Sabtu, 07 November 2015

CLBK

Cinta Lama Bersemi Kembali, CLBK.

Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan saya dengan sepeda sekarang ini.

Kok CLBK? Seperti yang pernah saya tulis di sini, saya pernah mengalami masa di mana sepeda sepertinya bukan hal yang menarik minat saya. Tak punya sepeda, tak ingin punya, tak ingin pinjam, dan tak terpikirkan untuk suatu hari punya sepeda lagi.

Awal sih saya beli sepeda ini memang ini untuk keperluan alat transportasi ngantor. Tapi kalau sudah di atas sadel, kaki seakan malas untuk berhenti gowes, dan tangan rasanya ingin selalu menggenggam handle-bar. 

Kesan pertama ketika gowes dari TKP transaksi di Palad sampai kantor, lumayan. Lumayan ngos-ngosan maksudnya :)

Begitu juga ketika pulang dari kantor menuju kost di Utan Kayu. Lutut pegel, bokong ngilu, baju basah kuyup karena keringat. Plus tanpa lampu, lengkap sudah.

Sebelum dipakai gowes lebih lanjut, ada beberapa hal yang saya pikir WAJIB dimiliki untuk menemani saya dan Si Keong membelah jalanan ibukota. Langsung saya cari toko asesoris sepeda yang bisa kirim barang cepat, biar bisa cepat-cepat gowes juga.

Toko sepeda Yerikho, saya lihat di halaman Facebook-nya menjual asesoris sepeda lumayan lengkap. Saya coba tanya-tanya via WhatsApp, sangat responsif. Bahkan saya masih ngobrol hingga jam 23.00, untuk melakukan pemesanan. Setelah melakukan pembayaran melalui transfer, pihak toko pun janji akan mengirim barang keesokan paginya dengan menggunakan jasa Go-Jek.


* harga adalah perkiraan, sudah lupa harga persisnya kala itu
Helm Avand                       Rp. 185.000
Lampu depan-belakang   Rp. 145.000
Bel                                        Rp.   45.000
Rantai sepeda (kunci)     Rp.  45.000

Tidur sekamar berdua bareng Si Keong

Sayangnya, lampu depan yang saya terima tak bisa menyala. Duh, padahal ini salah satu item yang paling penting. Karena hampir tiap hari saya baru pulang dari kantor malam atau bahkan dini hari. Beruntung pihak toko mau menerima keluhan saya. Tapi saya pikir daripada melakukan nunggu barangnya dikirim kembali, mending saya samperin saja tokonya. Hitung-hitung membiasan lutut yang sudah sekian tahun tak menggowes sepeda.


Parkir dulu seberang kost
Akhirnya saya memutuskan untuk gowes ke Toko sepeda Yerikho di daerah Kramat Jati. Selain untuk menukarkan lampu depan yang tak menyala, juga mau lihat-lihat beberapa asesoris lain yang ingin saya beli. Tak jauh, hanya 9 km. Tapi namanya juga lama tak gowes, saya sampai harus berhenti 2 kali di tengah perjalanan, hanya untuk sekedar mengatur nafas. Butuh 1 jam gowes, baru saya sampai di Yerikho. Luar biasa. Luar biasa bikin malu :)

Ini adalah daftar belanja tambahan saya di Yeriho:


* harga adalah perkiraan, sudah lupa harga persisnya kala itu
Bar-Ends merk Sapience         Rp.  75.000
Bottle Cage                                Rp.  35.000
Bidon                                           Rp.  25.000
Down Tube Fender                     RP.  50.000

Tadinya saya ingin menebus sepasang sarung tangan. Tapi sayang harganya tak sesuai dengan isi dompet. Di tengah perjalanan pulang pun akhirnya saya menambah daftar belanjaan awal untuk keperluan gowes dari penjual sarung tangan di pinggir jalan. Hanya 20 ribu Rupiah :)

Mau intip perjalanan saya ke Kramat Jati? Silakan tengok di sini.

Ah.....sudah lumayan lengkap untuk keperluan gowes sehari-hari. Waktunya menikmati peluh.
Mejeng dulu seberang kost dengan asesoris terbaru :)

Terlihat kan perbedaannya ?

