Rabu, 23 November 2016

12 YEARS OF HAPPINESS

Target mudik dengan bersepeda tuntas sudah saya bayar. Tapi bukan berarti saya berhenti bersepeda. Selalu ada tantangan baru yang harus saya bayar. Termasuk bersepeda dari Bandung ke Jakarta. Kala bersepeda ke Bandung Desember 2015 silam, saya lebih memilih mengangkut sepeda menggunakan bis ketika harus kembali ke Jakarta. Kali ini, tidak lagi. Momen cuti Idul Fitri harus saya manfaatkan dengan baik.

Tanpa sengaja, tanggal yang saya pilih adalah 10 Juli 2016, bertepatan dengan ulang tahun pernikahan yang ke-12. Rute yang saya pilih adalah via Puncak. Ya, bersepeda melalui jalur Puncak termasuk salah satu impian saya. Menurut beberapa rekan yang pernah melintas, jalur ini menghadirkan tantangan lebih berat dibanding jalur Purwakarta ataupun Jonggol.

Setelah berpamitan dengan bidadari yang telah menemani hidup saya selama 12 tahun, dan kedua jagoan kami yang masih lelap, pukul 03.11 saya pun mulai mengayuh Si Keong. Dan alhamdulillah, sesuai perhitungan awal, saya bisa rehat perdana di sekitaran wilayah Ciburuy sekalian melaksanakan shalat Shubuh. Segelas kopi panas sempat saya nikmati, untuk mengusir dingin dan kantuk. Tapi saya enggan berhenti terlalu lama. 30 menit untuk shalat dan menikmati segelas kopi, saya rasa cukup. Cuaca yang masih bersahabat harus saya manfaatkan betul. Sekitar pukul 05.00, saya pun melanjutkan perjalanan.

Selepas Ciburuy, adalah surga bagi saya dan Si Keong. Jalur sepanjang lintas Citatah penuh dengan medan turunan, yang bisa kita lalui dengan kecepatan tinggi. 55 km/jam adalah kecepatan tertinggi yang saya raih bersama Si Keong. Memang masih di bawah kecepatan tertinggi yang pernah saya raih ketika melintas jalur Cikalong Wetan Desember tahun silam. Hati-hati, tentu sebuah keniscayaan. Sesekali saya harus melakukan brake-checking, agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan.

Pukul 05.30 alhamdulillah saya sudah melintasi jembatan Rajamandala. Sebuah jembatan penyeberangan sungai Citarum, yang dulu kala sempat menjadi Jembatan Tol. Beruntung sekarang siapa pun sudah bebas melintasi jembatan ini, tanpa harus membayar 1 sen pun.
Menikmati pagi selepas jembatan Rajamandala

Jelang pukul 07.00 saya pun sudah bertemu dengan pertigaan simpang Cariu. Saya sempat berhenti sesaat, sambil mematangkan tekad saya untuk melanjutkan perjalanan melalui Puncak. Ya, di sini adalah titik terakhir jika saya berubah pikiran. Kanan ke arah Cariu lalu Jonggol, sementar lurus menuju Cianjur hingga Puncak.
Pilihlah jalan yang lurus :)
Perut mulai menagih asupan makanan. Tapi saya memilih untuk melanjutkan perjalanan, setidaknya hingga memasuki wilayah Cianjur. Ada satu warung bubur ayam, yang jadi langganan ketika dulu saya masih sering menempuh perjalanan Jakarta-Bandung-Jakarta menggunakan motor. 

Sayang, kini warung bubur itu entah ke mana. Tapi medan menanjak yang sudah mulai menghadang selepas simpang Jonggol membuat saya harus segera mengisi amunisi, jika tak ingin tumbang di tengah perjalanan. Bubur incaran tak ada, bubur yang lain pun jadi pilihan.
Mulai menikmati tanjakan demi tanjakan
Tanjakan yang aduhai, membuat perut saya kembali kerongcongan. Padahal saya baru gowes sejauh 11 km. Alhasil, saya terpaksa melipir, dan bongkar bungkusan nasi goreng yang telah dipersiapkan istri saya sebelumnya.
Berteduh sambil bongkar makanan (lagi)
Jarak dari simpang Jonggol hingga warung Mang Ade di Puncak, sebetulnya tidak terlalu jauh. Hanya sekitar 38 km. Untuk jalanan datar, biasanya saya bisa tempuh paling lama sekitar 2 jam. Tapi medan yang terus menanjak, ditambah kemacetan luar biasa arus balik mulai dari Cipanas hingga Puncak, membuat saya harus seringkali berhenti untuk sekedar mengatur nafas atau menuntun sepeda untuk keluar dari himpitan mobil-mobil yang berhenti hingga bahu jalan.

Penuh perjuangan, bahkan seringkali terlintas di pikiran saya untuk menyerah dan loading, akhirnya saya pun tiba di warung Mang Ade Puncak sektiar pukul 13.30. 

Alhamdulillah Touch Down, beybeeeeeh.
Di sekitar Puncak ini saya menikmati betul waktu yang ada. 30 menit menyantap bandrek di warung Mang Ade, lalu turun ke Masjid Atta'awun untuk menjama' shalat Dzuhur dan Ashar, dan kemudian singgah menikmati kopi di sebuah warung sambil memandangi kemacetan arus balik menuju Gadog. Hampir 2 jam saya habiskan di Puncak dan sekitarnya, sebelum akhirnya saya memutuskan untuk melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
Berhenti di jalur berlawanan, demi secangkir kopi, dan selonjoran.
Simpang Gadog. Sudah 117 km, tinggal sekitar 60 km lagi :)
Selepas Puncak, saya pacu sepeda saya. Medan yang nyaris tinggal menyisakan turunan hingga Jakarta membuat adrenalin sedikit menggelitik. Di sisa perjalanan ini, bahkan saya sempat mencetak kecepatan tertinggi 61 km/jam, dengan kecepatan rata-rata 22 km/jam. 

Sempat berhenti beberapa kali lagi untuk makan malam atau sekedar mengambil nafas, sekitar pukul 20.00 saya sudah sampai di Utan Kayu, Jakarta Timur.
 
Alhamdulillah, semua tak akan mungkin terlampaui tanpa pertolongan Allah, dan do'a istri serta kedua jagoan saya di Bandung. Terima kasih karena telah menjadi pendamping selama 12 tahun yang penuh dengan kebahagian, Hun. Terima kasih telah mendidik 2 jagoan kita dengan penuh kasih sayang.

Perjalanan ini untuk kalian.



Catatan:
Silakan intip catatan saya menurut Strava.





Bayu Adhiwarsono©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar