Senin, 14 Desember 2015

#GOWESHORE "BIKE FOR ONE" (EPS. 1 PULOGADUNG - MARUNDA)

Bike for One


Main sepeda itu nggak asyik.

Nggak asyik kalau nggak sambil menebar racun.

Sejak pertama kali bawa sepeda ke kantor, menebar racun adalah hal pertama yang saya lakukan. Sepinya parkiran sepeda, justru bikin saya makin semangat. Jadilah komunitas kecil teman-teman Sport tvOne yang berisi saya, Jonas, Rifky, dan sportscaster paling ganteng se-Pulogadung....Reza. Yang terakhir disebut, sengaja dosis racunnya saya kasih maksimal. Lumayan kalau gowes bareng bawa orang ganteng, minimal mamah-mamah muda saja sih kayaknya ada yang lirik peloton kami.

(Kenyataannya sih justru ibu-ibu tukang kopi yang minta dikawin sama Reza.....huahahaha....).

Setelah sekian hari obrolan soal rute dan kapan bakal gowesnya berlangsung hanya di tongkrongan pohon mangga (tempat ngopi anak-anak Sport tvOne) dan grup WhatsApp, akhirnya diputuskan 13 Desember 2015 kami akan gowes bareng ke ujung utara jalur sepeda Banjir Kanal Timur (BKT) di Marunda, tepatnya ke sini. Oorah !

Keberangkatan -lebay- kami bagi jadi 2. Saya yang gowes dari Utan Kayu bakal ketemuan dulu sama Rifky yang ngangkut sepedanya pakai mobil dari daerah Bintaro (Maap, lokasinya gak kedeteksi di maps. Sepertinya di luar angkasa :P) di Pulogadung. Janjinya sih ketemuan jam 05.00. tapi doi jam 05.30 baru nongol. Bajigur ! Tapi yowis lah, yang penting jadi gowes. :)

Dari hari masih gelap udah nongkrong di kantor.


Nggak pakai ba-bi-bu, kami langsung gowes menuju tikum alias titik kumpul berikutnya di sini, untuk ketemuaan sama Jonas dan Reza.

Sekitar pukul 06.00, akhirnya perjalanan #GowesHore# perdana kami dimulai. Berbekal Google Maps, kami pun mulai menyusuri jalur sepeda BKT. Ya, ceritanya sih jalur sepeda. Tapi jangan bingung kalau jalurnya justru ramai dengan penjual dagangan dadakan, pejalan kaki, motor, mobil, bahkan truk sampah, ikut "meramaikan" jalur ini. Namanya juga Indonesia. :(

Saling sapa dengan peloton lainnya yang kami temui di jalur ini, adalah salah satu hiburan buat kami. Paling tidak, itu tandanya kami tidak dalam posisi salah jalur. 

Saya nge-voor, tu bapak-bapak sama keluarganya di atas motor malah nebeng diphoto, Bagijur.


Oya, jalur BKT yang kami lalui, walau terganggu oleh beberapa kendaraan non-sepeda, masih relatif mengasyikan kok.

Di sekitar Pondok Kopi, kami harus agak memutar untuk kemudian menyeberangi rel kereta api, sebelum kemudian kembali masuk jalur sepeda BKT. Tak terlalu merepotkan. Padahal sehari sebelumnya salah satu teman kami di kantor mewanti-wanti soal ini. Saking ribetnya, kami berdebat soal sungai di atas atau di bawah rel kereta api. Aaaaahhh.........bisa gila lama-lama :P

Yang agak ribet, justru ketika kami hendak menyeberangi Tol Lingkar Luar di sini. Kami harus mengambil rute agak offroad sebelum lalu memutar ke arah Terminal Pulogebang. Di daerah ini kami sempat bertanya hingga 3 kali, untuk memastikan rute menuju Marunda.

Finiiiiiiish.....*ngarep*


07.00

Baru gowes 1 jam-an, jarak juga baru 7,5 km dari tikum di jalur BKT Radin Inten, perut mulai keroncongan. Peloton juga sepertinya harus melipir ngatur nafas. Apalagi Reza dan Rifky memang tergolong baru gowes lagi. Tukang bubur kacang hijau di sini, jadi Rest Area 1.



Gowes belum seberapa, yang penting photo-photo :P
Ki-ka: Rifky, Jonas, Reza, Saya.



