama'ah untuk mulai berbuka, dan langsung berwudhu jika sudah selesai menyantap hidangannya untuk kemudian segera memasuki Masjid dan melakukan shalat Maghrib berjama'ah.

Alhasil, seketika itu terjadilah lomba menyantap nasi kotak dan segenap isinya :))

Nyam....nyam....glek....glek....nyam lagi....(snsor karena tulisan ini dibuat ketika waktu shaum)

Menurut informasi yang saya dapat, setiap harinya Masjid Istiqlal kedatangan hampir 4 ribu jama'ah untuk ikut buka bersama. Alhamdulillah, nyaris tak pernah surut pula donatur yang menyumbang berbagai hidangan unyuk menu berbuka. Seperti hari itu, ketika saya ikut di dalamnya. Hari itu, donatur terbesar datang dari Kedutaan Uni Emirat Arab.

Selesai menyantap hidangan, jama'ah pun segera merapatkan shaf untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib. Jeda sesaat, lalu dilanjutkan dengan shalat tarawih yang terbagi ke dalam 2 sesi.

Ini yang unik di Masjid Istiqlal. Selain adanya pembacaan ayat-ayat suci Al Qur'an (hari itu dibacakan oleh salah seorang Juara MTQ Tingkat Nasional, dan Juara 3 - mudah-mudahan saya tak salah ingat - MTQ Tingkat Internasional), ada 2 sesi shalat tarawih. Yang pertama adalah untuk mereka yang memilih 11 raka'at. Dipotong dengan shalat witir 3 raka’at, lalu dilanjutkan lagi dengan sesi kedua shalat tarawih untuk mereka yang biasa memilih 23 raka’at.

Itulah secuil kisah saya #GowesToMosque di episode Masjid Istiqlal.

Masih banyak Masjid yang tak kalah menarik. Sampai bersua di coretan saya berikutnya.






Bayu Adhiwarsono©

Rabu, 15 Juni 2016

RAMADHAN RIDE : THE BEGINNING

Kajian Ba'da Dhuhur di Masjid tvOne
Alhamdulillah,

Allah masih memberikan saya kesempatan untuk kembali bersua dengan Ramadhan, bulan yang selalu dinanti-nanti kaum muslimin. Setelah melalui hari pertama di bulan Ramadhan tahun ini bersama keluarga, memasuki hari kedua saya mulai menjalaninya di ibukota. 
Dan Ramadhan tahun ini saya punya satu niat, yaitu ziarah ke berbagai Masjid di Jakarta dengan menggunakan sepeda. Ya, sepeda. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui. Lagian, Ramadhan bukan berarti kita harus bermalas-malasan kan? Ibadah makin giat, olahraga juga bisa terus dilakoni. Dan ziarah dengan dengan menggunakan sepeda adalah bentuk kompromi terhadap kebutuhan rohani dan jasmani saya.

Pilihan pertama jatuh pada Masjid Agung Sunda Kelapa. 
 
Sumber: http://simas.kemenag.go.id/index.php/profil/masjid/23/#prettyPhoto

Mengapa Masjid Agung Sunda Kelapa?

Bagi saya, Masjid yang satu ini punya magnet khusus karena walau letaknya di wilayah Jakarta Pusat, berada di tengah-tengah kawasan elit bahkan bertetangga dengan rumah kediaman pribadi Jusuf Kalla, tapi entah kenapa saya belum pernah sama sekali menginjakkan kaki ke Masjid Agung Sunda Kelapa. Saya hanya pernah 1 kali mengantarkan mertua saya menghadiri undangan penikahan di sini, tapi itu pun hanya sampai parkiran di luar Gerbang Utama Masjid.

