Selasa, 19 Desember 2006

ANAK KITA = KITA (?)

Saya jadi ketakutan sendiri, ketika sepupu saya yang memiliki anak 4 tahun suatu waktu berkata kepada saya, dengan logat Jawa-nya yang kental, “Waduh, Bella (nama anak itu) belum hapal semua warna dan angka, padahal kan dia mau masuk TK”. Saya lalu bertanya, “Memangnya kenapa kalau Bella belum hapal semua warna dan angka?”. Sepupu saya menjawab, ”Lho, kan masuk TK di-tes dulu warna-warna dan angka”. Saya langsung kaget, sekarang masuk TK di-tes dulu???


Tak lama kemudian, alias singkat cerita, saya dengar Bella lulus dan masuk ke sekolah yang diinginkan orang tuanya. Tapi setelah beberapa bulan Bella sekolah di TK tersebut, ibunya mulai cemas dan selalu memarahi Bella, karena dia susah untuk diajak belajar berhitung dan membaca. Ibunya bercerita pada saya bahwa teman-teman di sekolah Bella sudah mulai bisa membaca dan berhitung, bahkan sebagian dari mereka di-les-kan oleh ibunya. Wah, hebat yah, anak TK aja sekarang udah kenal yang namanya Les!!! Dulu-dulu waktu jamannya kita sekolah sih, paling banter SD baru kita tau plus ngerasain yang namanya Les.


Betapa orang tua sekarang ini takut pada kemajuan jaman, sehingga anak dipaksa untuk mempelajari pelajaran yang menurut saya sih belum waktunya. Apa memang sebegitu keraskah persaingan yang menanti anak-anak kita, hingga mereka harus segera “siap”?, ataukah memang ini hanya dimaksudkan untuk “mempermudah” tugas para guru di TK dan SD nantinya?. Masih ingat kan betapa dulu seringkali guru-guru kita di kelas 1 SD susah payah mengajari kita untuk memegang alat tulis, untuk kemudian menulis dan atau menggambar, bersusah payah mengajarkan hitung-hitungan, dan lain sebagainya. Sekarang gantikan kenangan itu dengan bayangan betapa “indahnya” guru-guru kelas 1 SD beberapa tahun kedepan, karena anak kita sudah mahir membaca, menulis, berhitung dan bergambar, kala baru akan mau menginjak bangku SD. Kita tahu bahwa usia 1 hingga 5 tahun adalah masa bermain, dimana mereka baru mengenal dunia, namun juga sekaligus masa emas, dimana segala sesuatu cepat sekali mereka pelajari dan kuasai. Lalu harus kemana masa-masa indah anak kitu pergi, dan tergantikan?


Masih banyak lagi yang tampaknya sering sekali kita tuntut dari anak-anak kita. Hayo, siapa diantara kita yang sering kepengen anaknya ntar bisa, contohnya, main piano, jago beladiri, pinter ngomong Bahasa Inggris, Jepang, Mandarin, Prancis, Italia, dan jago lainnya lagi? Pasti hampir semua dari kita kan?. Lho, memangnya anak kita itu manusia, atau robot? J. Kasihan kaleee….., anak kita belum apa-apa udah dituntut ini-itu.


Balik lagi ke pertanyaan-pertanyaan yang sebelumnya saya utarakan, apa memang sebegitu keraskah persaingan yang menanti anak kita, sehingga dia harus sedemikian rupa dipersiapkan dan diperlengkapi dengan “senjata-senjata” canggih?. Atau justru dia hanya terkena getahnya saja, gara-gara kita punya begitu banyak mimpi yang gak kesampaian? Gara-gara kita gagal jadi artis seperti Peterpan, misalnya, lalu anak kita harus kursus segala macam alat musik plus nyanyi, biar saat besar nanti dia bisa bikin band dan cepat terkenal, lalu kaya. Atau gara-gara kita sering kayak orang bego waktu diajak ngobrol bule, lalu anak kita harus kursus segala macam bahasa asing, mulai dari Bahasa Inggris, sampai Bahasa dari negeri antah berantah. Atau contohlah anak saya yang punya nama Jepang, otomatis dong, saya pun ingin anak saya jago Bahasa Jepang, bukan cuma bisanya bilang “Arigato…” doang !. Atau juga gara-gara dulu kita selalu lulus pas-pasan, atau sering dapat nilai Raport merah, yang membuat orang tua kita pulang dari pertemuan POMG dengan muka ditekuk tujuh, lalu anak kita harus kursus segala macam pelajaran, mulai dari matematika sampai PPKN (dulu PMP, ntar sih gak tau ganti jadi apalagi!).