Ketika menunggu pesanan bubur kacang hijau dan teh manis hangat, kami lihat ada sepasang suami istri dan kedua anaknya yang juga tengah menikmati sarapan di sini. Ising-iseng lah kami bertanya, maklum goweser nubitol, hapalnya cuma rute harian ngantor doang.

Rifky      : "Ini daerah mana, Pak?"
               (dengan tampang kelelahan macam baru touring AKAP)
Si Bapak : "Pulogebang, Dek. Emang pada dari mana?"
               (si bapak pasti berpikir kami goweser dari antah berantah)
Saya      : "Pulogadung, Pak"
               (polos, spontan, sama bego itu emang beda tipis)
Si Bapak  : "Ooooh.........deket itu sih!"
Kami        : *nahan malu, senyam-senyum, nyesel nanya*
Reza       : (bisik) "Makanya, lain kali kalau ada yang tanya kita dari mana,
                bilang aja dari Ciledug :))"
Kami        : SEPAKAT ! :P

Oke lah, lupakan rasa malu gara-gara salah nanya dan salah jawab barusan. Toh, semboyan kami dalam bersepeda adalah......"YANG PENTING GAYA, DENGKUL BELAKANGAN". Titik.

07.30

Setelah 30 menit ngaso, akhirnya kami memutuskan untuk melanjutkan perjalanan. 14 km yang tersisa menuju ujung jutara jalur sepeda BKT, harus cepat diselesaikan sebelum matahari semakin tinggi.


Dari photo ini, TERBUKTI.....bahwa terlalu lama duduk di balik meja  membuat anda menjadi seorang penakut dalam hal menyeberang jalan :P

Makin menuju ke utara, bau amis khas wilayah pesisir makin tercium. Itu artinya, tujuan kami yaitu ujung utara jalur sepeda Banjir Kanal Timur sudah semakin dekat.

Tapi, apalah arti bersepeda bila tanpa photo-photo. Seringkali saya harus mengendurkan lagi laju sepeda saya, karena  peloton menemukan spot ciamik untuk berphoto.

SALJUUUUUUUU !!!! *pret ah*
Ada sampan, aroma amis makin kental, matahari terasa makin menyengat. Tak salah, laut sudah dekat.


Dan akhirnya, sekitar tepat pukul 08.00, kami tiba di tujuan sekaligus Rest Area 2, ujung utara jalur sepeda Banjir Kanal Timur. Dan yang pertama kali kami lakukan, tentu saja berphoto. Masih ingat dengan motto kami kan ? Ya, "YANG PENTING GAYA, DENGKUL BELAKANGAN".

Finish di Rest Area 2, ujung utara jalur sepeda Banjir Kanal Timur
   
Peraih Yellow Jersey Tour de Kanal :) *berat juga ni sepeda*
 
Menikmati angin pesisir, kopi, dan tentunya photo-photo



Di sini, saya pernah meninggalkan jejak ban sepeda saya....

Saya coba tengok strava, ternyata butuh waktu 2 jam untuk menempuh perjalanan Radin Inten - Marunda. Ditambah fisik kami yang pastinya mulai menurun, akhirnya kami memutuskan untuk segera pulang setelah 1 jam beristirahat di Marunda.

Next trip anggota harus nambah nih, biar makin banyak yang bisa dicela :P

09.00

Perjalanan pulang pun kami mulai. Saya coba narik peloton dengan average speed 16 km/jam, ternyata masih terlalu kencang. Beberapa kali saya terlalu jauh di depan, dan harus menunggu mereka mendekat. Saya sih maklum, namanya juga #GowesHore :)

Rifky yang mulai makin terganggu dengan kram-nya, juga membuat laju peloton makin santai.

Jonas: "PAYAH! Dengkul tahu! Lunak bener!" 
Rifky: "Ampuuuun, Joooon. Aku gak sanggup diginiin....."

Nunggu peloton bisa habis 1 batang rokok nih :P (JANGAN DITIRU !)



Katanya sih setting-an sadel kurang pas. Antara kenyataan......dan modus nafas senin-kamis :P

Biar kelihatannya beneran setting sadel


Apalagi, momen photo-photo kerap "mengganggu" ritme gowes kami. Beberapa spot di jalur sepeda BKT ini memang sayang untuk dilewatkan oleh mata lensa.


