Rabu, 15 Juli 2009

HATI-HATI KAMU !

dengarkan sepatu lars itu berderap rapat-rapat nyaris tanpa jeda
kekuasaan dengan gagah disangkutkan di bahu kanannya
mengimbangi lengan kirinya yang menenteng arogansi kosong
tapi dia bukan berseragam loreng nan menakutkan
hanya dasi yang menjadi penanda statusnya,
setidaknya itu yang dia kira

tangannya menunjuk
matanya memerintah
sementara kakinya menjejak kuat di pagar-pagar tirani
yang seingatku dia butuh bahuku kala menaiki pagar tinggi itu

"hati-hati kamu !"
buzz itu berbunyi di instant messenger ku
tapi sepertinya bukan peringatan tanda kasih yang kubaca
tanda-tanda tirani lebih tepat
tanda-tanda kekuasaan lebih terasa
dan dia mungkin saja sadar atau tidak ditengah mabuknya
mabuk karena kekuasaan

"kamu tak punya hak bicara
karena kamu bukan siapa-siapa!"
instant messenger ku kembali bergoyang

memangnya aku bicara apa ?
membakar.....mungkin
menghasut....bisa jadi
mencaci....nyaris pasti
tapi aku tak pernah bicara apa-apa

karena jangankan bicara,
mendengar suara sepatu lars mu pun
yang bersuara rapat-rapat nyaris tanpa jeda
membuat aku cukup tahu, KAMI tak punya hak !

KAMI hanya punya hati,
sesuatu yang sejak lama lupa kau kantongi di saku belakang celanamu !



jakarta, limabelas ketujuh diduaribusembilan, 19.14




Bayu Adhiwarsono ©

AKU INGIN MENARI

sesederhana kata anganku mencari
semungkin arti citaku melayang

tapi aku lagi malas berlari malam ini
menari pun tampaknya bukan untukku

jemariku mungkin lebih memilih terlelap
seperti kalian di separuh malam yang lain


jakarta, limabelas ketujuh diduaribusembilan, 02.05




Bayu Adhiwarsono ©

Selasa, 14 Juli 2009

TERBANG

kalau saja aku bisa terbang tinggi, kau takkan kubawa serta. karena aku tahu kau takut akan ketinggian. kan kubiarkan kau tetap menjejak bumi menunggu ku pulang dengan cinta di atas nampan yang kau hidangkan di meja teras. tapi jangan menungguku selalu, karena aku pun tak tahu kapan aku akan pulang. tapi jika kau tetap memutuskan untuk menunggu. menunggulah sambil menyanyi. biar aku tahu dimana kau berada dan ku tak kan tersesat di balik awan.

temanku pernah bilang jangan terbang terlalu tinggi. bukan terbangnya yang ia kuatirkan. jatuh lah yang ia takutkan. tapi aku tak pernah ingin mendengarnya. karena aku tetap ingin terbang setinggi yang kumau dan kubisa.

aku tak takut jatuh.
aku takut tak bisa terbang.



jakarta, empatbelas ketujuh diduaribusembilan, 19.50





Bayu Adhiwarsono ©

Jumat, 10 Juli 2009

10.07

:Alsi Nur'Khalisah, peluk penuh cinta untukmu hanya.


aku kehilangan kata-kata
disaat seharusnya mereka meluncur dengan mesra
menghanyutkan semua rasa
membuai segenap cinta dan kerinduan

sekepal keberanian ternyata tak cukup
untuk
membingkai kata-kata yang ingin kusampaikan
padamu

biarlah semua nafasku
jadi puisi cinta untukmu
sebelum lalu diam abadiku
gantikannya nanti

jakarta, sepuluh ketujuh di duaribusembilan, 01.06





Bayu Adhiwarsono ©

Kamis, 09 Juli 2009

AKU INGIN PULANG

hmmmm....
malam kembali mulai larut. dan ini saatnya aku kembali bercinta denganmu. mengucapkan berjuta rayu lewat ketukan jari jemari. sambil kubakar sebatang rokok. kuingin asapnya mengantarkan rinduku jauh ke langit malam. kuberharap di tengah perjalanannya akan menemukan dirimu.

mataku memang aku akui sudah mulai meredup di malam sedini ini. bukan karena sisa bercinta yang pasti. karena kemarin tampaknya malam lebih memilih mendung. dia bilang padaku lebih bergairah walau tak lebih menggigit. aku tahu itu.

ahh....
tapi aku ingin pulang. aku sudah jenuh dengan malam.
aku ingin pulang ke pelukmu. karena malam tak pernah memelukku. dia hanya mengajakku bercumbu. dari mendung ke mendung. dari senja hingga jelang pagi. tanpa koma hingga titik.

aku ingin pulang dan menangis di cintamu saja untuk beberapa lama. setidaknya hingga kau membunuhku lagi.


jakarta, sembilan ketujuh di duaribusembilan, 23.23




Bayu Adhiwarsono ©

DAMAI DI LEHER JENJANGMU

malam ini mungkin kau lebih memilih untuk membisu. berselimut seperti biasanya hingga batas leher jenjangmu. damai tidurmu itu yang selalu membuatku cemburu. walau terkadang memang ada senyum tangis maupun dengkur merdumu. tapi aku bahagia ketika kau tersentak membentak aku ada di sisimu hanya untuk membelai. hanya. hanya untuk mencoba membuatmu kembali terlelap. damai. yang membuatku cemburu.

sisa tangis siang tadi mungkin memang meninggalkan jejak sembab di indah matamu. bekas amarahmu mungkin masih memerah di leher jenjangmu yang setengahnya tertutup dua lembar selimut. caci maki yang sempat kumuntahkan sepertinya masih membuatmu terisak. tapi entah mengapa aku yakin kau pasti masih bisa terlelap dalam damai. damai. yang membuatku cemburu.