Lalu, apa batasannya? Harus seberapa pintarkah anak kita? Apa salahnya sih kalau dia gak pintar-pintar amat? Terutama saat dia masih dalam usia dimana isi seluruh kepalanya cuma “bermain”. Toh, banyak sekali orang-orang pintar di negeri kita ini yang akhirnya cuma jadi koruptor, buronan, atau………….dukun ! Nah lho….!!. Kecuali ada yang menemukan caranya membuat anak kita pintar, tanpa kehilangan kekanak-kanakannya.


19 Desember 2006

BENANG KUSUT NAMANYA PENDIDIKAN

Pendidikan.


Harus diakui, bila mendengar satu kata ini, hal yang pertama kali terlintas dalam benak kita adalah suatu proses mengajar dan belajar, dalam suatu ruangan (baca: kelas), yang melibatkan guru dan --berapapun jumlahnya-- murid. Pendapat ini mungkin benar. Namun bila kita telaah lebih dalam, maka pendidikan tidaklah sesederhana itu. Banyak pihak, dan --entah apakah ini berlangsung di negara kita saja, atau memang terjadi di seluruh dunia-- begitu rumit birokrasi yang terlibat.


Pendidikan juga bisa hadir dalam berbagai ruang lingkup, baik yang sempit, hingga yang amat luas. Ruang lingkup pendidikan paling sempit, tentu saja di rumah kita sendiri. Baik yang hanya melibatkan orang tua dan anak, ataupun antara, sebut saja, guru privat, dengan salah satu anggota keluarga. Di dalam ruang lingkup yang sempit ini, tentu tidak banyak pihak yang dilibatkan, dan tidak pula melibatkan birokrasi yang rumit pula. Namun lain hal bila kita bicara pendidikan dalam ruang lingkup besar.


Di Indonesia, kita mengenal beberapa jenjang pendidikan, mulai dari --yang baru muncul beberapa tahun belakangan ini-- pre-school, playgroup atau taman bermain, taman kanak-kanak (TK), sekolah dasar (SD), sekolah lanjutan tingkat pertama (SLTP), sekolah lanjutan tingkat atas (SLTA), dan perguruan tinggi. Rata-rata seseorang harus menghabiskan paling tidak 22 hingga 25 tahun, untuk mencapai tingkatan Strata-1. Pada umumnya, semakin tinggi tingkat pendidikan yang mampu diselesaikan seseorang, maka semakin terbuka pula jalan untuk mengejar karir, dan tentu saja mengejar taraf hidup yang lebih tinggi. Ironisnya, walau pemerintah mencanangkan program wajib belajar 9 tahun, dari tingkat SD hingga SLTp, bagi mayoritas rakyat Indonesia, biaya pendidikan tetap saja masih terlampau jauh lebih mahal dibanding biaya 3 kebutuhan primer, yaitu sandang, pangan dan papan. Tak aneh, bila pendidikan mungkin masih bukan merupakan prioritas utama. Dan ini membawa dampak, yang kaya semakin berjaya, yang miskin pun semakin tenggelam. Sebagian kecil rakyat Indonesia yang tergolong mampu (baca: kaya), dengan mudah menyediakan pendidikan yang layak bagi anak-anaknya, bahkan kalau perlu --baik untuk mengejar tingkat pendidikan yang lebih tinggi, ataupun hanya untuk mengejar gengsi-- mengirim anak-anaknya ke sekolah di luar negeri. Sementara sebagian besar rakyat Indonesia, harus membanting tulang, memeras keringat, dan bersimbah darah untuk sekedar mencukupi anak-anaknya dengan pendidikan “seadanya”. Sementara sebagian lagi rakyat Indonesia yang kurang beruntung (baca: miskin) harus rela menjadi penonton yang baik, sambil bermimpi anak-anaknya mampu mendapat bea siswa. Itupun bila mereka belajar 100 kali lipat lebih rajin, memiliki kekuatan mental 100 kali lipat, dan berdoa lebih keras 100 kali lipat.


