Rabu, 23 November 2016

12 YEARS OF HAPPINESS

Target mudik dengan bersepeda tuntas sudah saya bayar. Tapi bukan berarti saya berhenti bersepeda. Selalu ada tantangan baru yang harus saya bayar. Termasuk bersepeda dari Bandung ke Jakarta. Kala bersepeda ke Bandung Desember 2015 silam, saya lebih memilih mengangkut sepeda menggunakan bis ketika harus kembali ke Jakarta. Kali ini, tidak lagi. Momen cuti Idul Fitri harus saya manfaatkan dengan baik.

Tanpa sengaja, tanggal yang saya pilih adalah 10 Juli 2016, bertepatan dengan ulang tahun pernikahan yang ke-12. Rute yang saya pilih adalah via Puncak. Ya, bersepeda melalui jalur Puncak termasuk salah satu impian saya. Menurut beberapa rekan yang pernah melintas, jalur ini menghadirkan tantangan lebih berat dibanding jalur Purwakarta ataupun Jonggol.

Setelah berpamitan dengan bidadari yang telah menemani hidup saya selama 12 tahun, dan kedua jagoan kami yang masih lelap, pukul 03.11 saya pun mulai mengayuh Si Keong. Dan alhamdulillah, sesuai perhitungan awal, saya bisa rehat perdana di sekitaran wilayah Ciburuy sekalian melaksanakan shalat Shubuh. Segelas kopi panas sempat saya nikmati, untuk mengusir dingin dan kantuk. Tapi saya enggan berhenti terlalu lama. 30 menit untuk shalat dan menikmati segelas kopi, saya rasa cukup. Cuaca yang masih bersahabat harus saya manfaatkan betul. Sekitar pukul 05.00, saya pun melanjutkan perjalanan.

Selepas Ciburuy, adalah surga bagi saya dan Si Keong. Jalur sepanjang lintas Citatah penuh dengan medan turunan, yang bisa kita lalui dengan kecepatan tinggi. 55 km/jam adalah kecepatan tertinggi yang saya raih bersama Si Keong. Memang masih di bawah kecepatan tertinggi yang pernah saya raih ketika melintas jalur Cikalong Wetan Desember tahun silam. Hati-hati, tentu sebuah keniscayaan. Sesekali saya harus melakukan brake-checking, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Pukul 05.30 alhamdulillah saya sudah melintasi jembatan Rajamandala. Sebuah jembatan penyeberangan sungai Citarum, yang dulu kala sempat menjadi Jembatan Tol. Beruntung sekarang siapa pun sudah bebas melintasi jembatan ini, tanpa harus membayar 1 sen pun.
Menikmati pagi selepas jembatan Rajamandala

Jelang pukul 07.00 saya pun sudah bertemu dengan pertigaan simpang Cariu. Saya sempat berhenti sesaat, sambil mematangkan tekad saya untuk melanjutkan perjalanan melalui Puncak. Ya, di sini adalah titik terakhir jika saya berubah pikiran. Kanan ke arah Cariu lalu Jonggol, sementar lurus menuju Cianjur hingga Puncak.
Pilihlah jalan yang lurus :)
Perut mulai menagih asupan makanan. Tapi saya memilih untuk melanjutkan perjalanan, setidaknya hingga memasuki wilayah Cianjur. Ada satu warung bubur ayam, yang jadi langganan ketika dulu saya masih sering menempuh perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta menggunakan motor. 

Sayang, kini warung bubur itu entah ke mana. Tapi medan menanjak yang sudah mulai menghadang selepas simpang Jonggol membuat saya harus segera mengisi amunisi, jika tak ingin tumbang di tengah perjalanan. Bubur incaran tak ada, bubur yang lain pun jadi pilihan.
Mulai menikmati tanjakan demi tanjakan
Tanjakan yang aduhai, membuat perut saya kembali kerongcongan. Padahal saya baru gowes sejauh 11 km. Alhasil, saya terpaksa melipir, dan bongkar bungkusan nasi goreng yang telah dipersiapkan istri saya sebelumnya.
Berteduh sambil bongkar makanan (lagi)
Jarak dari simpang Jonggol hingga warung Mang Ade di Puncak, sebetulnya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 38 km. Untuk jalanan datar, biasanya saya bisa tempuh paling lama sekitar 2 jam. Tapi medan yang terus menanjak, ditambah kemacetan luar biasa arus balik mulai dari Cipanas hingga Puncak, membuat saya harus seringkali berhenti untuk sekedar mengatur nafas atau menuntun sepeda untuk keluar dari himpitan mobil-mobil yang berhenti hingga bahu jalan.

Penuh perjuangan, bahkan seringkali terlintas di pikiran saya untuk menyerah dan loading, akhirnya saya pun tiba di warung Mang Ade Puncak sektiar pukul 13.30. 