Before





After

















Sambil ngaso, saya coba hitung pengeluaran awal Si Keong. Total dengan sepeda, Rp. 1.605.000. Hmmmm........masih terhitung murah untuk sebuah alat transportasi :)




Bayu Adhiwarsono©

Minggu, 01 November 2015

SI KEONG

Sepeda adalah salah salah satu cinta lama saya.

Saya ingat betul, salah satu barang/mainan ketika kecil yang membekas hingga sekarang.....ya sepeda. Roland, itu adalah merk sepeda yang pertama kali orang tua belikan untuk saya dan Almarhum adik saya. 1 sepeda untuk berdua. Ya, karena saya dan adik saya hanya berbeda usia 9 bulan, kami jadi seperti anak kembar. Sampai soal mainan atau sepeda pun, kami memang sering berbagi.

Sepeda itu bahkan jadi "senjata" andalan kami ketika bermain bersama anak-anak tetangga di sekitar rumah kami. Ketika yang lain sudah merasakan kehebohan memiliki sepeda BMX sejak masih kanak-kanak, saya harus menunggu hingga kelas 1 SMP. Dan masih untuk berbagi. :P

SMA hingga kuliah saya mungkin terhitung nyaris tak pernah bersentuhan dengan sepeda, entah kenapa. Cinta monyet sepertinya bisa jadi kambing hitam. :)

Baru setelah lulus kuliah saya kembali punya sepeda, sebuah MTB vintage second, yang saya beli patungan dengan adik saya dan ditambahi oleh orang tua kami. Saya lupa merk-nya apa, yang pasti "berbau" Jepang. Berwarna hijau, frame besi (tentunya), v-brake, dengan tanduk alias bar ends berwarna biru (gak nyambung sama warna frame :P). Cuma secuil itu yang saya ingat.

Tapi walaupun tampangnya seadanya, sepeda vintage itu punya jasa lumayan besar untuk saya dan adik-adik saya. Karena sepeda inilah yang membantu tugas kami mengantarkan pesanan koran/tabloid/majalah ke para pelanggan, ketika kami sempat menekuni usaha loper kecil-kecilan.

Ketika tahun 2002 saya memutuskan untuk bekerja di Jakarta, sepeda seakan begitu saja terbuang dari hidup saya. Tak hanya sebagai alat transportasi -yang dengan mudahnya tergantikan oleh mobil dan motor-, tapi juga sebagai salah satu hobi saya. Ketika mungkin nyaris semua orang heboh dengan Bike to Work, saya seakan sama sekali tak tertarik untuk kembali bersepeda.

Baru tahun lalu, tepatnya sekitar bulan Oktober, entah dari mana asal muasalnya, saya tiba-tiba memutuskan untuk memilih sepeda sebagai alat transportasi saya di Jakarta. Setelah mobil lebih dulu saya tinggal di Bandung, motor pun menyusul. Keduanya mendadak tak menarik lagi buat saya gunakan sebagai alat transportasi sehari-hari. Dana yang saya siapkan untuk membeli sepeda pun tak banyak. Toh saya pikir sepeda yang hendak saya beli hanya akan saya gunakan untuk keperluan kost-kantor-kost, tak lebih.

1 juta Rupiah, cuma itu yang saya anggarkan untuk membeli sebuah sepeda. Tak muluk-muluk, kategori yang saya pilih ketika berburu sepeda kala itu hanya:
- MTB
- Rem cakram
- Kondisi layak pakai untuk trip tak lebih dari 10 km

Beruntung, saya akhirnya menemukan sebuah sepeda yang memenuhi kategori itu. Sebuah Wimcycle Roadchamp DX 18" berwarna putih yang saya peroleh dari sini. Si Keong, itulah nama yang saya sematkan pada sepeda ini. Sengaja saya memilih nama ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya membeli sepeda bukan untuk keperluan balap atau kompetisi.

Tampilan awal "Si Keong"
Tapi seperti banyak orang bilang, sepeda itu racun. Racun yang Insya Allah saya kupas di tulisan-tulisan saya berikutnya.

Salam Gowes.....





Bayu Adhiwarsono©