Lebih ironis lagi, bila kita melihat taraf hidup sebagian besar tenaga pengajar atau guru di Indonesia. Mahalnya biaya pendidikan ternyata tak selamanya, atau bahkan selalu, tidak berbanding lurus dengan peningkatan kesejahteraan para pahlawan tanpa tanda jasa ini. Para guru harus berjuang keras menyisihkan sedikit dari penghasilannya yang sudah minim itu, untuk mengejar pendidikan bagi dirinya sendiri, bila tak ingin kalah bersaing dengan para guru yang datang dari era terkini, yang membawa latar belakang pendidikan lebih canggih. Karena, bagaimana bisa, sebut saja, seorang guru lulusan SPG, harus bersaing dengan guru yang memiliki gelar Strata-1 di belakang namanya. Tak aneh, bila para anggota korps pengajar ini pun harus mencari penghasilan tambahan, mulai dari dunia pendidikan, dengan memberikan privat misalnya, hingga menggeluti profesi lainnya seperti berdagang, untuk menambah sumber pendapatannya. Seakan, profesi guru belum setara dengan kalangan profesional seperti pengacara, dokter, ataupun profesi lainnya yang menyandang sebutan “kalangan kerah putih”.


Masalah kesejahteraan guru, pergantian kurikulum yang diiringi dengan pergantian buku pelajaran hampir setaip tahun ajaran baru, mahalnya biaya pendidikan, dan beraneka macam masalah lainnya yang menyelimuti dunia pendidikan, membuat kita harus berpikir realistis, bahwa Indonesia masih harus rela menjadi penonton, entah hingga berapa generasi lagi, dikala seluruh isi dunia ini berpacu mengejar semua perubahan. Karena ternyata, bagi negara (baca: pemerintah) kita, masih banyak hal lain yang menempati prioritas lebih utama, dalam perebutan porsi APBN, ketimbang mengurusi dan membangun dunia pendidikan, yang didalamnya termasuk mensejahterakan para guru. Mensejahterakan orang yang menghantar kita menjadi apapun sekarang ini, termasuk Presiden, Menteri, ataupun Pengusaha.


Inilah potret dunia pendidikan Indonesia




Rabu, 29 November 2006

SALES !!! BIKERS' HEAD = Rp. 10.000 !!!

Berapa sering kita melihat orang-orang dengan kepala menggunakan penutup ini kala mengendarai motor??? Mulai dari motor yang super butut, sampai motor yang harganya puluhan juta!!! Aneh kan? motor puluhan juta, tapi beli helm yang harganya cuma beda tipis sama sebungkus rokok!Sebagian orang mungkin bilang itu helm, walau kategorinya cuma hanya "cetok" saja. Tapi buat gua, ini sama sekali bukan helm! Ini sekedar penghias kepala, dan sebagai alat untuk ngibulin aparat polisi, biar nggak kena tilang. Gua jadi bingung, yang goblok ini para pengendara motor yang pake penutup kepala model ini, atau (with all do respect, sir!) para aparat polisi yang menganggap penutup kepala ini juga termasuk kategori helm (saya sih yakin pak polisi, kalo bapak-bapak pasti sebenernya jauh lebih pinter dari itu kan?).Kalau kita bertanya, "Mas, mas,.....kok pake helm cetok begituan sih?", jawabannya bisa bermacam-macam.
a. "Polisi bukan, penjual helm bukan, kok ikutan repot sama helm yang gua pake!!!"
b. "Ya elah man!!! tiban rumah kantor doang, masa harus pake helm ratusan ribu!!!"
c. "Busyet dah! lu kira gua mau balapan, harus pake helm kayak Max Biaggi?"
d. "Gua kan jagoan! mana mungkin cilaka sih!"
e. atau mungkin seperti jawaban salah satu jawaban (sorry to say) temen kantor gua, "gua sih lagi cari helm yang bener man, cuma belum nemu warna yang cocok".