Alhamdulillah Touch Down, beybeeeeeh.
Di sekitar Puncak ini saya menikmati betul waktu yang ada. 30 menit menyantap bandrek di warung Mang Ade, lalu turun ke Masjid Atta'awun untuk menjama' shalat Dzuhur dan Ashar, dan kemudian singgah menikmati kopi di sebuah warung sambil memandangi kemacetan arus balik menuju Gadog. Hampir 2 jam saya habiskan di Puncak dan sekitarnya, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Berhenti di jalur berlawanan, demi secangkir kopi, dan selonjoran.
Simpang Gadog. Sudah 117 km, tinggal sekitar 60 km lagi :)
Selepas Puncak, saya pacu sepeda saya. Medan yang nyaris tinggal menyisakan turunan hingga Jakarta membuat adrenalin sedikit menggelitik. Di sisa perjalanan ini, bahkan saya sempat mencetak kecepatan tertinggi 61 km/jam, dengan kecepatan rata-rata 22 km/jam. 

Sempat berhenti beberapa kali lagi untuk makan malam atau sekedar mengambil nafas, sekitar pukul 20.00 saya sudah sampai di Utan Kayu, Jakarta Timur.
 
Alhamdulillah, semua tak akan mungkin terlampaui tanpa pertolongan Allah, dan do'a istri serta kedua jagoan saya di Bandung. Terima kasih karena telah menjadi pendamping selama 12 tahun yang penuh dengan kebahagian, Hun. Terima kasih telah mendidik 2 jagoan kita dengan penuh kasih sayang.

Perjalanan ini untuk kalian.



Catatan:
Silakan intip catatan saya menurut Strava.





Bayu Adhiwarsono©

Kamis, 17 November 2016

GOWES MUDIK 2016


Sejak kembali bersepeda, cita-cita saya adalah melakukan mudik dengan menggunakan sepeda. Bersepeda sendiri ke Bandung memang tak bakal jadi halangan, toh hal itu sudah pernah saya lakukan Desember 2015 lalu. Tapi bersepeda bersama rekan-rekan lain tentu menghadirkan cerita tersendiri, selain tentunya bakal membuat keluarga saya lebih tenang. :)

Alhamdulillah, ternyata sudah beberapa tahun belakangan teman-teman pesepeda di komunitas Bike To Work Indonesia mengorganisir kegiatan mudik bareng dengan menggunakan sepeda. Dan tahun ini, kebetulan saya mendapatkan 2 teman seperjalanan. Yang pertama adalah Pak Endang, yang tujuan mudiknya adalah Banjar, Jawa Barat. Sementara satunya lagi adalah Om Andi, yang bertujuan mudik dengan sepeda menuju Purwokerto, Jawa Tengah.

Tanggal keberangkatan dan rute sudah disepakati, Kamis 30 Juni 2016, melalui Purwakarta. Berarti tinggal menyiapkan perbekalan, sepeda, dan tentunya fisik kami masing-masing. 
Perbekalan Mudik
Barang-barang yang saya bawa ketika itu adalah:

Pannier bagian tengah: 
- Tools, mulai dari obeng hingga kunci inggris
- Patch Kit dan 1 buah ban dalam
- Cable-ties
- Chainlube
- Deodorant
- Sun-block
- Sabun mandi, sabun muka, dan shampoo
- Tissue basah dan tissue kering
- Charger
- Batere cadangan

Pannier bagian samping kanan dan kiri:
- Raincoat
- Baju gamis untuk shalat
- Handuk
- Jersey untuk baju ganti
- Celana pendek untuk ganti
- Glove cadangan
- Buff untuk masker dan tutup kepala cadangan
- Kurma, untuk dopping sepanjang perjalanan

Tas paha Eiger yang saya lilit di top tube:
- Powerbank dan kabel USB
- Dompet dan segala isinya :)
- Handphone 
- 2 buah korek gas
- dan tentunya, rokok (yang ini jangan ditiru :P)

Selain barang bawaan di atas, masih ada 1 bidon yang nempel di sepeda, rantai/gembok sepeda yang saya lilit di seat tube, dan sepatu yang saya ikat di atas pannier.

Sepeda, tentu harus dicek segala sesuatunya termasuk mengganti parts bila dibutuhkan. Termasuk kala itu Si Keong harus ganti rantai dan sproket. Masih merasakan manfaatnya menggunakan sproket lama dengan kombinasi 14-34T MegaRange, saya pun memutuskan mengganti yang baru dengan spek yang serupa.
Si Keong dan gembolannya
Hari H tiba, kelar shalat shubuh saya pun melaju bersama Si Keong menuju tikum 1 di seberang LP Cipinang, untuk bertemu dengan Pak Endang. Rekan #GowesMudik2016 yang akan mudik menuju Banjar.
Setelah sekitar 45 menit menunggu, akhirnya Pak Endang datang juga. Cuma sempat ngobrol sebentar, kami pun langsung menuju tikum 2 di daerah Bekasi, untuk bersua dengan Om Andi. Om Andi rencananya akan mudik menuju kampung halamannya di Purwokerto.
Ngaso sebentar, sambil nunggu 1 personil lagi
Sekitar pukul 7.30 akhirnya kami bertiga mulai mengayuh sepeda kami. Saya dengan Wimcycle Rc-DX, Pak Endang bersama sepeda Pacific-nya, sementara Om Andi mengayuh sepeda Federal Bobcat.