Padahal, menilik sejarah yang tercantum di sini, Masjid Agung Sunda Kelapa sudah sejak lama menjadi tujuan rutin para pemburu kajian. Tak hanya dari warga yang berdomisili di Jakarta, tapi juga dari daerah, dan bahkan luar negeri. 
Awal mula berdirinya masjid ini merupakan cita-cita warga muslim Menteng yang tinggal di sekitar Taman Sunda Kelapa sejak tahun 1951. ketika itu Bapak H. B. R. Motik dan tetangganya, Bapak Subhan ZE (Alm.) mencoba mengungkapkan keinginannya untuk mendirikan masjid di wilayah itu kepada  Walikota. Namun, keinginan itu ditolak mentah-mentah oleh Walikota dengan mengatakan, “Wat! Een Moskee in Taman Sunda Kelapa? Neen, dat ontsiert de stad.” Sehingga terpaksa keinginan itu dipendam untuk beberapa tahun lamanya. 
Upaya mendirikan masjid dilanjutkan pada tahun 1966. Ketika itu Bapak H. B. R. Motik dan Bapak H. Machmud merapatkan barisan, dengan membentuk panitia pembangunan masjid. Akhirnya, pada bulan Agustus tahun 1966 dibentuklah panitia yang terdiri dari beberapa orang, yaitu: H. B. R. Motik (Ketua), H. M. L. Latjuba (Wakil Ketua), Hasjim Mahdan, SH (Sekretaris I), H. Tachyar Bc. Hk. (Sekretaris II), H. Machmud (Bendahara I), H. Darwis Tamin (Bendahara II), H. A. H. Djunaedi (Pembantu Umum).
Usaha mendirikan masjid saat itu nampaknya mendapat “lampu hijau” dari Pejabat tinggi DKI, yakni dari Gubernur DKI Jakarta, yang waktu itu dijabat oleh H. Ali Sadikin dan Pangdam V Jaya H. Amir Machmud.     Atas dorongan dan persetujuan kedua petinggi DKI Jakarta dan tokoh nasional lainnya, seperti Jenderal Abdul Haris Nasution, selanjutnya menjadikan panitia pembangunan masjid lebih mantap lagi dalam memperjuangkan dibangunnya sebuah masjid, terlebih setelah dibentuknya Yayasan Islam Sunda Kelapa (YISK) pada tanggal 7 Oktober 1966 dengan Akte Notaris Bapak Affandi SH. Berdasarkan Anggaran Dasar Yayasan pasal 5 ayat 5, pasal 9 ayat 1 dan 2, serta pasal 10, akhirnya untuk pertama kalinya, Pengurus YISK dibentuk. Di mana, yang menjadi ketua kehormatan adalah Mayjen TNI Amir Machmud, dan ketua dijabat oleh H. Basjaruddin Rahman Motik.
Proses pembangunan masjid dimulai dengan menentukan lokasi. Pada awalnya, YISK meminta gedung Bappenas diserahkan kepada Yayasan. Namun berdasarkan surat dari Kabinet Ampera tanggal 4 September 1970, permohonan itu ditolak, karena gedung Bappenas masih dipakai pemerintah. Sebagai gantinya, Gubernur memberikan alternatif kepada YISK, yaitu di Lapangan Persija  atau di Taman Sunda Kelapa. Akhirnya, Yayasan memilih Taman Sunda Kelapa sebagai lokasi masjid.
Peletakan batu pertama pembangunan Masjid Agung Sunda Kelapa dilaksanakan pada Hari Raya ‘Idul Fitri 1398 H, bertepatan dengan tanggal  21 Desember 1969 M. Sedangkan pekerjaan pembangunan masjid dipercayakan kepada Ir. Gustaf Abbas, dosen Fakultas Teknik Universitas Indonesia. Pekerjaan pembangunan masjid tidak berlangsung mulus, karena YISK mengalami kekurangan dana. Akibatnya, berdasarkan  keputusan Gubernur, YISK untuk sementara menghentikan kegiatannya, kemudian menyerahkan pendirian masjid kepada Pemerintah DKI Jakarta. Akhirnya, pembangunan berjalan dengan baik dan berakhir pada bulan Maret 1971.
*Kutipan dari: http://www.masjidagungsundakelapa.or.id/index.php/profile/sejarah
So, here we go, me and Si Kukut. 2 Ramadhan 1437, 7 Juni 2016.

Usai menuntaskan kewajiban Shalat Dhuhur dan menghadiri kajian rutin ba'da Dhuhur selama Ramadhan di Masjid tvOne. kami pun memulai perjalanan di Ramadhan tahun ini, dalam panas menyengat yang begitu menggoda. Menggoda untuk lelap dalam ruang ber-AC. :)


Malas betul beranjak dari parkiran sepeda
Saya tak gila. Sungguh. 

Itu sebabnya di panas terik yang begitu menyengat, saya memutuskan tak langsung mengarahkan sepeda saya ke Masjid Agung Sunda Kelapa dan berdiam di sana hingga ba'da tarawih. Lebih baik saya istirahat dulu sejenak di kost, dan memilih mulai melaju ba'da Ashar. 



Nebeng parkir di pojokan Pintu Barat Masjid Agung Sunda Kelapa
Salah satu yang harus saya perhatikan betul ketika bersepeda ke berbagai tempat keramaian, tentu saja perkara parkir sepeda. Bagaimana faktor keamanan dan kenyamanannya. Bahkan ketika bersepeda dalam rangka ibadah sekali pun, kita tetap tak boleh konyol. Apalagi Si Keong tak dilengkapi rantai/gembok untuk mengunci sepeda. Masjid sih Masjid. Hari gini maling gak kenal tempat. Lha sandal jepit yang harnganya ribuan perak aja bisa ilang, cing ! Apalagi sepeda.