Nah, untuk kasus temen gua ini, gua bales, "emang lu cari warna apaan sih?".
Doi jawab, "warna merah yang gimanaaaaa.....getoh!".
"Tuh, yang si Fevo merah warnanya, bagus lagi coraknya!", gua timpalin.
Eh, ni anak masih ngeles aja kayak supir bajaj, "tapi bukan yang kayak gitu yang gua mau, terlalu rame! Gua cari warna merah yang cerah, polos, gak ada corak apa-apa!".
Pusing-pusing akhirnya saya jawab sambil nyengir, "ya lu mah sengaja cari warna yang nggak ada! ntar gua suruh cat sendiri.....nggak mau juga! cape deh!!!!".

Terlihat kan bedanya helm, dan penutup kepala?



Krisis ekonomi yang (katanya) melanda bangsa kita tampaknya memang belum akan segera pulih. Naiknya (versi Pemerintah: Penyesuaian Harga) hampir semua harga barang dan jasa, seperti BBM, Listrik, Tarif Tol, Tarif Telepon, dan lain sebagainya, membuat sebagian besar rakyat Indonesia yang tadinya memang sudah tiarap, sekarang makin tiarap, kalau tidak bisa dibilang justru tenggelam. Dan kemudian banyak hal pula yang akhirnya harus berubah. Salah satunya kebiasaan orang memilih alat transportasi.

Dulu orang cenderung memilih naik kendaraan umum, bila ingin menekan jumlah pengeluaran. Dan bila sudah memiliki sedikit tabungan, maka mobil bekas pun, menjadi pilihan untuk alat transportasi pribadi, baik untuk keperluan sehari-hari rumah-kantor-rumah, maupun untuk tamasya bersama keluarga. Saya masih ingat betapa dulu setianya Bapak saya (dan tentunya saya juga) mengendarai mobil Toyota Land Cruiser FJ40 tahun 1973. Seringkali untuk keluar yang jaraknya hanya 1 hingga 3 kilometer sekalipun, kami masih dengan gagahnya memakai “Si Kukut” (panggilan keluarga kami untuk mobil ini. Dalam Bahasa Sunda, artinya “sesuatu yang dipelihara”). Padahal Si Kukut ini hanya butuh 5 hingga 7 kilometer saja, untuk menghabiskan jatah bensin 1 liter. Itu kenapa banyak orang (walau hingga kini kami sekeluarga masih berani berdebat soal ini) menilai mobil sejenis Si Kukut ini termasuk boros bahan bakar.

Saya juga termasuk orang yang penakut kalau berada di atas kendaraan roda dua. Saya bisa hampir terkencing-kencing, jika motor yang saya tunggangi, melaju diatas 50 km/jam. Jadi makin lengkaplah alasan saya (dan mungkin berjuta-juta orang lainnya di Republik ini) yang lebih memilih mobil, dibanding motor, dulu.

Namun sekarang semuanya berbalik. Setelah menikah, mempunyai seorang putra, dan seperti keluarga lainnya dituntut mengencangkan ikat pinggang, saya pun mulai bersikap realistis, dan akhirnya (ikut-ikutan) membeli motor. Bukan beli baru secara kredit seperti orang lain, tapi bekas dan murah meriah. Ayah kami pun seakan kompak akhirnya menjual Si Kukut, dan membeli kendaraan roda 4 yang lebih irit, katanya.

