Sabtu, 28 Maret 2015

إِنَّا لِلّهِ وَإِنَّـا إِلَيْهِ رَاجِعونَ‎

 

Kematian itu terkadang terasa seperti sebuah lelucon yang buruk. Ia lebih sering datang lebih dulu menghampiri orang-orang terkasih, terdekat, bukan yang lain. 

14 April 2010, perempuan yang mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan sesosok manusia yang belum tentu berguna ini,dipanggil Illahi. Penyesalan karena merasa dipisahkan oleh jarak tinggal, tak pernah hilang dari hati hingga detik ini. Dulu kami lebih sering seperti sepasang kekasih. Jalan bergandengan, saling mencurahkan isi hati.

Hampir 5 tahun berselang, 20 Maret 2015, giliran adik tercinta yang dihampiri maut. Dari 2 adik, almarhum lah adik yang paling dekat dalam hal apa pun. 

Dia adalah sahabat, sekaligus belahan jiwa.
Terlahir hanya berbeda 9 bulan karena prematur, Adhi -begitu panggilannya di keluarga kami- seperti kembaran buat saya. Sejak TK, saya dan adik yang satu ini hampir selalu 1 kelas. SD 1 kelas, SMP kami sempat pisah (saya baru sadar, nilai saya waktu itu hancur. Mungkin saya patah hati), SMA kami kembali 1 sekolah walau tak sekelas, kuliah kami sempat 1 kelas sebelum kemudian memilih jurusan yang berbeda. Tapi tetap 1 kampus. Itu mengapa, mayoritas teman kami adalah teman yang sama. Dan mereka banyak yang menyangka kami memang kembar, bahkan hingga saat ini.

Kami berdua punya segudang cerita bersama. Manis, pahit, bahkan yang menyakitkan. 

Menyaksikan buku-buku pelajaran dibakar ayah kami (saya menangis, sementara dia cuma terdiam tak acuh), dihukum berdiri berduaan dari Isya hingga Shubuh, berduaan pula merasakan nikmatnya dipecut sapu lidi, hingga dibiarkan tidur di teras rumah karena pulang lewat jam malam (20.00 WIB) sampai adzan Shubuh berkumandang. Cerita bersama itu lah yang mendekatkan kami.

Beberapa bulan lalu kami sempat bernostalgia, menertawakan semua kekonyolan di masa lalu, bercerita pada anak-anak kami seakan-akan kisah-kisah pahit itu kenangan indah dan lucu. 

Beberapa bulan lalu, waktu yang terlalu lama. Penyesalan memang tak pernah terjadi di awal.

Kini, jasadnya sudah terbujur di samping kubur ibunda kami tercinta. Dua orang terdekat saya sudah pergi. 

Dan percayalah, waktu selalu jadi sumber penyesalan.


jakarta, duapuluhdelapan ketiga di duaribulimabelas, 00.47


Bayu Adhiwarsono©