Dan setibanya di Masjid Agung Sunda Kelapa, itu pula yang pertama kali saya cari tahu. Datang melalui Gerbang Utama, tukang parkir yang berada di situ justru menganjurkan saya untuk menuju Pintu Barat. Pintu yang merupakan jalan masuk parkir untuk mobil dan motor. Sementara Gerbang Utama, memang hanya diperuntukkan bagi pejalan kaki.

Alhamdulillah, ketika saya mengutarakan kepada tukang parkir di Gerbang Barat perihal ketiadaan gembok, mereka bersedia dititipi Si Keong dekat pos parkir tempat mereka bertugas. Tempatnya memang sempit. Tapi justru karena sempit itu lah, posisinya menjadi sedikit lebih aman. Karena siapapun yang ingin mengeluarkan Si Keong dari parkirannya, mau tidak mau harus melewati dan pasti terlihat oleh mereka yang bertugas di pos parkir.

Kelar urusan parkir sepeda, saya langsung ganti "pakaian tempur" dan ambil wudhu, lalu langsung masuk ke ruang utama ibadah yang ada di lantai 2.  

Suasana tadarusan jelang waktu berbuka di Masjid Agung Sunda Kelapa
Di Masjid Agung Sunda Kelapa, saya merasa jama'ah begitu dimanjakan, dalam artian positif tentunya. Bagi sahabat yang ingin ber'tikaf di Masjid ini terutama di bulan Ramadhan, berikut beberapa catatan saya:
  1. Tempat wudhu berlimpah. Jangan khawatir bila melihat antrian panjang. Masih banyak tempat wudhu lain yang tersebar di berbagai pojok kompleks Masjid.
  2. Perempuan lebih baik beri'tikaf atau shalat di Aula Utama lantai bawah. Disediakan ruangan tertutup, jadi lebih aman dan nyaman. Beberapa orang yang awalnya memillih beribadah di Serambi Jayakarta (teras bagian timur depan Ruang Ibadah Utama) pun, akhirnya memilih turun ke ruangan di bawah.
  3. Tersedia big screen yang menampilkan setiap bacaan ataupun ucapan yang terdengar dari speaker Masjid. Jika kita mau, kita bisa tadarus bersama jamaa'ah lainnya dengan panduan ini. Bahkan ketika tiba waktu azan, semua ditampilkan lengkap di layar, termasuk jawaban yang selayaknya diucapkan jama'ah ketika mendengar azan.
  4. Ruang Ibadah Utama dilengkapi dengan pendingin ruangan yang sangat layak. Selama beri'tikaf di sini sejak sebelum waktu berbuka hingga selesai shalat tarawih, Alhamdulillah saya bahkan nyaris tak berkeringat.
  5. Makanan dan minuman untuk berbuka mulai dibagikan sekitar pukul 17.15, langsung oleh pengurus Masjid kepada jama'ah. Termasuk kepada jama'ah yang tengar berada di Ruang Ibadah Utama. Jadi jangan berebutan, atau celingak-celinguk mencari antrian.
  6. Selepas azan Maghrib, disediakan cukup waktu bagi mereka yang ingin terlebih dulu menyantap makanan, dengan syarat harus keluar terlebih dulu dari Ruang Ibadah Utama. Kalau saran saya sih lebih baik menunda menyantap makanan berat. Lebih baik membatalkan shaum dengan hidangan ringan seperti dengan air putih dan kurma (yang juga disediakan bagi jama'ah), lalu menunggu waktunya shalat Maghrib. Soal makan hidangan berat, lebih baik ditunda hingga selesai shalat Maghrib berjama'ah. Ada banyak tempat yang bisa dipilih untuk anda bersantap. Mulai di teras Masjid, hingga di pojok-pojok halaman Masjid yang memang begitu asri.
  7. Tersedia banyak tempat penitipan barang dan tempat sampah di Masjid ini. Jadi tidak ada alasan untuk membiarkan sampah berserakan. 
  8. Di Masjid Agung Sunda Kelapa shalat tarawih dilakukan dalam 20 raka'at plus shalat witir 3 raka'at, terbagi dalam 3 sesi dan 3 Imam. Imam selalu memandu jama'ah dalam bahasa Indonesia, termasuk 2 Imam dari Madinah yang juga fasih berbahasa Indonesia.
Itu beberapa catatan kecil yang berhasil saya ingat selama melakukan i'tikaf di Masjid Agung Sunda Kelapa 2 Ramadhan lalu. Semoga Allah masih terus memberi saya umur dan kekuatan tekad, untuk terus #GowesToMosque, berziarah ke berbagai Masjid selama Ramadhan ini. Kegiatan yang bakal lebih baik bila terus dilakukan hingga selepas Ramadhan.