Tapi dasar penakut, saya pun membeli segenap perlengkapan bermotor, mulai dari helm, sarung tangan, dan pelindung dada. Yang menjadi prioritas saya, tentu helm. Dan lagi-lagi, saking penakutnya, saya pun memilih membeli helm yang agak mahal (untuk ukuran dompet saya yang cuma wartawan), sekira Rp. 300.000. Yang membuat saya terheran-heran, sekaligus miris, sekaligus kagum, sekaligus marah, ialah ketika saya tengah membeli helm itu, ada pembeli lain yang juga tengah membelikan istri tercintanya helm. Dan yang dipilihnya, adalah helm seharga Rp. 30.000, yang saya yakin sekali, jangankan untuk terlibat dalam sebuah kecelakaan besar, terjatuh dari genggaman saja, helm itu akan pecah.

Kenangan kala membeli helm itu diikuti kenangan lain yang tak kalah mirisnya. Salah satu teman saya, sebut saja M, yang lebih dulu berjibaku dengan motor di jalanan Jakarta, tertawa melihat saya menenteng helm kebanggaan saya. Dia bilang, “Gua sih nggak segila lu, Bay, beli helm ratusan ribu. Gua cukup pakai helm standar pabrikan motor gua aja deh!”. Teman saya yang lain, sebut saja A, yang ternyata sependapat dengan saya dalam memilih helm, langsung menimpali perkataan M, “Lu pikir pabrikan motor mau kasih helm bagus dan mahal, untuk hadiah pembelian motor? Paling banter mereka cuma menganggarkan Rp. 50.000, untuk helm yang lu pakai itu! Begitu kebanting, hancur deh tu helm!”. Entah apa yang sebenarnya melatarbelakangi pilihan M untuk memilih helm, apakah memang dia sedemikian yakinnya dedngan kekuatan dan keamanan helm hadiah pabrikan motornya, atau memang dia memilih untuk tidak menganggarkan uang lebih untuk membeli helm.

Yang jelas, ternyata segala himpitan ekonomi yang harus kita terima dengan sukarela, mampu mengubah segala pandangan hidup kita, termasuk harga kepala dan nyawa kita. Lihatlah di kepala anda, berapa bandrol harga yang terpasang???.

Lalu, apakah harus jadi orang penakut, seperti gua, biar sadar akan betapa berharganya badan kita, kepala kita, dan nyawa kita? Atau harus mengalami kecelakaan terlebih dulu?

Tapi yang pasti, gua nggak mau kepala gua ditulisin......

"SALE !!! BIKERS' HEAD, Rp. 10.000 !!!".

MAKASIH, UMMI SAYANG.....!!!


Pertama kali kenal Ummi, akhir Agustus 2003, setelah dapat nomor Ummi dari one of our best friend, Evi Nafisah Zulkarnaen. Langsung telepon, Abi inget waktu itu ummi lagi di angkot. Tapi untungnya Abi nggak kapok, dan nelepon lagi di lain kesempatan. Hanya butuh waktu beberapa lama, walau lewat telepon, karena Abi di Jakarta dan Ummi di Bandung, kita cepat sekali semakin dekat dari hari ke hari. Ummi inget kan ada apa di tanggal 9 September 2003? Kalau bahasa ABG sih, kita jadian! Yuhuuuuu..... Kita dah buktiin sama banyak orang, Sayang, bahwa jarak bukan halangan berarti buat kita. Sekalinya ke Bandung, Abi pasti bawa kenangan indah begitu balik kerja lagi ke Jakarta!!! Damn, I always hate that kinda sayin' goodbye moment!


Termasuk saat-saat seperti photo diatas. Masih inget kan, Sayang?


Hari itu kan double date sekalian dinner kita sama pasangan "nakal" Reno Permana dan ******* (sensor, demi keamanan negara) di Valley Dago.