malam ini mungkin kau masih ingin membunuhku dalam cintamu. tak apa sayangku. tak apa jika itu memang bisa membuatmu damai. damai dalam lelap. lelap yang tak membuatku secemburu pada damaimu.

bakar kenangan tentangku. bakar hanya untuk malam ini saja. aku lebih memilih disiksa cemburu. cemburu akan damai. damai ketika kau lelap. lelap ketika dua lembar selimut menutupi hingga leher jenjangmu. leher jenjangmu yang tak kugeluti malam-malam ini.


jakarta, sembilan ketujuh diduaribu sembilan, 01.32




Bayu Adhiwarsono ©

Rabu, 08 Juli 2009

KAU ADALAH CUKUP

terus....
muntahkan semua makimu
maki semua muntahmu
tak usah dengarkan aku
pun jeda sejenak saja

lalu....
bakar semua cinta kita
hancurkan mimpi di malamku
jangan berhenti kini
tidak saat kau jauh
seperti biasa

masih ada yang tersisa di dompetmu kah ?
bukan foto ku itu aku yakin
senyumnya tak ada walau tersurat
rasanya yang dulu menggenap
kini tinggal ganjil tak cukup walau untuk sekedar mengganjal
tangis dan marahmu

kau bisikkan cintamu dengan guratan urat di lehermu
kau kecup keningku tapi tanganmu melambai menampar
lenganmu merangkulku sementara kakimu menendang
cintaku

"kau hidup matiku"
itu yang kau tulis di surat cintamu tahun lalu
tapi sungguh aku tak mengerti
mengapa kau memilih membunuhku
perlahan dan terus

aku tak ingin cintamu seperti sebatang rokok yang kini kuhisap
perlahan menguap jadi asap dan hilang
namun habis kala kuhisap sedikit cepat

aku tak ingin rembulan yang lain
aku tak mau bintang yang lain
kau adalah cukup bagiku
lebih adalah yang tak kuinginkan seperti kurang walau sedikit

aku tahu hanya malam yang bisa setia kucumbu
jadilah malam bila memang kau mau
tolong
jangan jadi pagi untukku
karena pagi datang hanya sesaat
menipu terik yang akan datang
mengganggu lelap
dan mengantar kabar segala yang buruk untukku
seperti keringat
seperti darah mungkin
atau bahkan seperti tulang belulang kenangan yang sudah kubakar
habis
sejak enam tahun lalu

kau adalah cukup bagiku
tak bisakah aku jadi cukup jua untukmu ?

jakarta, delapan ketujuh di duaribusembilan, 22.37




Bayu Adhiwarsono ©

Selasa, 07 Juli 2009

JALAN BUNTU

malam sudah akhir, pagi belum jelang, rindu yang masih mengepung....
jemari sudah lelah menanti kata yang tak juga terucap
padahal malam seperti biasa setia menungguku di tikungan kemarin

namun lelap belum juga mampir,
mungkin nanti
seperti cinta yang hadir mulai siang hingga petang




Bayu Adhiwarsono ©

I NEED A GLASS OF WINE

"i need a glass of wine....to netralize...", sebaris kata-kata itu terdengar diantara dentuman dan hentakan. padahal bukan itu yang ingin kudengar malam ini atau bahkan di malam-malam yang lain.

"show me the way back to your heart...", satu bait lagi kali ini dihantarkan Bryan McKnight. padahal aku tak sedang ingin menyanyikan lagu itu setidaknya tidak malam ini..

"i don't wanna wait in vain for your love...", Bob Marley ikut menyumbang langgam. padahal aku tak sedang menunggu siapapun rasanya.

malam ini sepertinya itunes lagi ingin bercanda. dia nyanyikan lagu yang tak ingin kudengar. dia hantarkan lirik-lirik yang tak ingin kusenandungkan. dan dengan seenaknya skip semua lagu yang kutunggu.

tiba-tiba kini terdengar Anggun bersenandung, "still remind me of you...". ini baru laguku malam ini, setidaknya untuk penggalan lirik yang itu saja. apalagi kalau bukan malam yang mengingatkanku padamu. damainya mirip sekali damai tidurmu. heningnya seperti ketika kau bermimpi. dan tawa gemintang, mengingatkanku pada bahagia yang kau hadirkan untukku.

tahukah kau arti dirimu untukku....



jakarta, tujuh ketujuh di duaribusembilan, 02.35






Bayu Adhiwarsono ©

Rabu, 01 Juli 2009

CARAMEL MACCHIATO

lima tahun lalu aku mulai jatuh cinta padanya

buih-buih yang tercipta,
kala membeku pun bergolak
aroma tubuhnya yang khas,
membelai dahaga yang menanti

lima tahun lalu aku mulai jatuh cinta padanya

sejak saat itu pula,
mabuk aku dibuatnya
padahal, tak mungkin ada alkohol di tubuhnya
yang cair, melenakan, namun membuatku terjaga

si mbah wiki bilang,
ada duabelas langkah penciptaan dirinya
namun aku tak punya alasan sebegitu banyaknya,
untuk membuatku jatuh cinta padanya

lima tahun lalu aku mulai jatuh cinta padanya

setiap cumbuan tak lantas membuatku tertidur puas
setiap kecupan dengannya tak pernah terlupakan

karena selama lima tahun pula,
orgasme bersamanya tak pernah terasa menjemukan


jakarta, satu ketujuh diduaribusembilan, 19.28





Bayu Adhiwarsono ©