Menikmati secangkir kopi di luar pagar Masjid Agung Sunda Kelapa, selepas tarawih.
Alhamdulillah usai sudah episode pembuka Ramadhan Ride #GowesToMosque. Menurut catatan Strava, 14,9 km ditorehkan Si Keong untuk episode kali ini.

Sampai bersua di catatan Ramadhan Ride #GowesToMosque berikutnya.





Bayu Adhiwarsono©

Kamis, 02 Juni 2016

MAY GRAND FONDO: KEBUN RAYA BOGOR

Akhirnya.... 
Sebetulnya sudah sejak lama saya ingin gowes ke Kebun Raya Bogor (KBR). Terletak di ketinggian 260 mdpl, gowes dari Jakarta (baca: Pulogadung, Jakarta Timur) menuju KBR menurut saya adalah salah satu gowes on-road dengan rute terbaik. Mulai dari jalanan dengan panas menyengat hingga ruas jalan yang teduh, rute padat lalu lintas hingga jalanan yang sepi, dan tentu saja medan yang memiliki elevasi bervariasi. Waktu tempuh pun masih bisa diselesaikan setengah hari, untuk kebanyakan pemancal. Sementara bagi saya, menurut perhitungan awal, total waktu yang harus saya alokasikan adalah sekitar 8-10 jam (termasuk shalat, istirahat, ataupun makan) untuk gowes sejauh 110-120 km, antara Pulogadung-KBR-Utan Kayu.

So, 31 Mei 2016. sehabis dhuhur dan TANPA makan siang saya pun memulai perjalanan untuk menuntaskan keinginan saya yang sudah sejak lama tertunda itu.

Sengaja saya mampir dulu ke kosan, selain untuk membawa bekal minuman lebih banyak, juga untuk menyimpan beberapa barang yang sekiranya tak perlu saya bawa di pannier. Lumayan, barang seberat apa pun bakal terasa pengaruhnya, ketika kita gowes untuk jarak tempuh di atas 100 km.

Mengambil jalur By-Pass (Jalan DI Panjaitan) lalu berbelok di Cawang, kemudian memotong daerah Pangadegan dan ke luar di Taman Makam Pahlawan Kalibata, saya lalu mengarahkan sepeda ke arah selatan.

Jalur Pasar Minggu hingga UI terasa begitu panjang dan nyaris membosankan. Beruntung banyaknya pohon rindang di sepanjang jalur ini membuat cuaca jadi agak bersahabat. 2 jam perjalanan, saya pun tiba di sekitar Universitas Indonesia. Agak memutar sediikit dan sempat tuntun sepeda melawan arah, akhirnya saya menemukan ini....

Tanda "Selamat Datang" yang waktu pertama kali gowes ke UI pertengahan Mei lalu tak sempat saya sambangi. Punten numpang lewat, untuk para sesepuh pesepeda di Kota Depok :)
Ini sebetulnya kali kedua saya melintas di sini
Memasuki Depok, cuaca justru tengah luar biasa panas. Beberapa kali saya hendak berhenti untuk melepas dahaga, tapi hanya es podeng lah yang akhirnya membuat saya benar-benar menghentikan laju Si Keong.
Es Podeng, teman ideal untuk menurunkan suhu tubuh
Asupan es podeng yangs aya temui di Jalan Kartini ini membuat suhu tubuh yang sempat naik karena panasnya cuaca, kembali berangsung turun. Cukup 10 menit saya melipir untuk menikmati segelas es podeng, karena perjanan yang saya tempuh baru 36 km dan masih menyisakan sekitar 80 km lagi. Well, 2,5 jam untuk 36 km. Berarti hitungan kasarnya saya masih bakal duduk di atas sadel DDK Speedline saya selama 6-7 jam lagi.