Salah satu spot favorit buat photo. Agak perjuangan bawa sepeda turun-naik tangganya

Nu Boga Lakon....
Jonas nahan kebelet, Rifky coba senyum walau paha kram melulu, Reza dengan modal gantengnya coba cari tebengan, saya mah.....ngudud sajaaa...
Peloton hura-hura
TUH LIHAT !!! ITU ARTINYA "JALUR SEPEDA" !!!

Dalam perjalanan pulang, kami sempat berhenti di Rest Area 3, yang menyediakan dawegan. Pas betul dengan kondisi peloton yang makin kelelahan dan kehausan. Ternyata mencari minimarket di jalur sepeda BKT adalah sesuatu yang mustahil. *LU PIKIIIIIRRR???*

*sumber: Google Maps. Sewaktu kami ke sini, tempatnya jauh lebih enak buat dipakai nongrong sambil menikmati dawegan.


30 menit kami ngaso, perjalanan pun kami lanjutkan. Di daerah Pulogebang kami memutuskan untuk meninggalkan jalur sepeda, dan memilih jalur via Stasiun Kereta Klender Baru Di depan Stasiun peloton terbagi 2. Reza yang memutuskan langsung pulang ke arah Pondok Kopi dan Jonas yang pulang ke arah Dr. Ratna memilih lewat Jl. Pondok Kopi Raya. Sementara saya mengawal Rifky yang makin tersiksa dengan kram-nya ke arah kantor, menyusuri Jl. I Gusti Ngurah Rai.

Sekitar pukul 12.00 akhirnya saya dan Rifky tiba di tvOne. Menghilangkan lelah sebentar, saya pun akhirnya pulang menuju kost saya di Utan Kayu.

Rute kantor ke Utan Kayu pun jadi rute pelampiasan saya :P.  Sepeda saya pacu sekuat lutut saya.

Ini adalah catatan total saya #GowesHore bersama teman-teman "Bike for One':

Distance         : 61,7 km
Moving Time : 3 hrs 56 mins 53 secs
Avg Speed     : 15,6 km/hr
Max Speed     : 47,2 km/hr
Calories          : 2440 cal

Ini catatan lengkapnya > My Strava.

Waktunya mandi, selonjoran, dan terlelap sambil bermimpi untuk trip selanjutnya. Salam Gowes!



Bayu Adhiwarsono©

Sabtu, 07 November 2015

CLBK

Cinta Lama Bersemi Kembali, CLBK.

Mungkin itu kata yang tepat untuk menggambarkan hubungan saya dengan sepeda sekarang ini.

Kok CLBK? Seperti yang pernah saya tulis di sini, saya pernah mengalami masa di mana sepeda sepertinya bukan hal yang menarik minat saya. Tak punya sepeda, tak ingin punya, tak ingin pinjam, dan tak terpikirkan untuk suatu hari punya sepeda lagi.

Awal sih saya beli sepeda ini memang ini untuk keperluan alat transportasi ngantor. Tapi kalau sudah di atas sadel, kaki seakan malas untuk berhenti gowes, dan tangan rasanya ingin selalu menggenggam handle-bar. 

Kesan pertama ketika gowes dari TKP transaksi di Palad sampai kantor, lumayan. Lumayan ngos-ngosan maksudnya :)

Begitu juga ketika pulang dari kantor menuju kost di Utan Kayu. Lutut pegel, bokong ngilu, baju basah kuyup karena keringat. Plus tanpa lampu, lengkap sudah.

Sebelum dipakai gowes lebih lanjut, ada beberapa hal yang saya pikir WAJIB dimiliki untuk menemani saya dan Si Keong membelah jalanan ibukota. Langsung saya cari toko asesoris sepeda yang bisa kirim barang cepat, biar bisa cepat-cepat gowes juga.

Toko sepeda Yerikho, saya lihat di halaman Facebook-nya menjual asesoris sepeda lumayan lengkap. Saya coba tanya-tanya via WhatsApp, sangat responsif. Bahkan saya masih ngobrol hingga jam 23.00, untuk melakukan pemesanan. Setelah melakukan pembayaran melalui transfer, pihak toko pun janji akan mengirim barang keesokan paginya dengan menggunakan jasa Go-Jek.