Bersasarkan hasil diskusi awal, Rest Point 1 adalah sekitar Karawang. Sekalian kami berniat menyambangi Posko #GowesMudik2016 yang dikoordinir oleh beberapa rekan sukarelawan. Rute dalam kota Karawang pun jadi pilihan, karena lebih medan yang lebih teduh, dan minim kendaraan besar.

Perjalanan melintasi jalur Cikarang-Karawang yang panas luar biasa

Qadarullah, kami justru akhirnya tak bisa mampir di Posko #GowesMudik2016, karena kesalahan membaca lokasi di Google Maps. Terlanjur terlewat, kami pun akhirnya memutuskan beristirahat di sebuah minimarket, selepas Jalan Baru Karawang. Berteduh, sambil membasahi kerongkongan, dan menyantap dopping kurma yang saya bawa. Berhubung rombongan kami masih amatir, semuanya sepakat untuk membatalkan puasa :(
Nampang dulu di minimarket
Sejenak menghindari terik
Ketika berteduh di minimarket, tak disangka kami kedatangan Om Tantowie, salah satu rekan Federalist Karawang. Disambangi seperti itu, seakan jadi suntikan dopping buat kami yangmulai tersiksa oleh terik dan dahaga. Tengah hari bolong sodaraaaaaaa........:))

Dikunjungi juragan Karawang :)
Setelah suhu badan agak menurun. kami pun memutuskan untuk melanjutkan perjalanan, sembari mencari Masjid atau SPBU.

Kembali berteduh, dan bersujud
Ternyata tak jauh dari minimarket tempat kami berteduh, ada sebuah SPBU di sisi kiri jalan. Lahan parkir luas, mushala luas, dan yang paling menyenangkan adalah kamar mandinya yang nyaman untuk kami mandi. Ya.......mandi di tengah perjalanan jauh terbukti sangat membantu lho. Mandi, shalat, lalu menikmati angin semilir. Badan kembali segar, fisik recharged, batin tenang. Senyum dan semangat baru pun menyelimuti kami, menyambut sisa perjalanan sejauh 100 km yang masih harus kami tempuh.

Tanjakan menanti.
Gapura Indung Rahayu, Purwakarta
Bral geura miang, anaking. Dalam Bahasa Indonesia berarti "Segeralah berangkat, anakku"
Siap melahap tanjakan demi tanjakan

Sempat 1 kali lagi berhenti di wilayah Cikampek untuk kembali menghindari terik, akhirnya sore hari kami mulai memasuki wilayah Purwakarta. Tanjakan jelang Gapura Indung Rahayu dari arah Cikampek, jadi penanda bahwa kami baru saja melalui tanjakan pembuka dalam perjalanan menuju Bandung. Ya, tanjakan tak lebih dari 1 km yang memiliki grade terberat sekitar 12% ini hanya permulaan. Karena sejak gapura ini, tanjakan demi tanjakan bakal terus tersaji, hingga wilayah Padalarang. Percayalah, jika anda mengayuh sepeda dengan ngotot dan pengen cepat sampai, tak lama lagi anda bakal tumbang. Yang tersisa hanya nyeri di lutut, kram, dan ujung-ujungnya menuntun sepeda atau bahkan terkapar kelelahan. Ini sudah saya alami awal Januari silam.
Kadung menyiksa, nikmati saja setiap kayuhan walau tanjakan seakan tak henti
Kembali memenuhi panggilan Illahi
Tanjakan demi tanjakan yang kami lahap sejak Purwakarta, akhirnya membuat Pak Endang kelelahan. Waktu tempuh terus molor, fisik semakin tergerus, hasilnya bisa diprediksi, beliau nyaris menyerah. Memasuki wilayah Panglejar, Kabupaten Bandung Barat ketika waktu sudah menunjukkan tengah malam, beliau akhirnya memilih untuk bermalam.

Kami pun memilih sebuah Masjid yang punya pekarangan lumayan luas, lengkap dengan Posko Mudik yang belum mulai beroperasi. Pak Endang menggelar matras dan sleeping bag untuk alas tidur, sementara saya memilih untuk tetap terjaga. Harus ada yang menjaga barang-barang bawaan dan 3 sepeda yang berjejer di parkiran Masjid.
Obrolan jelang bobo :P

Mulai damai dalam mimpi
1 jam jelang shubuh, pasukan mulai bangun dari lelap. Pak Endang yang sebelumnya sempat nyaris menyerah pun, memulai hari yang baru dengan semangat baru. Tanjakan demi tanjakan, memang masih bakal menghadang hingga wilayah Cikalong Wetan. Tapi jarak yang hanya dalam hitungan puluhan kilometer lagi menuju Bandung, jadi gambaran bahwa kami sudah melaju lebih dari 100 km. Artinya, seberat apapun medan yang bakal kami lalui, setidaknya kami sudah mengayuh sepeda kami lebih dari setengah perjalanan. Mundur dan menyerah, bukan pilihan
Memulai hari dengan Sahur
Selesai santap sahur, kaki-kaki kami pun mulai kembali mengayuh crank, meniti perjalanan tersisa, sambil mencari pemberhentian selanjutnya untuk Shalat Shubuh.

