Minggu, 19 September 2010

KAU, MEMBUSUKLAH !

pernah aku mempertanyakan mana musuh yang harus kusudahi nafasnya ?
pernah kau lihat aku ragu mengambil langkah seperti titahmu ?
atau pernah kau dengar aku kembali tanpa potongan telinga yang kukuliti ?

lalu
kemarin kau bilang aku tak ikut berperang
seperti kau
seperti para jenderalmu yang lantang berteriak dari balik meja
seperti meriam yang gegap gempita melelehkan baja
seperti petir yang tanpa kau komando menyambar tenda-tenda musuh

lalu
kemarin kau palingkan muka
menjauhkan sapa
dan membakar tanda pangkatku
di belakang punggung hina ku

salah bila
aku mengutukmu hingga terhancurkan masa
dan tenggelam di tengah buih ludahmu sendiri ?

dan ketika hari suci mu tiba,
ku harap kau masih layak disucikan
hingga tak basi lalu terbuang


jakarta, sembilanbelas kesembilan di duaribusepuluh, 22.05


Bayu Adhiwarsono©

Sabtu, 18 September 2010

TERIMA KASIH, TUAN !

kau boleh berkata semaumu,
berteriak sesukamu,
menghantam sekeras mungkin,
memaki selantang apa pun,
lalu pergi

kau boleh menginjak,
meludah,
menghinakan,
lalu pergi

tapi tolong ku pinjam telingamu,
bukan untuk mendengarku bicara karena itu tak guna

dengarkan saja tepuk tangan gegap gempita
juga siulan nyaring
semuanya bukan untuk mengejek Tuan

itu tanda kagum kami,
betapa manusia sepertimu masih layak disebut manusia

terima kasih


 jakarta, delapanbelas kesembilan di duaribusepuluh, 21.09

Bayu Adhiwarsono©

APA PEDULIMU ?

di persimpangan tadi aku menemukan pembakaran dan penusukan
bukan pembakaran kitab suci
atau penusukan insan religi

pembakaran dan penusukan yang tertinggal jaman, pikirku
mungkin karena sang pelaku tak pernah menonton televisi,
atau terlalu miskin untuk membeli satu

mungkin juga karena ia tak kenal lembaran tabloid
selain sebagai penawar lapar dan dahaga
dijual kilo demi kilo

dan aku,
demi kekurangajaran bertajuk peduli
memaksakan lidah untuk bertanya
bukan siapa dan mengapa,
pelaku dan alasan pembakaran juga penusukan
hanya, "apa yang kau bakar dan kau tusuk?"

tapi mulutnya terkatup rapat,
mungkin karena dahaga dan lapar
yang belum terpuaskan

hanya matanya yang menjawab,
setidaknya itu yang mampu kuartikan sendiri
"apa pedulimu, selama bukan kau yang aku bakar dan tusuk ?"


jakarta, delapanbelas kesembilan di duaribusepuluh, 20.50


Bayu Adhiwarsono©

BUKAN BERLARI

Berpikir ulang,
Berhitung ulang,
Dan mulai melangkah pelan
Seperti orang kebanyakan

Bukan berlari.

Itu setidaknya persembahanku
Sejak kini

Tak perlu tepuk tanganmu,
Seperti juga tak perlu
Aku berlari
Atau bahkan anggukan
Tanda paham

Kau
Seperti juga para putra mahkota lainnya

Lalu aku
Tak perlu seperti kau

Melangkah pelan,
Bukan berlari.

Terima kasih.

Karena kau,
Aku bisa kembali
Menangis.


bekasi, delapanbelas kesembilan di duaribusepuluh, 01.18

Bayu Adhiwarsono©

Jumat, 03 September 2010

JANGAN GANGGU DARKO ?


3 tahun berlalu, sejak saya menulis soal JANGAN GANGGU IURIE !!!. Kala itu, slogan “from zero to hero” seakan berbalik 180° menjadi “from hero to zero”, bagi sang pria asal Moldova, Arcan Iurie. 

3 tahun berlalu, sejak Iurie dipuji lalu mendadak dicaci. Tapi mimpi saya dan mungkin puluhan ribu hingga ratusan ribu bobotoh, untuk kembalinya kejayaan PERSIB, sudah jauh lebih lama berlangsung. Mimpi indah, berubah menjadi mimpi buruk, kembali indah, dan lagi menjadi buruk. Terus berulang dan berulang.

Jengah, bosan, marah, putus asa, memang berkecamuk. Hanya kecintaan sejati pada Pasukan Biru, yang lagi-lagi mampu meredam segala gundah, dan kembali saya diselimuti harapan, perasaan yang begitu menjadi gejolak khas awal musim.

Jelang musim kompetisi Indonesia Super League (ISL) 2010-2011, Daniel Darko Janackovic ditunjuk menjadi penguasa kursi panas pelatih Persib. Sudah pasti, banyak tanya, keraguan, bahkan ketidaksetujuan atas penunjukan pria yang akrab dijuluki DDJ ini. Sebelumnya, bobotoh sempat mendapat angin segar ketika Rahmad Darmawan digosipkan bakal segera berlabuh. Tapi layaknya rumor yang beredar setiap jelang awal liga bergulir, tahun ini kembali harapan untuk mendatangkan pelatih karismatik ini harus menguap begitu saja. Ada juga nama Jackson F Tiago, yang sempat menjulang bersama Persebaya dan Persipura. Tapi seperti halnya RD, rumor berlabuhnya pelatih murah senyum dan terbiasa menyelipkan tusuk gigi di bibirnya itu ternyata hanya isapan jempol belaka. 

Kini DDJ lah yang “berkuasa”. Dan semua mata bobotoh seakan terbelalak sekaligus bertanya, “Saha Darko teh ?”. Belum juga pertanyaan itu sepenuhnya terjawab, saat itu pun tiba, saat memalukan !!!

Liga memang belum bergulir. Tapi Persib sudah mencatatkan hasil MEMALUKAN, ketika dipecundangin Sriwijaya FC di ajang pra-musim Inter Island Cup (IIC). Tak tanggung-tanggung, setengah lusin gol, bersarang di gawang Maung Bandung, yanng malam itu seakan kehilangan semua taringnya.

Suara-suara sumbang pun kembali terdengar. Cacian yang 3 tahun ditujukan untuk Arcan Iurie, kini kembali terdengar. Mulai dari bobotoh yang menjuluki dirinya “bobotoh garis keras” hingga “bobotoh sejati”. Makian terdengar dimana-mana, tapi nada sabar juga terdengar tak kalah lantang. 

Ya, hasil kalah 0-6 dari Sriwijaya FC di IIC memang memalukan.

Tapi pantaskah kita berteriak “PECAT DARKO !!!”, kala laga sesungguhnya belum bergulir ?

Pantas pulakah kita membela dengan berteriak tak kalah lantang “JANGAN GANGGU DARKO !!!”, ketika di partai pemanasan saja, hasil yang begitu buruk dan memalukan itu terpampang di depan mata kita ?

Semoga kearifan, menjadi pagar kita semua. PERSIB NU AING !!!

jakarta, tiga kedelapan di duaribusepuluh, 21.55


Bayu Adhiwarsono©