Sabtu, 09 Januari 2016

GOWES JAKARTA - BANDUNG (1ST LONG DISTANCE TOUR WITH SI KEONG)

Mumpung masih segar dalam ingatan, saya ingin bercerita soal touring jarak jauh perdana saya dengan sepeda. Sebelumnya, paling jauh rute yang pernah saya tempuh adalah Utan Kayu-Marunda-Utan Kayu (61,7 km).

Kali ini saya memberanikan diri menempuh perjalanan yang lebih jauh, dan lebih lama tentunya.

Mengalahkan diri sendiri, membuktikan kebasaran Allah, dan membuktikan betapa saya tak punya hak sombong. Itu alasan yang saya kasih ketika meminta ijin dadakan ke istri buat gowes Jakarta - Bandung. Ya, Jakarta - Bandung, sebuah perjalanan panjang dengan sepeda, yang sejak awal memang saya perkirakan bakal menguras tenaga dan tentunya emosi.

Niat awal, menyesuaikan dengan rute harian, targetnya adalah berhenti selama 5 menit setelah tiap 1 jam gowes -Rencana yg kemudian berantakan.... Hehehehe....-.

Oya, setelah googling, jarak yang paling dekat adalah menyusuri Kalimalang, lalu tembus Purwakarta, Padalarang, dan tiba di Bandung. 


03.30 

Bismillah,

Saya start dari Utan Kayu, Jaktim. Tak banyak bekal yg saya bawa. Berbekal ransel, bawaan harus seirit mungkin. Sepasang baju ganti, tools, patch kit, 10 buah cemilan coklat bar, 2 botol isotonik total 0,5lt, handuk kecil, baju bersih buat shalat, sabun mandi, saya kemas dalam backpack. Sementara tas paha yang saya lilitkan di top tube, saya isi counterpain, dompet, HP, dan powerbank. Plus, 1 bidon alias botol minuman saya simpan di bottle cage.

Saya gowes layaknya ritme gowes sehari-hari, dengan average speed 18-20 km/jam. Sebuah keputusan yang ternyata salah, dan berbuntut pada kelelahan yang sangat di setengah perjalanan terakhir. 

04.30

Berhenti di Kranji. Tepat waktunya shalat Shubuh, sekaligus sarapan nasi uduk. Agak lama berhenti di sini, sekitar 30 menit.

05.00 

Saya lanjut perjalanan. Udara sejuk, lalu lintas masih lumayan sepi.

05.30

Ngantuk mulai menyerang, maklum sebelumnya cuma sempat tidur 2 jam karena gelisah. Baru gowes 30 menit, mata berat banget. Berhenti di sini, karena saya lihat ada pos polisi, ada warung kopi, pas. 10 menit saya berhenti di sini. Sambil mikir, yakin gak ya bakal lanjut. Apalagi, polisi yang ikut ngopi bareng saya wanti-wanti, "Lama-lama berat lho mas bawa ransel. Saya aja kalau jalan latihan bawa senjata, 1 km pertama masih normal di tangan kanan, 1 km berikutnya pindah tangan kiri, lama-lama dipanggul tu senjata. Alagai ini bawa ransel. Kuat apa ke Bandung?".

Tapi saya pikir, masa saya kalah sama Pak Rudi -salah satu inspirasi saya dalam melakukan perjalanan ini- yang kuat gowes Jakarta - Bali.

06.00

Kembali melanjutkan perjalanan. Matahari makin naik. Lalu lintas makin ramai.

Beberapa kali saya berhenti, sengaja ngirim poto buat istri dan dua jagoan yang menanti saya di Bandung.

[​IMG]
Di daerah Jababeka. Matahari mulai muncul.


06.20

Di daerah Hegarmukti, betis tiba-tiba terasa mau kram. Saya langsung melipir, oles Counterpain. Sekalian saya cek Heart Rate, 132 bpm. Aman, masih jauh dari ancer-ancer Max HR saya yang 180 bpm. Saya pun melanjutkan perjalanan.


[​IMG]
Betis mau kram, tapi selfie tetep jalan terus :P


07.30

Ambil nafas bentar di Al Azhar Memorial Park. Teringat, bahwa gowes kali ini saya niatkan sebagai gowes spiritual.

[​IMG]
Security-nya cuma senyam-senyum saya photo sepeda di sini. Mungkin dipikirnya suatu hari nanti saya mau menguburkan sepeda saya di sini :P


08.00

Persediaan air minum mulai menipis di daerah Sumur Kondang. Melipir, pesen kopi, dan bekal air mineral 2 botol ukuran sedang. Sekalian berteduh, karena panas makin menyengat. Apalagi saya lirik sekitarnya banyak pabrik pengolah batubara, pantesan hawanya menyengat betul.

[​IMG]
Berpikir keras, "Yakin nih bakal sampai ke Bandung?"

[​IMG]
Si Keong neduh juga deh :P


Oya, jalanan sepanjang Jl. Peruri benar2 kurang bersahabat untuk ban saya yg berukuran 26x1,50. Awur-awuran deh jalannya. Lubang dengan permukaan beton yang hancur, ada di mana-mana.

