Selasa, 27 Juni 2006

SIAPA SURUH NGANGGUR

Apa sih arti dari “pekerjaan tetap” yang sebenarnya? Apakah, harus memiliki jam kerja yang tetap, ataukah penghasilannya tetap --tak pernah kurang atau lebih setiap bulannya--, ataukah tempat kerjanya yang nggak pindah-pindah?.


Saya jadi teringat saat saya baru lulus dari perguruan tinggi, dan bertempur melawan para pencari kerja lainnya, dengan “hanya” bermodalkan gelar D3. Yang membuat saya miris, ternyata perjuangan orang tua saya --mungkin juga seperti orang-orang tua para pencari kerja lainnya-- belum terhenti hingga saya lulus kuliah. Karena kemudian mereka pun harus mengongkosi saya untuk paling tidak setiap akhir minggu membeli koran lokal dan nasional, dan merunut iklan baris lowongan kerja. Setelah itu mereka pun kemudian harus kembali merogoh koceknya, unntuk membiayai pengiriman surat lamaran saya, yang setiap minggunya mencapai 5 hingga 10 surat lamaran.


Tapi sungguh, mencari pekerjaan itu tidaklah mudah. Apalagi kalau mencari yang menurut pandangan orang lain, sebagai “pekerjaan tetap”. Yang paling utama, tentu persyaratan minimum, yang seringkali harus Strata 1, plus pengalaman kerja 1 hingga bahkan (Gilanya!!!) 10 tahun. Lha wong ini baru cari kerja, kok sudah dimintai pengalaman kerja???.


Setelah saya diterima oleh salah satu pengiklan lowongan kerja itu pun, ternyata saya “dipaksa” untuk tidak berhenti mencari dan terus mencari pekerjaan (lain). Banyak faktor yang membuat saya berpikir dan yakin, bahwa saya tidak akan menghabiskan sisa umur saya di satu tempat kerja.


Penyebab utama mungkin hampir pasti masalah gaji atau penghasilan yang relatif tidak pernah membuat saya puas. Bagaimana bisa puas, kalau misalnya, selama 4 tahun masa kerja, saya hanya mendapatkan kenaikan gaji berkala tak lebih dari Rp. 80.000 per tahun. Atau bagaimana saya harus menerima dengan nalar, bila seorang fresh-graduated dengan nilai akademik pas-pasan, dan nihil pengalaman kerja, bisa bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja, lalu langsung mendapatkan penghasilan 2 kali lipat dari saya, hanya karena dia masuk melalui salah satu petinggi di kantor saya. Selain gaji atau penghasilan, ada faktor-faktor lain yang seakan-akan disodorkan untuk membuat saya tidak betah, mulai dari lingkungan kerja yang seringkali cenderung diskriminatif, hingga tawaran-tawaran menggiurkan dari penyedia kerja yang lain. Belum lagi ancaman “take it or leave it!”, yang membuat kita seringkali tidak berpikir panjang untuk mengiyakan tawaran lain, walau hanya sedikit lebih menggiurkan.


Sebagian orang mungkin menganggap saya tidak termasuk tipe pekerja setia. Tapi apakah lalu kesetian harus mengorbankan kata hati dan kenyamanan kerja?. Mungkin saya masih bisa menerima gaji pas-pasan dengan senang dan bangga hati, bila kemampuan saya pun dinilai proporsional dengan teman-teman kerja yang lain, baik yang memilki pengalaman kerja lebih atau sama, dan bahkan dengan mereka yang baru saja menjadi teman kerja saya, alias pendatang baru.


After all, kita memang harus menerima kenyataan, bahwa kita bangsa buruh. Dimana kita harus menerima segala pagar dan ketentuan yang membatasi akses kita pada pekerjaan. Dan dimana menganggur pun akan menjadi salah sang pencari kerja,......salah sendiri nganggur! Siapa suruh nganggur!