* harga adalah perkiraan, sudah lupa harga persisnya kala itu
Helm Avand                       Rp. 185.000
Lampu depan-belakang   Rp. 145.000
Bel                                        Rp.   45.000
Rantai sepeda (kunci)     Rp.  45.000

Tidur sekamar berdua bareng Si Keong

Sayangnya, lampu depan yang saya terima tak bisa menyala. Duh, padahal ini salah satu item yang paling penting. Karena hampir tiap hari saya baru pulang dari kantor malam atau bahkan dini hari. Beruntung pihak toko mau menerima keluhan saya. Tapi saya pikir daripada melakukan nunggu barangnya dikirim kembali, mending saya samperin saja tokonya. Hitung-hitung membiasan lutut yang sudah sekian tahun tak menggowes sepeda.


Parkir dulu seberang kost
Akhirnya saya memutuskan untuk gowes ke Toko sepeda Yerikho di daerah Kramat Jati. Selain untuk menukarkan lampu depan yang tak menyala, juga mau lihat-lihat beberapa asesoris lain yang ingin saya beli. Tak jauh, hanya 9 km. Tapi namanya juga lama tak gowes, saya sampai harus berhenti 2 kali di tengah perjalanan, hanya untuk sekedar mengatur nafas. Butuh 1 jam gowes, baru saya sampai di Yerikho. Luar biasa. Luar biasa bikin malu :)

Ini adalah daftar belanja tambahan saya di Yeriho:


* harga adalah perkiraan, sudah lupa harga persisnya kala itu
Bar-Ends merk Sapience         Rp.  75.000
Bottle Cage                                Rp.  35.000
Bidon                                           Rp.  25.000
Down Tube Fender                     RP.  50.000

Tadinya saya ingin menebus sepasang sarung tangan. Tapi sayang harganya tak sesuai dengan isi dompet. Di tengah perjalanan pulang pun akhirnya saya menambah daftar belanjaan awal untuk keperluan gowes dari penjual sarung tangan di pinggir jalan. Hanya 20 ribu Rupiah :)

Mau intip perjalanan saya ke Kramat Jati? Silakan tengok di sini.

Ah.....sudah lumayan lengkap untuk keperluan gowes sehari-hari. Waktunya menikmati peluh.
Mejeng dulu seberang kost dengan asesoris terbaru :)

Terlihat kan perbedaannya ?

Before





After

















Sambil ngaso, saya coba hitung pengeluaran awal Si Keong. Total dengan sepeda, Rp. 1.605.000. Hmmmm........masih terhitung murah untuk sebuah alat transportasi :)




Bayu Adhiwarsono©

Minggu, 01 November 2015

SI KEONG

Sepeda adalah salah salah satu cinta lama saya.

Saya ingat betul, salah satu barang/mainan ketika kecil yang membekas hingga sekarang.....ya sepeda. Roland, itu adalah merk sepeda yang pertama kali orang tua belikan untuk saya dan Almarhum adik saya. 1 sepeda untuk berdua. Ya, karena saya dan adik saya hanya berbeda usia 9 bulan, kami jadi seperti anak kembar. Sampai soal mainan atau sepeda pun, kami memang sering berbagi.

Sepeda itu bahkan jadi "senjata" andalan kami ketika bermain bersama anak-anak tetangga di sekitar rumah kami. Ketika yang lain sudah merasakan kehebohan memiliki sepeda BMX sejak masih kanak-kanak, saya harus menunggu hingga kelas 1 SMP. Dan masih untuk berbagi. :P

SMA hingga kuliah saya mungkin terhitung nyaris tak pernah bersentuhan dengan sepeda, entah kenapa. Cinta monyet sepertinya bisa jadi kambing hitam. :)

Baru setelah lulus kuliah saya kembali punya sepeda, sebuah MTB vintage second, yang saya beli patungan dengan adik saya dan ditambahi oleh orang tua kami. Saya lupa merk-nya apa, yang pasti "berbau" Jepang. Berwarna hijau, frame besi (tentunya), v-brake, dengan tanduk alias bar ends berwarna biru (gak nyambung sama warna frame :P). Cuma secuil itu yang saya ingat.

Tapi walaupun tampangnya seadanya, sepeda vintage itu punya jasa lumayan besar untuk saya dan adik-adik saya. Karena sepeda inilah yang membantu tugas kami mengantarkan pesanan koran/tabloid/majalah ke para pelanggan, ketika kami sempat menekuni usaha loper kecil-kecilan.