09.00

Menginjak daerah Curug Purwakarta.

Matahari makin terik, (maaf) biji mulai tak berasa, yang lain aman terkendali. Tapi jalanan keluar dari daerah sini hingga ketemu Jl. Industri, benar-benar kacau. Lebih awur-awuran. Lubang, lumpur, dan batu, semua campur aduk. Butuh kehati-hatian dalam memilih jalur, jika bersepeda dengan ban berprofil road.

[​IMG]
Nampang dulu di Curug Purwakarta


Saya tahu, selepas daerah ini tanjakan bakal mulai menghadang.

Sempat ttb 2 kali di daerah Jl. Industri yg saya lupa nama persisnya. Yang pasti pertama ada gapuranya, yang kedua pas sebelum SPBU.

Hati saya makin meragu, gimana nanti nasib saya di tanjakan Purwakarta sampai Padalarang ?

11.30

Saya sempatkan makan siang, beli lagi persediaan minum, beli pisang untuk doping dan shalat jumat di sekitar TMP Purwakarta. Sekalian beristitahat lumayan lama, menyiapkan fisik untuk tanjakan2 yang bakal menghadang hingga sisa perjalanan. Bahkan saya sempat tidur sekitar 15 menit.

13.00

Saya putuskan untuk melakukan sisa 60km perjalanan. Ternyata sekitar 100 km sudah saya lalui. Masa mau balik lagi?

Dan betul saja, mulai Purwakarta "neraka" itu dimulai. Sepeda lebih sering saya tuntun daripada saya tunggangi. Saking sengsaranya, hingga perjalanan usai saya cuma sempat 3x ambil photo. Sisanya..... jangankan ambil photo, masih bisa nafas aja sudah untung.

[​IMG]
Dari salah satu puncak tanjakan ini, saya bisa melihat ternyata kekuatan kita sebagai manusia tak ada apa-apanya dibanding kekuatan alam.


[​IMG]
Truk yang menggunakan mesin pun menyerah. Saya? Mending ngaso dulu deh....


[​IMG]
Tanjakan berserinya bikin kapok, sekaligus nagih. Aneh.


Sempat berhenti Ashar di daerah kebun teh. Fisik makin tergerus, nafas tinggal sisa, dengkul makin ngilu, badan lengket keringat luar biasa.

Waktu bergerak cepat, tapi jarak seperti tak bertambah. Bahkan ketika Mahrib tiba, saya masih berada di Panglejar, tak jauh dari tempat saya berhenti ketika ashar. Di sini saya memutuskan untuk mengisi perut. Menu nasi dan ikan mas goreng jadi pilihan. Lumayan untuk menambah tenaga, yang main habis.

Tak berani berhenti lama, karena jalanan makin gelap. Padahal cita-cita awal saya, sampai rumah di Bandung sebelum gelap.

Beberapa turunan di daerah ini hingga sebelum gerbang tol Cikamuning pun jadi surga buat saya. Saking "dendamnya" kecepatan tertinggi saya torehkan di sini. 68 km/jam berdasarkan Strava.

[​IMG]
Terlihat kan? Setiap ketemu tanjakan, kecepatan langsung nge-drop. Turunan, langsung melesat :)


Tapi ternyata siksaan itu belum berakhir. Dari Gerbang Tol Cikamuning sampai pintu rel kereta Padalarang, tanjakan panjang dan terjal kembali menghadang. Tapi untungnya -Alhamdulillah- dari pintu rel kereta Padalarang ini hingga akhir perjalanan, yang tersisa adalah turunan dan jalan datar. Beberapa jalan masih ada yang menanjak, tapi tak terlalu berat lagi.

Dan akhirnya, baru tepat pukul 21.00 saya menginjakkan kaki di rumah.

Ini adalah catatan berdasarkan Strava,
Jarak: 161,7 km
Total waktu: 17 jam 30 menit
Moving time: 10 jam 44 detik.
Total waktu istirahat : 7 jam 30 menit.

[​IMG]
Ini rute perjalanan saya




[​IMG]
Ternyata macam ini elevasinya.....pantesaaaaan...

36,7 persen nanjak

Sekian touring jarak jauh perdana saya. Masih kapok nemu tanjakan.... . Eh, tapi nagih juga sih. Bingung kan? Silakan coba sendiri.



* Ini lengkapnya:
https://www.strava.com/activities/465764839


* Terima kasih ya Allah atas segala kekuatan yang Engkau berikan, juga Alsi Nur'Khalisah atas ijin dan do'anya, dan tentunya kedua anak saya Muhammad Hideyoshi 'Abdul 'Aziz Adhiwarsono dan Umar Chiaro Benzema Adhiwarsono yang senenatiasa memecut semangat saya.



8 Januari 2015





Bayu Adhiwarsono©

2 komentar:

  1. Balasan
    1. Iya, nte. Episode perdana ini justru saya gowes sendiri. Nyaris nekat sebetulnya. :-P

      Hapus