Sekarang, 2 tahun lebih kita menikah. Susah senang, sedih bahagia, marah tawa, tak pernah luput mewarnai hari-hari kita berkeluarga. Kehadiran putra tercinta kita, Muhammad Hideyoshi 'Abdul 'Aziz Adhiwarsono, menambah warna sendiri dalam cinta kita. Ditambah sekarang untuk sementara kita harus hidup terpisah. Ummi sama Hiyoshi di Bandung, sementara Abi di Jakarta, dan hanya bisa bertemu 2 hari dalam 1 minggu.


Afterall, I really don't know what I'm gonna be without you, bidadariku, matahariku, rembulanku, bintangku, Alsi Nur'Khalisah. Maaf kalau selama ini dan hingga selamanya nanti, Abi akan selalu membuat Ummi harus bersabar dengan segala kekurangan Abi.


Meminjam bait-bait dari lagu salah satu band favorit kita berdua NAFF,


"Jangan letih mencintaiku janganlah terhenti. Jangan lelah menyayangiku, hingga bumi tak bermentari"


 


29 November 2006

Rabu, 22 November 2006

GARA-GARA BUSH

Pukul 20.00, 17 November 2006.Seperti biasanya, Jum'at malam, adalah jadwal mudik ke bandung, untuk menengok anak dan istri tercinta. Berita kedatangan salah satu Presiden tersombong di dunia, George W. Bush, yang membuat Bogor siaga, ikut mempengaruhi rencana perjalanan saya.

Tanpa SIM, ditambah STNK yang dah mepet tanggalnya, membuat saya harus mencari alternatif jalan lain menuju Bandung, selain rute biasanya yang selalu always melalui Bogor. You know lah, polisi sepertinya gak bakalan akrab, dengan posisi biker seperti saya.

Berbagai rute alternatif mulai dicari. Jonggol, jelas tak mungkin. Berdasarkan pengalaman dan cerita rekan-rekan, Jonggol merupakan salah satu wilayah yang hanya aman bila dilalui, kala matahari masih bersinar. Berbagai alasan bisa kita runut. Mulai dari kemungkinan adanya bajing loncat, alias rampok, alias begal, atau apalah, pokoknya wong jahat. Jalanan yang cenderung lebih sempit dan berkelok-kelok, dibanding jalur Puncak. Hingga mungkin, kurangnya tempat istirahat yang ideal.

Sentul. Siang sih kata rekan di Kymco Motor Club Jakarta (KMCJ), Budi, memang enak dilalui, kalau siang. Tapi malam, nggak janji. alasan, hampir sebunyi dengan Jonggol.

Pilihan terakhir, via Bekasi-Karawang-Purwakarta. Berdasarkan masukkan one of my bro di milis Kymco-Indonesia, Rangga, rute ini cukup aman dilalui. So, .....let's the journey begin!

VS Truk-truk segede gajah !Berbekal peta Jabotabek, yang biasanya menempel di dinding kantor (Busyet, niat amat ya!), Blue Black Trend 2000 langsung menuju kawasan Kalimalang. Jalanan sih enak. Walau lebarnya agak pas-pasan, tapi panjangnya lintasan, membuat menyalip 1-2 mobil sekaligus, bukan hal mustahil, asal tetap hati-hati dengan laju kendaraan dari depan.Tapi memasuki Bekasi, ranjau darat mulai bertambah parah. Rute Cibinong yang biasanya saya lalui, tak ada apa-apanya dibanding rute Bekasi ini. Beberapa kali saya terpaksa menghantamkan motor saya ke lubang-lubang yang punya kedalaman sekira 10 cm. Daripada saya berusaha mengelak, malah benturan dengan kendaraan lain yang sama-sama bersusah payah menghindari ranjau !!!

Menjelang masuk Purwakarta, saya memilih rute via Kosambi, sesuai saran tukang ojeg, yang sempat saya ajak bincang-bincang kala istirahat di Karawang. Jalanan disini lebih mulus, tapi lintasan lebih sepi, dan sempit. Tapi sebanding lah, dengan potongan jarak dan waktu yang saya dapat, daripada saya melalui Cikampek.