Ketika tahun 2002 saya memutuskan untuk bekerja di Jakarta, sepeda seakan begitu saja terbuang dari hidup saya. Tak hanya sebagai alat transportasi -yang dengan mudahnya tergantikan oleh mobil dan motor-, tapi juga sebagai salah satu hobi saya. Ketika mungkin nyaris semua orang heboh dengan Bike to Work, saya seakan sama sekali tak tertarik untuk kembali bersepeda.

Baru tahun lalu, tepatnya sekitar bulan Oktober, entah dari mana asal muasalnya, saya tiba-tiba memutuskan untuk memilih sepeda sebagai alat transportasi saya di Jakarta. Setelah mobil lebih dulu saya tinggal di Bandung, motor pun menyusul. Keduanya mendadak tak menarik lagi buat saya gunakan sebagai alat transportasi sehari-hari. Dana yang saya siapkan untuk membeli sepeda pun tak banyak. Toh saya pikir sepeda yang hendak saya beli hanya akan saya gunakan untuk keperluan kost-kantor-kost, tak lebih.

1 juta Rupiah, cuma itu yang saya anggarkan untuk membeli sebuah sepeda. Tak muluk-muluk, kategori yang saya pilih ketika berburu sepeda kala itu hanya:
- MTB
- Rem cakram
- Kondisi layak pakai untuk trip tak lebih dari 10 km

Beruntung, saya akhirnya menemukan sebuah sepeda yang memenuhi kategori itu. Sebuah Wimcycle Roadchamp DX 18" berwarna putih yang saya peroleh dari sini. Si Keong, itulah nama yang saya sematkan pada sepeda ini. Sengaja saya memilih nama ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya membeli sepeda bukan untuk keperluan balap atau kompetisi.

Tampilan awal "Si Keong"
Tapi seperti banyak orang bilang, sepeda itu racun. Racun yang Insya Allah saya kupas di tulisan-tulisan saya berikutnya.

Salam Gowes.....





Bayu Adhiwarsono©

Kamis, 10 September 2015

Kukurilingan di Lembang: Bagian Kadua

Sambungan dari sini.......

Berlibur di Lembang gak cukup dengan 1 hari. 

Alasan itu terbukti benar, ketika saya dan keluarga memutuskan untuk berlibur awal bulan lalu. Istri malah nyesel kita cuma menginap 2 malam di hotel ini. Lain kali kita nginap lebih lama lagi ya, Hun :)

Our morning view at Puteri Gunung Hotel, Lembang, Kab. Bandung.
Sejak jauh-jauh hari, salah satu niat saya sih kepengen nyobain jogging di Lembang. Tapi ketika saya coba ke luar kamar hotel jam 6 pagi, pemandangan di atas plus udara yang sangat dingin bikin saya urung ber-jogging ria. Mending masuk kamar, dan ngeringkuk lagi di balik selimut deh. Pantesan, istri dan 2 jagoan kami masih betah lanjut selimutan setelah shalat Shubuh :P

Si Gembul tumben betah diselimut
Kakaknya sih biasa, tidur aja sambil karate. Tidur ke mana, selimut ke mana.... :P
Tibanya waktu sarapan jam 7, mau gak mau deh pada dibangunin. Gak lucu juga kelewat sarapan, padahal udah bayar mahal-mahal. *ogah rugi sama pelit emang beda dikit...hehehehe...



Mau sarapan aja harus bawa Batman, Jang :P

Gak sengaja, pas menutup pintu kamar setelah batal jogging saya lihat ada peta evakuasi di balik pintu. Selain ada fishing pond alias arena memancing, ternyata ada kandang rusa !!!!! 

"Rusa ???? Serius???? Waaaaahhhh.........anak-anak pasti kegirangan nih" 
*biasa kali, Pak. Gak usah segitunya kagetnya*


Ternyata ngebangunin orang yang lagi tidur nyenyak selimutan di Lembang itu butuh usaha lebih. Kakak Hiyoshi sama Chiaro harus dibujuk bakal berenang plus lihat rusa, asal mau sarapan dulu. Dan ternyata, manjuuuuuuurrr.....

Tampang bantal nunggu sarapan

Kalem atuh, Bu. Sibuk bener sarapan sambil ngoprek henpon...hahahaha....
Sayang berhubung katanya yang menginap kurang dari 10 kamar, pagi itu kita gak dapat sarapan buffet. Tapi gak apa-apa, walau jatah sarapan cuma 2 orang, pihak hotel berbaik hati kasih kita 4 porsi sarapan sesuai pilihan. 