Tapi sekitar 1 jam melintasi Jalan Raya Citayam giliran perut saya yang mulai unjuk rasa. Saya lirik jam tangan, 15.30. Ah, waktunya menuntaskan 2 kewajiban yang tertunda, shalat ashar dan makan siang. Kebetulan sebuah warung mie instan dengan lokasi teduh dan bersih, saya lihat ada di sisi kanan jalan di wilayah Pabuaran.
Pilihan buruk. ASAL KENYANG !
Selesai 2 urusan ini dan mengisi ulang persediaan minum, sepeda kembali saya kayuh menuju tujuan semula, Kebun Raya Bogor. Masih ada sekitar 20 km lagi (menuju KRB, belum mikir urusan pulangnya lho ya.....:P)

Sesaat sebelum Maghrib, akhirnya saya tiba di gerbang pintu sebelah selatan Kebun Raya Bogor. Setibanya di sini, saya tak berhenti lama. Setelah mengabari istri tersayang di Bandung, lalu sekedar melepas dahaga, saya pun kemduian memutuskan kembali ke arah Jakarta sambil sebelumnya mencari tempat untuk shalat Maghrib. Rute Cibinong-Cilangkap-Kramat Jati jadi pilihan rute pulang. Saya yakin, mengayuh sepeda malam hari di jalanan ini masih relatif lebih aman dibanding jika harus mengambil jalan yang sama ketika berangkat ke KBR.
Persimpangan Jalan Raya Bogor dan Jalan Sentul Baru
Bokong yang semakin tidak nyaman, dan persediaan air minum yang kembali menipis, membuat saya memutuskan berhenti di persimpangan Jalan Raya Bogor dan Jalan Sentul Baru.

Sebuah kios kecil, dengan bangku memanjang. Pas untuk tempat ngopi, sekaligus menikmati pemandangan mereka yang dengan sukarela bermacet-macetan di atas kendaraan pribadinya.

Ada sedikit dialog menarik dengan seseorang bapak-bapak yang tengah menanti metromini di kios ini,

"Pulang kerja, mas?", si bapak memulai percakapan dengan ramah. "Iya, Pak", jawab saya pendek. Lalu beliau berjalan menghampiri Si Keong, memegang sadel (padahal buat saya, sadel adalah salah satu barang pribadi, karena di situ bokong saya ditempatkan setiap saya bersepeda) dan kembali bertanya "Rajin mas sepedaan. Kerja di mana?". Saya jawab, "Pulogadung, Pak".

Hening sesaat. Metromini menuju Depok yang dinantinya belum juga tiba.

"Pulogadung? Jakarta? Lha ini mau pulang atau gimana? Tinggal di mana memangnya?", saya diberondong pertanyaan bernada ragu.
"Ngekos sih di Utan Kayu, Pak". Dan mendadak si bapak ini terdiam, melirik Si Keong, lalu kembali menatap saya.

"AH, GILAAAAA!!!", nyaris mengagetkan sang empunya kios.
Beruntung tak lama kemudian, yang dinanti tiba. Beliau pun pamit, sambil tak lupa kembali melirik ragu pada saya dan Si Keong.
Hari semakin malam, saya pun tak bisa berlama-lama lagi menepi. Apalagi perut juga sepertinya mulai kembali menuntut asupan ulang. Mie instan di Pabuaran nyaris tak bersisa. :)

Ya, jelang Kramat Jati saya pun kembali "dipaksa" untuk berhenti. Demi sebuai kedai tongseng kambing.
Kambing memang gak ada lawannya !
Merasa perjalanan sudah semakin dekat, pace yang tadinya agak saya pacu sejak Bogor kembali saya turunkan. Menyantap tongseng kambing tak boleh tergesa-gesa. Selesai bersantai, biarkan dulu badan ikut menikmati. 30 menit saya bersantai di sini, sambil kembali menikmati betapa banyak orang begitu hidup dalam ketergesa-gesaan. Pergi kerja, buru-buru. Kerja, buru-buru. Pulang kerja, buru-buru.

Lalu kapan menikmati hidup yang katanya singkat ini?
Rute dan elevasi versi Strava
Akhirnya sekitar pukul 21.30 saya pun tiba di kosan, setelah sebelumnya sempat sedikit memutar ke arah Pramuka. Demi apa??
DEMI MAY GRAN FONDO
Ya, rekan-rekan sesama pesepeda pengguna Strava tentu tahu betul soal setoran Gran Fondo ini. :)
Total waktu: hampir 9 jam
Dilihat dari tabel ini, saya harus terus belajar mengatur pace bersepeda
Profil rute dan waktu di tiap zona elevasi yang saya lalui
Alhamdulillah, ini ketiga kalinya saya gowes untuk trip di atas 100 km, sejak akhir Oktober lalu saya "kembali" bersepeda. Jakarta - Bandung, Pulogadung - Tanjung Pasir - Utan Kayu, dan sekarang Pulogadung - Kebun Raya Bogor - Utan Kayu.

Hasrat kembali bersepeda di atas 100 km pun kembali terbersit. Bandung anyone???






Bayu Adhiwarsono©