Senin, 20 Oktober 2003

PUASA MENGGENAP


aku tahu,
bukan dosaku kelu mencintai ujung kecapku
apalagi atas nama angan pernik hiasi kata
dan kala kulemparkan tunjuk padamu,
bukan karena aku tak punya lagi arti

kamu tahu,
ingin kubentang samudera puisi di tetirahmu
jadi alas lelap temani gelap
dan saat kucurahkan maki di ufukmu,
tak jua untuk muntahkan penat

lalu mengapa jemariku membeku tatapku nanar ?
duhai jiwa yang merona
di tengah kebisuan warna

jakarta, duapuluhtiga kesepuluh di duaributiga, 03.48

SEPENGGAL TANYA

aku tahu,
bukan dosaku kelu mencintai ujung kecapku
apalagi atas nama angan pernik hiasi kata
dan kala kulemparkan tunjuk padamu,
bukan karena aku tak punya lagi arti

kamu tahu,
ingin kubentang samudera puisi di tetirahmu
jadi alas lelap temani gelap
dan saat kucurahkan maki di ufukmu,
tak jua untuk muntahkan penat

lalu mengapa jemariku membeku tatapku nanar ?
duhai jiwa yang merona
di tengah kebisuan warna

jakarta, duapuluhtiga kesepuluh di duaributiga, 03.48

Jumat, 17 Oktober 2003

SEDANG NGGAK RINDU SAMA KAMU

masih seperti purnama lalu dan
sasih delapan yang baru singgah dan
rasanya sembilan warsa takkan jadi sesaat
dusta jua bila kubilang tak rindukan kau
mengecup tepi nadi kasihku yang hingga nanti


sudah,
membisu saja bersamaku kini
simpan penggalan cerita itu
untuk lelap yang nanti kan ketuk serambi
mimpimu dan
aku

perihnya selimuti barisan bulu di mataku
menggantungi kantuk di sepagi ini
dua langkah dari seterbitan mentari
setengah lelap yang sesaat

sungguh
mentarimu lah yang tak kurindu
sesasih ini saja
karena warsa di sudut jalan sana
serigala malam kembali ke ladangnya sendiri
dan yang kau cumbu
dulu

jakarta, tujuhbelas keduabelas di duaributiga, 19.06