Singgah sesaat untuk kembali memenuhi panggilan Illahi, kami lantas menempuh sisa perjalanan dalam sinar fajar yang baru mulai bersinar. Sekira pukul 6 pagi, kami pun akhirnya melewati wilayah Cikalong Wetan, dan mulai memasuki wilayah Padalarang. 1 tanjakan yang tak terlalu panjang tapi cukup menyiksa di penghujung Cikalong Wetan, jadi penanda bahwa berikutnya medan yang bakal kami lalui bakal tinggal menyisakan turunan landai menuju kota Bandung tercinta.
Gerbang Tol Cikamuning. Satu tanjakan lagi

Jelang rel kereta api simpang Padalarang
Di wilayah Cimindi, kami pun sepakat berpisah. Pak Endang dan Om Andi mengayuh sepedanya menuju daerah Gunung Batu untuk singgah di tempat kediaman salah satu rekan pesepeda, sementara saya langsung menuju rumah.

Sekira pukul 08.00, saya pun tiba di rumah, disambut istri dan 2 jagoan kami :)

Perjalanan melelahkan, tapi penuh cerita. Saya bersykur, dalam perjalalanan kali kedua dengan sepeda ke Bandung ini, saya mampu melahap semua tanjakan dengan tanpa turun menuntun sepeda.

Jika masih diberi jatah usia, Idul FItri 2017 saya harus mudik lagi dengan sepeda. Tentunya dengan rute yang berbeda.



Note:

Silakan kunjungi Strava saya untuk melihat secara detail perjalanan kami.
 



Bayu Adhiwarsono©

Kamis, 27 Oktober 2016

TEPANGKEUN, NENG ITEUNG

Neng Iteung
Sudah sejak lama sebetulnya saya bermimpi mempunyai sepeda Federal. Sebuah merk sepeda lokal, produksi anak bangsa, yang sempat menjadi lokomotif penjualan sepeda di Indonesia, di pengujung era 2000-an. Apalagi, walau Federal sudah tak diproduksi lagi, penggemar sepeda besi ini bukan berkurang, justru malah terus bertambah. Para penggemarnya pun beragam jenis. Mulai dari sekedar pengguna sepeda sehari-hari, yang “asal punya” Federal, hingga bahkan kolektor yang jumlah peliharaan Federal-nya mencapai puluhan dengan kondisi prima.

Biaya untuk membangun sebuah sepeda Federal orisinil hingga kondisi siap touring pun masih jauh lebih murah, dibanding membeli sebuah sepeda baru, atau sepeda rakitan kekinian.

Dan dari hasil obrolan dengan beberapa rekan, sepeda Federal impian saya harus memenuhi syarat:
  • Frame tak usah muluk-muluk, cukup berbahan besi alias hi-tensile. Mengapa? Karena sepeda saya yang biasa saya pakai sehari-hari, SiKeong pun berbahan besi. Murah dan kuat.
  • Top tube “rata air”. Menurut info, frame dengan top tube seperti ini sangat ideal untuk dijadikan sebagai sepeda touring.Itu saja syaratnya. Perkara sepesifikasi tekhnis dan spare parts kasta berapa yang nanti tertempel, itu tak jadi soal.

Tapi namanya hidup, cita-cita dan kenyataan toh nyaris tak pernah sejalan.

Berawal dari keisengan jelang tidur menjelajah Facebook Group Bursa Sepeda Federal, ada salah satu anggota yang melego sebuah Fedaral Wild CAT. Harga murah meriah, dengan iming-iming “termasuk ongkir” dan “nego”, iseng-iseng saya sapa melalui WhatsApp.

Kondisi Neng Iteung yang ditawarkan
Lho……kok Wild CAT yang “berjenis kelamin” Ladies?

Entah saya ngigau, atau bagaimana. Yang pasti, proses tawar menawar melalui WA pun berlangsung singkat. 650 ribu rupiah pun disepakati sebagai mahar untuk sebuah sepeda Federal. Melenceng jauh dari cita-cita awal untuk mempunya sepeda dengan top tube “rata air”, tapi apa mau dikata. Mungkin memang sudah jodohnya.

Beberapa hari kemudian, sepeda itu pun tiba dengan selamat.

Datang dalam keadaan terbungkus rapih
“Ini apaan?”, saya masih ingat betul itu WA dari istri saya, ketika dia menerima kiriman sepeda itu di Bandung. 

Bukan karena dia tak tahu bahwa itu sepeda, tapi pikirnya buat apa lagi beli sepeda. Toh saya sudah punya Si Keong yang biasa saya pakai untuk ngantor di Jakarta, terkadang gowes rada jauh, termasuk ketika gowes ke Bandung Desember 2015 dan Idul Fitri lalu. Istri pun sehari-harinya kini punya Neng Monza, sebuah sepeda yang sangat cukup layak untuk keperluan antar si bungsu sekolah. Sementara si cikal dan si bungsu juga sudah punya sepeda sendiri-sendiri.

Tapi setelah sedikit bujukan, ngeles sana ngeles sini, akhirnya istri hanya bisa pasrah. Lha mau bagaimana lagi, toh sepeda itu sudah terbeli.

Ketika tiba waktunya pulang ke Bandung, langsung saya bongkar packing sepeda yang sengaja dibiarkan istri masih terbungkus rapih.

