Rabu, 25 November 2009

BASAH TENGKULAK

basah hujanku siang ini lagi
sedikit memang tergenang
walau terkadang banjir

tapi lelaki yang kemarin
kutemui di sebuah persimpangan
punya cerita berbeda

gabahnya justru hangus
bukan lembab dan tersapu
banjir

hitam legam nyaris terbuang
bersama mimpi
membayar pinjaman tengkulak

hangus dan nyaris terbuang
oleh puluhan lentera penjaga mimpi yang berbalik
menghujam

jakarta, duapuluhlima kesebelas di duaribusembilan, 14.25


ditulis oleh Bayu Adhiwarsono, atau
di publish di Blog ini dengan seijin penulis aslinya

Sabtu, 21 November 2009

MAKNAI SESUKA JEMARIMU

:Muhammad Hideyoshi 'Abdul 'Aziz Adhiwarsono

entah berapa tak terhitungnya huruf yang
kuukir dengan pena atau
kuketuk di barisan papankunci
membentuk kata berarti atau tidak
melantun sesekali bermakna dan lebih sering tanpanya

entah berapa tak terhitungnya angan yang
coba kutumpahkan diantara sadar dan lelap
dalam jeda penuh linglung
walau akhirnya tak pernah berujung puas

sementara jemari mungilmu
menari tanpa beban
melangkah tanpa pikir

huruf demi huruf tanpa kata
nyaris tak peduli ke kanan atau kiri dia berpihak
membaris tak berarti tapi penuh makna yang
kau ciptakan sendiri dan
aku tenggelam menikmati lantunannya

teruslah,
biar anganmu bebas seperti kau mau
ciptakan kata mu sendiri
ukir arti dan makna mu saja

untukk ku
tenggelam


jakarta, duapuluhsatu kesebelas di duaribusembilan


* kelak, biar dunia tahu betapa keajaiban mampu kau ciptakan dengan jemarimu, nak !


ditulis oleh Bayu Adhiwarsono, atau
di publish di Blog ini dengan seijin penulis aslinya

Selasa, 03 November 2009

MATI LAMPU

gelap...

baru kali ini aku tak merindu dengus nafasmu di balik rembulan
tak ada lagi seteguk kopi yang kusisakan untukmu malam ini
dan cerita jelang lelap yang biasa kunyanyikan untukmu
kini rasanya lebih baik kusimpan rapat-rapat
di saku celanaku

gelap...

jejak lelah dua hari lalu masih membiru di mimpiku
menyiksa. merampas semua ruang yang sejatinya
kusimpan bagi secuil rinduku padamu
kuharap kau maklum mengapa
aku memilih tak merindumu

gelap...

janganlah terlalu lama kau menyepi di persimpangan
itu. tak tahuah kau aku tengah
menanti. sesuatu yang hilang dari
dekapku malam lalu



jakarta, tiga kesebelas di duaribusembilan, 00.50




ditulis oleh Bayu Adhiwarsono,
atau di publish di Blog ini dengan seijin penulis aslinya