Terima kasiiiiihhh.....


Ini bukan kartu sakti ya, ini kupon sarapan :P

Alhasil, 3 porsi American Breakfast plus 1 porsi bubur ayam ludes masuk perut kami berempat. Lapar atau aji mumpung ? :P




Walau bukan buffet, sarapan di pagi pertama ini lebih dari cukup untuk ganjal perut sampai waktu makan siang. Porsinya normal, gak irit macam sarapan yang biasa disajikan hotel bintang 3. Rasanya juga yahud. Semua aman dan terkendali, dari menu sarapannya saja sudah a very well recommended hotel lah pokoknya. Status hotel berbintang 4 memang layak disandang Puteri Gunung Hotel.

Pas sarapan, kita juga tanya-tanya sama pihak hotel soal kandang rusa dan area memancing. Ada 5 rusa (kalau gak salah) yang mereka pelihara. Sementara untuk urusan memancing, kita harus bayar 50 ribu untuk 1 orang dan dapat peralatan memancing. Kalau kita mau hasil pancingannya, kita harus bayar lagi 80 ribu per kilogramnya. Nanti kita tinggal minta sama pihak hotel, ikannya mau dibiarkan mentah, digoreng, atau dibakar. 

Sepertinya bakal ribet nih urusan mancing. Langsung cari sejuta alasan biar Hiyoshi batal mancing. Lagian ni anak nurun dari mana sih, demen banget sama yang namanya mancing. :P

Kelar urusan sarapan, kelar bujuk Hiyoshi untuk batal mancing, anak-anak langsung nagih janji nengok rusa di bagian belakang hotel. Ya sudah, langsung deh meluncur. 

Ternyata benar, selain 2 lapangan rumput yang lumayan gede untuk keluarga yang mau botram, main bola, atau sekedar lari-larian, ada kandang rusa. Misi mencabut rumput liar untuk pakan rusa, adalah misi selanjutnya si Abi alias saya. :))


Awalnya takut-takut...
Lama-lama nagih. Selanjutnya, gak bisa nganggur bentar di kamar, pasti nagih main ke kandang rusa. 

Di kandang rusa bukan halangan untuk photo-photo... Hahahaha... 

Saking asiknya, mungkin sekitar 30 menit anak-anak anteng ngasih makan rusa. Kalau gak dibujuk-bujuk bisa seharian waktu dihabisin di sini doang. Untung pas jalan ke kandang rusa mereka sempat lihat ada playing ground, lengkap dengan ayunannya. So, playing ground pun jadi tujuan berikutnya. Gak terlalu lama, karena ternyata berenang tetap jadi incaran mereka. 

*Hadeeeeuuuh......belum juga kering tu baju renang diangin-angin di kamar mandi*


Belum mandi tetep wajib mejeng dulu

Oya, dari kamar kami ke kandang rusa yang terletak di bagian paling belakang jaraknya sih gak terlalu jauh, sekitar 150 meter saja. Tapi jalan "setapak" yang sebetulnya lumayan lebar sekaligus berfungsi sebagai jogging track ini lumayan bikin ngos-ngosan lho.

Jaraknya sih deket, tapi kemiringan jalan sekitar 45° bikin lutut ngilu pas kembali ke kamar


Selain lewat jogging track yang tepat melintas depan kamar, sebetulnya ada jalan lain. Yaitu melalui tangga dari arah playing ground. Tapi sama saja, sama-sama bikin nafas senin-kamis...:( 

Oya, tepat di seberang kamar kami, ada mushala yang ukurannya cukup besar lho. Cocok juga untuk yang mau bikin acara pengajian sekalian liburan keluarga. One stop religious runaway vacation :)

Setelah dari kandang rusa dan playing ground, berenang (lagi) adalah menu berikutnya. Kali ini, rencananya semua bakal ikut nyemplung sampai waktunya makan siang.

Berenang Jilid 2. Gak ada puas-puasnya, terutama yang pakai handuk Spiderman tuh....

Juragan lagi kedinginan

Kelar berenang, terus berjemur. Hangaaaaaaat......

Berenang jilid 2 ini lumayan lebih lama dibanding waktu hari pertama. Mataharinya juga bikin betah berjemur, termasuk saya.