Kala pertama kali menghirup udara bebas di Bandung :)
Cat mulus hasil repaint. Seadanya memang, terlihat dari beberapa bagian yang mulai terkelupas, atau tergores. Tapi warna merahnya ternyata jauh lebih jreng dibanding yang saya lihat di foto ketika proses tawar menawar berlangsung. Decal alias stiker yang menempel di sepeda memang tak orisinil. Tertempel decal Federal Monaco. Tak mengapa, decal ada di peringkat entah nomor berapa dalam daftar saya.

Nyonya pun tergiur untuk mencoba :)
Secara umum, sepeda ini memang layak pakai. Tapi karena cita-cita saya adalah memiliki sebuah sepeda Federal yang siap touring, proses selanjutnya tentu mengganti beberapa parts yang saya nilai kurang mumpuni, dan menambah beberapa asesoris untuk keperluan touring.

Berikut daftar belanja demi mengejar mimpi menjadikan Neng Iteung sepeda siap touing.

-        Frame set (Frame, fork, stem, dan ban), Federal Wild CAT-----Rp.  650.000
Handlebar (sempat berganti), Butterfly Bar (Steel)-------------Rp.  125.000
Bar Tape, Silicon Leather-----------------------------------------Rp.    85.000
Sadle, Pacific Expect More----------------------------------------Rp.  150.000
Kickstand, United-------------------------------------------------Rp.    65.000
Pedal, Non Series (Alloy)-----------------------------------------Rp.    85.000
Brake lever and Shifter, Shimano ST-EF41 via Indonesia------Rp.  175.000
Fenders, Non Series (Stainless Steel)---------------------------Rp.    60.000
Sproket, Shimano MF-TZ31 14-34T Megarange----------------Rp.  110.000
Shark Fin, Non Series (Plastic)----------------------------------Rp.    15.000
Racks, Non Series (Hollow Steel)-------------------------------Rp.  550.000
Bell, Non Series--------------------------------------------------Rp.    15.000
Front Light, SWAT with Stun Gun (Rechargeable)-------------Rp.  130.000
Rear Light, Non Series-------------------------------------------Rp.    35.000
Wheelset, Genio--------------------------------------------------Rp.  225.000
Bidon, Non Series (Steel)----------------------------------------Rp.    35.000
 Seatclamp, Non Series (Alloy)----------------------------------Rp.    20.000
Pannier, D-Baggers (Made In Indonesia)-----------------------Rp.  250.000

TOTAL BELANJA :  Rp.  2.780.000

Neng Iteung siap touring
Tak sampai 3 juta, tapi sudah nyaris sempurna untuk sebuah sepeda idaman. Memang masih ada beberapa PR jika ingin menggunakan Neng Iteung untuk Tour De Pangandaran awal tahun mendatang. Sektor rem misalnya, masih kurang mumpuni untuk saya yang terbiasa menggunakan rem cakram di Si Keong. Atau, penambahan spion, yang tak kalah pentingnya.

Tapi Insyaa Allah masih bisa terkejar jelang tenggat waktu akhir tahun. Sementara ini, Neng Iteung pun sudah siap menemani saya menjelajahi Bandung dan sekitarnya. 

I'am a LADY


*siapa bilang sepeda bagus harus mahal*




Bayu Adhiwarsono©

Rabu, 05 Oktober 2016

RAMADHAN RIDE: THE LAKE

Masjid Ramlie Musofa
Beberapa kali saya sebetulnya melalui Jl. Danau Sunter Selatan. Seingat saya, setidaknya hampir 5 kali saya mengayuh sepeda melewati jalan yang menyusuri sisi sebelah utara Danau Sunter dan Waduk Sunter itu. Tapi entah mengapa, saya tak pernah ngeh kalau di jalan ini ada sebuah Masjid megah yang menurut informasi dari beberapa pedagang di sekitar lokasi baru saja dibangun sejak 2014 silam.

Ramadhan ini pun saya awalnya tak punya rencana untuk mengunjungi Masjid di daerah Sunter. Tapi postingan salah satu rekan saya di medsos membuat saya penasaran. Bangunan megah bernama Masjid Ramlie Musofa, yang dibangun justru oleh salah seorang mualaf.

Maka Selasa 21 Juli silam pun saya memutuskan untuk mengunjungi Masjid ini.

Begitu mendekati Masjid, satu hal yang langsung menjadi perhatian saya justru lahan parkirnya yang begitu sempit. Hanya tersedia lahan parkir seadanya di depan Masjid, yang menurut perhitungan saya hanya layak untuk parkir sepeda motor. Di pekarangan Masjid memang ada sedikit lahan, tapi memang hanya disediakan untuk lalu lintas jama'ah. Tak ada satu pun kendaraan jama'ah yang dijinkan melintasi 2 gerbang Masjid, termasuk Si Keong. Selain lahan parkir yang sempit, ada hal lain yang menarik perhatian saya, yaitu tulisan dengan huruf mandarin yang tertera bersama tulisan berhuruf Arfab dan latin "Masjid Ramlie Musofa". 

Pihak keamanan Masjid hanya berujar dengan sopan, "Silakan parkir di situ saja, Pak. Kita akan pantau sampai Bapak selesai nanti".