Memasuki Purwakarta, baru deh, Truk-truk segede gajah, mengajak beradu torsi...hehehehehe....! Motor saya yang mungkin hanya sepersekian ukuran body-nya, harus pintar-pintar mengambil lubang diantara mereka, bila ingin mendahului mereka.

Singkat cerita, 6,5 jam (termasuk berhenti untuk tidur selama 1 jam di Purwakarta) sejak saya berangkat dari Jakarta, akhirnya saya tiba di Bandung. Bertemu 2 malaikat terindah, Alsi Nur'Khalisah dan Muhammad Hideyoshi 'Abdul 'Aziz Adhiwarsono.





Teteupp.....Puncak !
Senin dini hari. Biasa, ini adalah jadwal untuk kembali ke kenyataan...hehehehehe....! Yaitu harus balik ke Jakarta, dan lagi-lagi bo,....kerja!

Kali ini, one of my bro di milis, Rangga Santika, kebetulan punya jam balik bareng. FYI nih, Rangga ini salah satu yang berhasil saya racunin untuk menempuh perjalanan Bandung-Jakarta, pada dini hari! Enak kan bro, dingin-dingin beku! Hahahahahaha....

Janjian ketemu di depan Terminal Leuwipanjang Bandung pukul 02.00, kita rundingan sebentar soal rute yang bakalan diambil. Dan setelah dipikir-pikir, jalur Puncak-Bogor, tetep jalur ideal. Resiko tertutup blokade aparat keamanan pada pukul 06.00, jelang kedatangan Si Bush, kita terjang!

Dalam perjalanan ini, sorry to say bro, saya baru sadar betapa jauh perbedaan kemampuan mesin 100 cc dkk dengan 125 cc. Rangga yang menggunakan Free-Ex, memang menempel di belakang kala kita meluncur di medan turunan. Body ringan Ex, ban masih yahud, ditambah keberanian Rangga, "hanya" mendapat perlawanan minim dari Trend saya, yang punya ban nyaris gundul, body gambot, dan nyali sang rider yang tipis....hiks!

Tapi kala di lintasan lurus mendatar dan tanjakan, hehehehe......Rangga maik jauh tertinggal. Perasaan Trend saya termasuk lagi boyot gara-gara knalpot abal-abal, eh ternyata, masih bisa ninggalin Ex jauh di belakang.
Disambut Brimob dan Gegana

Istirahat 3 kali, yaitu SPBU Rajamandala, Puncak, dan Ciawi, kita tiba di Bogor 05.30. Jalan Pajajaran sudah tertutup sebelah jalurnya. Tapi kita masih diijinkan masuk, karena masih tersisa 1 jalur lagi.

Begitu melintasi kawasan Kebun Raya Bogor, Bapak-bapak aparat dari Bribob, Gegana, dan lain sebagainya, keluar seakan menyambut kami.....busyet, GR amat ya! Mereka tengah bersiap-siap untuk mulai bertugas menina-bobokan Bush, selama dia berada di Bogor.

Dari Bogor hingga Jakarta, kita hanya sempat berhenti 1 kali lagi di Kalibata, karena kantuk menghadang. Oya, kali ini kita sepakat menghindari rute Gunung Sahari, dan memilih via Margonda. Tapi ternyata tetep....Macrets!!!!!!!!!!!!!

Singkat kata aja ya! Kita mendarat di Mangga Dua pukul 07.30.
Next time, kita jalan bareng lagi bro!





22 November 2006



Rabu, 11 Oktober 2006

NO TITLE, DEH !

suatu saat nanti !
suatu saat nanti !
suatu saat nanti !tangis kan jadi tawa
duka kan jadi gurau
terhina bukan lagi nafas
terbuang tak lagi merupa langkah
mimpi sudah bukan cuma mimpi

dan kalian malaikat-malaikat terkasihku
genggamlah dunia yang kurengkuh
peluklah nirwana yang kupijak
untuk kalian !!!



jakarta, sebelas kesepuluh di duaribuenam, 08.15


Selasa, 27 Juni 2006

SIAPA SURUH NGANGGUR

Apa sih arti dari “pekerjaan tetap” yang sebenarnya? Apakah, harus memiliki jam kerja yang tetap, ataukah penghasilannya tetap --tak pernah kurang atau lebih setiap bulannya--, ataukah tempat kerjanya yang nggak pindah-pindah?.