Mau photonya? Hmmmmm.......jangan ah.....ntar malah gak bisa tidur lho :P

Yakin mau ?

Jangan deh ya....

Masa mau lihat saya berjemur...

Beneran nih...?

Gak ah...

Kelar berenang, pengennya sih rebahan di kamar. Kan lumayan lama sampai waktunya makan siang. Nyonya sih enak, selesai berenang langsung pijit di sini. Harganya lumayan bersahabat. Milih paket seharga 225 ribu, katanya dapat pijat seluruh badan plus berendam air panas. Ditanya berapa lama, lupa katanya saking asiknya.... Huahahahahaha...



Tapi rencana rebahan di kamar batal total. Penyebabnya apalagi kalau bukan krucil yang keukeuh pengen ngasih makan rusa lagi. Alamaaaaaak.... Kekenyangan kali tu rusa dikasih makan mulu.

Tapi berhubung ini harinya mereka, mau gak mau deh ngikutin kemauan mereka.


1 jam.....1 jam sajaaaaaa.....kita ngasih makan rusa kali ini. Perut yang mulai lapar, akhirnya bisa ngalahin antusiasme anak-anak berlama-lama di kandang rusa. Apalagi, sebelumnya kakak dah dijanjiin bakal makan siang di Floating Market.

Sebetulnya sih dari awal udah agak malas juga ke Floating Market. Soalnya istri agak parno kalau harus naik sampan, kapal, atau apalah namanya selama di atas air. Tapi karena anak-anak belum pernah ke Floating Market, ya kita ngalah deh. 

Pertama masuk lahan parkirnya, yang paling menarik adalah spanduk gede soal adanya Taman Kereta Api. Waaah....Chiaro kan pengen banget naik kereta api, harus dicoba nih.

Tiket masuk Floating Market, 15 ribu per orang

Begitu masuk pintu utama, baca-baca peraturan, ternyata semua transaksi harus pakai koin yang kita beli sebelumnya. Dan yang paling bikin kening mengkerut adalah ketentuan no refund-nya. Feeling mulai gak enak nih. Karena biasanya, kalau belum apa-apa sudah "diancam" no refund, itu sama artinya dengan mahal. Karena dah tanggung masuk, saya beli dulu deh koin senilai 200 ribu. Kata si mbaknya nanti bisa beli lagi di dalam kalau kurang. Belum apa-apa udah ngeluarin duit 260 ribu nih.

Setiap tiket bisa ditukar dengan 1 minuman yang tersedia di pintu masuk, termasuk ice lemon tea yang kita berempat pesan.

Begitu masuk, yang terlihat tentu wahana kano, sampan, sepeda air, paddle boat, dan kereta air. Percuma juga sih, lha istri gak berani naik juga. Si kakak yang tadinya mau naik juga jadi malas, gara-gara Ummi-nya takut. :P

Chiaro yang sempat ngadat pengen naik perahu juga akhirnya bisa dibujuk untuk naik kereta. So, Taman Kereta Api lah yang kita tuju berikutnya.

Sebelum ke Taman Kereta Api, nemu Taman Angsa. Anak-anak bisa kasih makan angsa, dengan membeli pakannya 5 ribu per kantong.

Naaaaah....di sini Chiaro sempat antusias banget. Sayang, keretanya sedikit, jadi cepat bosan.

Di Taman Kereta Api ini kita harus bayar lagi 20 ribu per orang. Berhubung Chiaro dah 3 tahun lebih, jadi harus bayar penuh untuk 4 orang. Belum lagi 15 ribu per orang untuk Wahana Kereta, yang kurang lebih selama 5 menit cuma muterin area gak lebih dari 15 meter persegi. 

Total, di Taman Kereta Api dan Wahana Kereta ini saya harus nukar koin dengan tiket seharga 110 ribu. Baru sampai sini saja, sisa koin cuma tinggal 90 ribu.

Gak jauh dari sini ada Taman Kelinci, bayar lagi 15 ribu per orang (sama juga caranya, tukar koin dengan tiket). Tiketnya bisa kita tukar dengan wortel. Walau awalnya cuma dikasih 2 wortel, kalau habis masih bisa minta ke penjaga wahananya.

Awalnya cuma Hiyoshi yang mau masuk kasih makan kelinci. Adiknya masih ngadat, gara-gara kepengen naik kereta lagi.