Hanya bersenjatakan rantai gembok murah meriah. Tawakal saja.
Memasuki pekarangan Masjid, nuansa ramah langsung menyeruak. 5 personil Security yang selalu menyapa hangat para jama'ah, tersedianya toilet bagi pengguna kursi roda, ruang berwudhu yang dilengkapi dengan tempat duduk dan petunjuk lengkap cara berwudhu yang ditulis di dinding, serta Lift untuk keperluan jama'ah naik-turun Masjid bertingkat tiga ini.

Toilet bagi pengguna kursi roda
Ruang berwudhu
Di dinding kanan dan kiri tangga menuju puntu masuk utama Masjid, juga terukir ayat-ayat Surah Al-Fatihah, lagi-lagi lengkap dengan penulisan berhuruf mandarin. Ini adalah salah satu spot favorit jama'ah untuk berfoto, dengan latar belakang pintu utama dan bangunan masjid yang begitu megah.

Bahkan ketika menunggu saatnya berbuka, para jama'ah juga betah duduk-duduk di tangga ini, sambil menatap kosong ke arah hidangan ifthar yang sudah disiapkan pengurus Masjid. :))

Teras utama Masjid
Bedug yang menghiasi salah satu sudut teras Masjid

Dinding tangga Masjid
Berharap-harap cemas :)
Teras sebelah Timur Masjid

Kubah Masjid tampak dari dalam

Bagian dalam Masjid
Satu hal yang menarik perhatian saya, justru bukan soal arsitektur Masjid yang memang termasuk unik, dengan menggabungkan sentuhan modern dan kaligrafi Arab serta terjemahan Surah dalam huruf Mandarin. Yang membuat saya tersentuh, justru sikap salah satu putra sang pembangun Masjid, yang begitu ramah terhadap jama'ah. Dari hasil pembicaraaan singkat dengan tukang parkir, sang putra ini memang terbiasa melepas kepergian jama'ah yang selesai melakukan ibadah di Masjid Ramlie Musofa ini di gerbang Masjid, sambil mengucapkan "Terima kasih". Rasanya belum pernah sepanjang hidup saya, ada orang yang sengaja menyambut jama'ah di pintu keluar, sambil mengucapkan terima kasih. :)


Masjid Ramlie Musofa





Bayu Adhiwarsono©

RAMADHAN RIDE: ACEH PRIDE

Sudah terlalu lama saya menunda tulisan tentang perjalanan saya di 9 Ramadhan lalu ini. Jadi maafkan, jika ada beberapa detail yang terlewatkan. 

Kala itu Alhamdulillah saya ditemani salah seorang rekan sesama pesepeda, om Muhammad Irvan. Tujuan kami, Masjid Cut Meutia yang terletak di wilayah Menteng, Jakarta Pusat. Berdasarkan hasil googling, masjid ini jadi salah satu masjid yang seringkali dikunjungi traveller. 
Pintu Masuk dari Jl. Taman Cut Mutiah
Bangunan masjid dengan arsitektur Eropa
Dengan taman yang berada di pelataran depan, masjid ini dikelilingi berbagai macam penjual kuliner. Mereka yang ingin bersantap siang, malam, atau sekedar ngopi, setelah beribadah di Masjid Cut Meutia, pasti tak akan kesulitan menemukan hidangan yang sesuai dengan seleranya. Mulai dari Rumah Makan Padang, hingga Sop Buntut, tersaji di sekitar masjid.

Dari luar masjid, arsitektur bangunannya nyaris tak seperti mayoritas masjid yang kita kenal. Tak aneh, karena seperti yang tertulis di wikipedia, Masjid Cut Meutia awalnya memang dibangun sebagai gedung perkantoran.

Sebelum difungsikan sebagai mesjid sebagaimana sekarang, bangunan ini pernah digunakan sebagai kantor pos, kantor Jawatan Kereta Api Belanda dan kantor Kempetai Angkatan Laut Jepang (1942 - 1945). Setelah Indonesia merdeka, ia pernah dipergunakan sebagai kantor Urusan Perumahan, hingga Kantor Urusan Agama (1964 -1970).[1] Dan baru pada zaman pemerintahan Gubernur Ali Sadikin diresmikan sebagai masjid tingkat provinsi dengan surat keputusan nomor SK 5184/1987 tanggal 18 Agustus 1987.[2]

Awalnya masjid ini bernama Yayasan Masjid Al-Jihad yang didirikan oleh eksponen '66 seperti Akbar Tanjung dan Fahmi Idris.[2] Pada kurun waktu orde lama, gedung ini juga pernah dijadikan gedung sekretariat MPRS.
*Sumber: Wikipedia
Posisi mimbar yang tak lazim
Begitu memasuki masjid, kita juga akan disuguhi pemandangan yang tak lazim. Posisi mimbar berada di tengah, sementara posisi Imam tetap di depan shaf yang miring nyaris 45°. Melihat latar belakang pendirian bangunan, ini tentu bukan perkara yang aneh. 