Saya jadi teringat saat saya baru lulus dari perguruan tinggi, dan bertempur melawan para pencari kerja lainnya, dengan “hanya” bermodalkan gelar D3. Yang membuat saya miris, ternyata perjuangan orang tua saya --mungkin juga seperti orang-orang tua para pencari kerja lainnya-- belum terhenti hingga saya lulus kuliah. Karena kemudian mereka pun harus mengongkosi saya untuk paling tidak setiap akhir minggu membeli koran lokal dan nasional, dan merunut iklan baris lowongan kerja. Setelah itu mereka pun kemudian harus kembali merogoh koceknya, unntuk membiayai pengiriman surat lamaran saya, yang setiap minggunya mencapai 5 hingga 10 surat lamaran.


Tapi sungguh, mencari pekerjaan itu tidaklah mudah. Apalagi kalau mencari yang menurut pandangan orang lain, sebagai “pekerjaan tetap”. Yang paling utama, tentu persyaratan minimum, yang seringkali harus Strata 1, plus pengalaman kerja 1 hingga bahkan (Gilanya!!!) 10 tahun. Lha wong ini baru cari kerja, kok sudah dimintai pengalaman kerja???.


Setelah saya diterima oleh salah satu pengiklan lowongan kerja itu pun, ternyata saya “dipaksa” untuk tidak berhenti mencari dan terus mencari pekerjaan (lain). Banyak faktor yang membuat saya berpikir dan yakin, bahwa saya tidak akan menghabiskan sisa umur saya di satu tempat kerja.


Penyebab utama mungkin hampir pasti masalah gaji atau penghasilan yang relatif tidak pernah membuat saya puas. Bagaimana bisa puas, kalau misalnya, selama 4 tahun masa kerja, saya hanya mendapatkan kenaikan gaji berkala tak lebih dari Rp. 80.000 per tahun. Atau bagaimana saya harus menerima dengan nalar, bila seorang fresh-graduated dengan nilai akademik pas-pasan, dan nihil pengalaman kerja, bisa bergabung dengan perusahaan tempat saya bekerja, lalu langsung mendapatkan penghasilan 2 kali lipat dari saya, hanya karena dia masuk melalui salah satu petinggi di kantor saya. Selain gaji atau penghasilan, ada faktor-faktor lain yang seakan-akan disodorkan untuk membuat saya tidak betah, mulai dari lingkungan kerja yang seringkali cenderung diskriminatif, hingga tawaran-tawaran menggiurkan dari penyedia kerja yang lain. Belum lagi ancaman “take it or leave it!”, yang membuat kita seringkali tidak berpikir panjang untuk mengiyakan tawaran lain, walau hanya sedikit lebih menggiurkan.


Sebagian orang mungkin menganggap saya tidak termasuk tipe pekerja setia. Tapi apakah lalu kesetian harus mengorbankan kata hati dan kenyamanan kerja?. Mungkin saya masih bisa menerima gaji pas-pasan dengan senang dan bangga hati, bila kemampuan saya pun dinilai proporsional dengan teman-teman kerja yang lain, baik yang memilki pengalaman kerja lebih atau sama, dan bahkan dengan mereka yang baru saja menjadi teman kerja saya, alias pendatang baru.


After all, kita memang harus menerima kenyataan, bahwa kita bangsa buruh. Dimana kita harus menerima segala pagar dan ketentuan yang membatasi akses kita pada pekerjaan. Dan dimana menganggur pun akan menjadi salah sang pencari kerja,......salah sendiri nganggur! Siapa suruh nganggur!