Tapi jangan panggil saya Abi idola, kalau gak bisa bujuk anak...hehehehe...

Chiaro akhirnya senyum juga, walau masih agak gengsi...:P

Seselesainya main di kandang kelinci, kita gak nemu lagi wahana yang mengasikan. Entah karena memang gak ada, atau karena perut lapar nyarinya jadi gak konsen.

Sebentaaaaar......mau makan harus berhitung dulu ada berapa koin di saku.

Beli di awal:                                            200.000
Taman Kereta Api >    4 x 20.000 = 80.000
Wahana Kereta    >    2 x 15.000 = 30.000
Taman Kelinci      >    2 x 15.000 = 30.000
                                               --------
                                              140.000

Sisa koin berarti tinggaaaaaaalll ??? 60 ribu saja sodara-sodariiii..:((

Makan apa coba 60 ribu? Mau gak mau terpaksa nebus koin lagi, 100 ribu aja ah. Nah, berbekal 160 ribu berbentuk koin, akhirnya kita berburu makanan. Pasti gak bakal cukup kalau untuk nyari kenyang.

Di tempat makannya ternyata memang tidak terlalu banyak pilihan makanan berat.

Akhirnya,

3 porsi tahu gejrot
2 porsi seblak
1 botol air mineral
1 botol teh botol (iklan gratis)
1 porsi sate kikil
1 porsi sate kambing

jadi hidangan penutup acara kami di Floating Market, dan kami pun memilih pulang ke hotel.

Nongkrong di Bale-Bale, sepertinya pilihan asik untuk menghabiskan sore. Selain karena minuman dan cemilannya yang cocok di lidah kami, harganya juga masih masuk akal.

Cari apa, Neng ? :P

 

Kita ngopi, adiknya anteng main air, kakaknya kok malah tidur? Nikmat bener kayaknya tidur di sofa rotan, ketiup angin semilir :)

Oya, sekedar catatan. Sudah 2 kali kita ngopi plus ngemil di Bale-Bale, rata-rata hanya menghabiskan 100-120 ribu saja. Termasuk murah lho, karena kita biasanya pesan 2-3 gelas minuman plus 2 cemilan seperti banana split atau aneka cake



Gak kerasa waktu udah jam 5 sore. Masuk kamar untuk istirahat sebentar, sambil nunggu adzan Magrib. Selepas Isya, perut mulai keroncongan. Tapi istri malas ke luar hotel, sisa-sisa dipijit bikin doi betah rebahan di kasur :P

Alhasil, saya dan si cikal yang kebagian beli makan untuk disantap di kamar. Malam kedua ini, pilihan jatuh pada Ayam Brebes. Seingat saya, dulu waktu masih jaman kuliah pernah beberapa kali diajak orang tua makan di sini.

Tapi ternyata sekarang tempatnya sudah agak bergeser ke sini. Dan sayangnya, bukan cuma tempatnya yang berubah. Rasa dan harganya pun sepertinya berubah. Pesan menu nyaris sama seperti malam sebelumnya di rumah makan ayam yang lain, di Ayam Brebes kena harga yang sedikit lebih mahal, padahal rasanya masih kalah enak. 

Balik ke hotel, ludes-ludes juga sih makanannya. Maklum, udah pada kelaparan gara-gara makan siang yang kurang memadai juga.

Selesai makan, saya ajak istri dan anak-anak nongkrong sebentar di Bale-Bale lagi.


Kerjaan Chiaro niupin lilin di meja :P

Hari kedua di Puteri Gunung Hotel, cukup melelahkan. Mulai dari ngasih makan rusa, berenang, sampai ke Floating Market. Perut kenyang, mata pun kriyep-kriyep. Gak sampai 30 menit nongkrong di Bale-Bale, kita pun memutuskan kembali ke kamar. Waktunya istirahat.

Yang lain mah ingin istirahat, bocah yang satu ini malah minta teh susu :)

Ini adalah malam terakhir kami berlibur di sini. Besok hampir dipastikan tak ada agenda istimewa, selain tentunya kembali ke rumah, sambil cari oleh-oleh untuk mertua tersayang, yang sudah memimjamkan mobilnya untuk kami pakai berlibur.
 
One thing for sure, we'll be back ! (macam terminator aja....)



Puteri Gunung Hotel, Lembang
sebelas kesembilan di duaribulimabelas, 02.28



Bayu Adhiwarsono©