Yang asyik, jama'ah nyaris tak terganggu dalam melaksanakan ritual Shalat Maghrib berjamaa'ah. Karena sebelum adhan berkumandang, pihak DKM sudah mulai membagikan kurma dan air mineral untuk sekedar membatalkan shaum. Alhasil, ketika waktu berbuka tiba, jama'ah dapat tetap duduk di tempatnya, membatalkan shaum, sambil bersiap melaksanakan Shalat Maghrib berjama'ah.

Selesai melakukan Shalat Maghrib, jama'ah pun dapat langsung keluar Masjid untuk menyantap hidangan makan berbuka, yang telah disiapkan pihak DKM di pintu Masjid. Tertib, tanpa harus berdesakan, semua kebagian.
Bundaran HI di malam Bulan Ramadhan
Rencana awal, saya akan tinggal hingga shalat tarawih. Tapi karena saat itu saya tak membawa kunci/gembok sepeda, selesai menyantap hidangan berbuka saya pun memutuskan untuk pulang dan melaksanakan shalat tarawih di kost.

Suatu hari nanti, Insyaa Allah saya akan kembali singgah ke Masjid unik ini.

Selamat malam, Jakarta






Bayu Adhiwarsono©

Senin, 20 Juni 2016

RAMADHAN RIDE : DIVERSITY


Sebagian jama'ah tengah menunaikan Shalat Ashar di Masjid Istiqlal
Setelah mengunjungi Masjid Agung Sunda Kelapa sehari sebelumnya, di hari ketiga Ramadhan tahun ini saya memilih Masjid Istiqlal sebagai tujuan Ramadhan Ride #GowesToMosque.
Sebagian orang mungkin bilang, "Kenapa bukan ke Istiqlal dulu?". 
Atau justru, "Ah, semua aja pengen ke Istiqlal. Gak ada Masjid laen apa?".

Jadi kieu mang, ijinkan saya menjawab 1 pertanyaan itu sekaligus.


Pertama, urang nu ngaboseh sapedana. Keun we atuh kumaha urang, maenya kumaha batur. Perjalanan saya bersama Si Keong ini memang sejak awal saya niatkan sebagai Ramadhan Ride #GowesToMosque, bersepeda mengunjungi beberapa Masjid selama bulan Ramadhan. Pertama kali dalah hidup saya, dan bukan sebagai upaya napak tilas perjalanan apa pun.

Istiqlal? Kenapa tidak? Masa seumur hidup saya baru 2 kali mampir shalat di Masjid yang katanya terbesar se-Asia Tenggara itu. Itu pun bukan sengaja, alias sambil lewat.

Selain itu, tak ada target khusus saya pasang untuk Ramadhan Ride #GowesToMosque perdana ini. Random kalau bahasa kekiniannya. Yang pasti, harus bisa tetap terjangkau dengan bersepeda dalam keadaan berpuasa. Dan itu ukurannya saya perkirakan sekitar 10-15 km. Di atas itu sepertinya saya bakal butuh usaha ekstra untuk menahan dahaga. Ampun ah ari kedah kitu-kitu teuing mah.

Kembali ke urusan rencana saya bersepeda ke Masjid Istiqlal. Seperti hari sebelumnya, saya pun memutuskan untuk pulang dulu ke kost, seusai kajian ba'da Dhuhur di Masjid tvOne. 

Kajian ba'da Dhuhur di Masjid tvOne
Ba'da ashar baru saya mengayuh Si Keong menuju Masjid Istiqlal melalui gerbang sisi timur laut yang berada tepat di seberang Gereja Katedral Jakarta. Ya, seperti yang kita tahu, lokasi Masjid Istiqlal memang berseberangan dengan Gereja Katedral Jakarta. Ini pula yang menjadi salah satu simbol betapa eratnya Masjid Istiqlal dengan ke-Bhinneka Tunggal Ika-an, selain fakta bahwa Masjid ini dirancang oleh seorang Protestan bernama Frederich Silaban.

Sepanjang yang saya perhatikan, Masjid ini juga tak punya lahan khusus untuk parkir sepeda. Sayang sekali. Padahal Masjid Istiqlal bukan hanya berstatus sebagai tempat ibadah kaum muslimin, tapi juga sudah menjadi salah satu objek wisata bagi turis lokal maupun mancanegara. Menyandang setidaknya 2 status itu, memiliki tempat parkir sepeda seharusnya sudah jadi sebuah keniscayaan di era sekarang ini.

Dan seperti pengalaman sebelumnya ketika saya #GowesToMosque episode pertama ke Masjid Agung Sunda Kelapa, kali ini saya juga diarahkan untuk memarkir sepeda saya di dekat gardu parkir. Masuk akal, karena di lokasi seperti inilah biasanya pengamanan terpusatkan sengaja ataupun tidak.

Melipir di pojokan gardu parkir (lagi)
Dari parkiran, saya dengan mudah menemukan jalan masuk Masjid melalui Pintu Al-Fattah, yang dengan mudah langsung mengarahkan siapa pun jama'ah yang masuk menuju tempat wudhu.

Suasana di dalam Masjid Istiqlal
Terdengar pengumuman dari pengurus Masjid, "Bagi para jama'ah yang ingin ikut berbuka bersama di Masjid Istiqlal, kami persilakan untuk mengambil wudhu dan langsung menuju lantai 2". Berulang kali.

Itu juga yang saya lakukan. Berwudhu, menuju lantai 2, masuk ruang ibadah utama, melakukan shalat sunnah 2 rakaa'at, dan lalu beri'tikaf. Membaca beberapa ayat-ayat suci Al Qur'an, sambil sesekali menjawab pesan singkat dari istri tercinta, dan di sela-selanya saya tak lupa mengagumi Masjid ini.

Asma Allah masih terasa begitu diagungkan di sini. Seperti di manapun bumi dipijak, terutama di dalam Masjid tentunya. Tapi ada yang berbeda.

Di atas karpet merah tempat para ma'mum seringkali diimami Imam-imam besar, menghadap mihrab tempat ulama-ulama besar di Indonesia pernah berdiri, lalu melemparkan pandangan pada segenap sudut Masjid yang begitu luas dan megah, saya merasa makin kecil. Kecil di hadapan Allah SWT, kecil di antara entah berapa juta jama'ah yang pernah beribadah di sini, dan merasa kecil di antara sekian banyak perbedaan yang ada di muka bumi milik Allah ini. Masjid ini seakan berdiri dan berkata pada siapapun, "Islam diciptakan sebagai rahmatan lil 'alamin". Nyaris siapapun bisa masuk ke Masjid ini tanpa rasa minder. Mulai dari kaum paling papa hingga para raja, bahkan orang gila sekali pun. 

KULAAAAN ??? NU GELOOO ???

Ya, ketika saya tengah duduk di bagian tengah Masjid, ada seseorang yang mondar mandir di selasar sebelah utara sambil mengacung-acungkan jarinya seakan tengah memberi ceramah atau kajian pada jama'ah. Padahal saya perhatikan tak ada siapa pun di sekitarnya, dan bahkan orang ini pun sama sekali tak mengeluarkan suara. Hanya terlihat mulutnya terus komat kamit.

Dan tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 17.30, yang artinya sesaat lagi akan tiba waktu berbuka. Tapi kok jama'ah di dalam makin sepi? Dan seperti tak ada pergerakan dari siapa pun untuk bersiap berbuka. Tak terlihat juga pengurus Masjid membagikan hidangan berbuka, seperti yang saya alami di Masjid Agung Sunda Kelapa.

"Kalau gini caranya, saya harus cari buat berbuka ke luar Masjid nih...", sambil  saya langkahkan kaki ke luar.

Tapi baru saja sampai selasar Masjid, saya melihat sudah banyak orang yang duduk dengan rapi masing-masing menghadap 1 nasi kotak dan 1 botol air mineral. Hadeuh.....jadi selama ini mereka sudah pada anteng di sini. Pantesan di dalam makin sepi. Naaaa....ari urang ngadon diuk we di jero.

Tampang lapar semua :))
Setelah saya ikut mengatur barisan, eh.... duduk berbaris, terus terang saya sedikit kaget. Karena dengan setting-an seperti ini, bisa jadi jama'ah bakal "diarahkan" untuk langsung menyantap hidangan berat begitu azan dikumandangkan. Padahal sejak menikah, saya nyaris tak terbiasa lagi langsung berbuka dengan hidangan berat.

"Allahu Akbar....Allahu Akbar..."

Betul saja. Begitu muazin melafalkan takbir membuka azan, panitia langsung mempersilakan jama'ah untuk mulai berbuka, dan langsung berwudhu jika sudah selesai menyantap hidangannya untuk kemudian segera memasuki Masjid dan melakukan shalat Maghrib berjama'ah.

Alhasil, seketika itu terjadilah lomba menyantap nasi kotak dan segenap isinya :))

Nyam....nyam....glek....glek....nyam lagi....(snsor karena tulisan ini dibuat ketika waktu shaum)

Menurut informasi yang saya dapat, setiap harinya Masjid Istiqlal kedatangan hampir 4 ribu jama'ah untuk ikut buka bersama. Alhamdulillah, nyaris tak pernah surut pula donatur yang menyumbang berbagai hidangan unyuk menu berbuka. Seperti hari itu, ketika saya ikut di dalamnya. Hari itu, donatur terbesar datang dari Kedutaan Uni Emirat Arab.

Selesai menyantap hidangan, jama'ah pun segera merapatkan shaf untuk menunaikan ibadah shalat Maghrib. Jeda sesaat, lalu dilanjutkan dengan shalat tarawih yang terbagi ke dalam 2 sesi.

Ini yang unik di Masjid Istiqlal. Selain adanya pembacaan ayat-ayat suci Al Qur'an (hari itu dibacakan oleh salah seorang Juara MTQ Tingkat Nasional, dan Juara 3 - mudah-mudahan saya tak salah ingat - MTQ Tingkat Internasional), ada 2 sesi shalat tarawih. Yang pertama adalah untuk mereka yang memilih 11 raka'at. Dipotong dengan shalat witir 3 raka’at, lalu dilanjutkan lagi dengan sesi kedua shalat tarawih untuk mereka yang biasa memilih 23 raka’at.

Itulah secuil kisah saya #GowesToMosque di episode Masjid Istiqlal.

Masih banyak Masjid yang tak kalah menarik. Sampai bersua di coretan saya berikutnya.






Bayu Adhiwarsono©