Kamis, 27 Oktober 2016

TEPANGKEUN, NENG ITEUNG

Neng Iteung
Sudah sejak lama sebetulnya saya bermimpi mempunyai sepeda Federal. Sebuah merk sepeda lokal, produksi anak bangsa, yang sempat menjadi lokomotif penjualan sepeda di Indonesia, di pengujung era 2000-an. Apalagi, walau Federal sudah tak diproduksi lagi, penggemar sepeda besi ini bukan berkurang, justru malah terus bertambah. Para penggemarnya pun beragam jenis. Mulai dari sekedar pengguna sepeda sehari-hari, yang “asal punya” Federal, hingga bahkan kolektor yang jumlah peliharaan Federal-nya mencapai puluhan dengan kondisi prima.

Biaya untuk membangun sebuah sepeda Federal orisinil hingga kondisi siap touring pun masih jauh lebih murah, dibanding membeli sebuah sepeda baru, atau sepeda rakitan kekinian.

Dan dari hasil obrolan dengan beberapa rekan, sepeda Federal impian saya harus memenuhi syarat:
  • Frame tak usah muluk-muluk, cukup berbahan besi alias hi-tensile. Mengapa? Karena sepeda saya yang biasa saya pakai sehari-hari, SiKeong pun berbahan besi. Murah dan kuat.
  • Top tube “rata air”. Menurut info, frame dengan top tube seperti ini sangat ideal untuk dijadikan sebagai sepeda touring.Itu saja syaratnya. Perkara sepesifikasi tekhnis dan spare parts kasta berapa yang nanti tertempel, itu tak jadi soal.

Tapi namanya hidup, cita-cita dan kenyataan toh nyaris tak pernah sejalan.

Berawal dari keisengan jelang tidur menjelajah Facebook Group Bursa Sepeda Federal, ada salah satu anggota yang melego sebuah Fedaral Wild CAT. Harga murah meriah, dengan iming-iming “termasuk ongkir” dan “nego”, iseng-iseng saya sapa melalui WhatsApp.

Kondisi Neng Iteung yang ditawarkan
Lho……kok Wild CAT yang “berjenis kelamin” Ladies?

Entah saya ngigau, atau bagaimana. Yang pasti, proses tawar menawar melalui WA pun berlangsung singkat. 650 ribu rupiah pun disepakati sebagai mahar untuk sebuah sepeda Federal. Melenceng jauh dari cita-cita awal untuk mempunya sepeda dengan top tube “rata air”, tapi apa mau dikata. Mungkin memang sudah jodohnya.

Beberapa hari kemudian, sepeda itu pun tiba dengan selamat.

Datang dalam keadaan terbungkus rapih
“Ini apaan?”, saya masih ingat betul itu WA dari istri saya, ketika dia menerima kiriman sepeda itu di Bandung. 

Bukan karena dia tak tahu bahwa itu sepeda, tapi pikirnya buat apa lagi beli sepeda. Toh saya sudah punya Si Keong yang biasa saya pakai untuk ngantor di Jakarta, terkadang gowes rada jauh, termasuk ketika gowes ke Bandung Desember 2015 dan Idul Fitri lalu. Istri pun sehari-harinya kini punya Neng Monza, sebuah sepeda yang sangat cukup layak untuk keperluan antar si bungsu sekolah. Sementara si cikal dan si bungsu juga sudah punya sepeda sendiri-sendiri.

Tapi setelah sedikit bujukan, ngeles sana ngeles sini, akhirnya istri hanya bisa pasrah. Lha mau bagaimana lagi, toh sepeda itu sudah terbeli.

Ketika tiba waktunya pulang ke Bandung, langsung saya bongkar packing sepeda yang sengaja dibiarkan istri masih terbungkus rapih.

Kala pertama kali menghirup udara bebas di Bandung :)
Cat mulus hasil repaint. Seadanya memang, terlihat dari beberapa bagian yang mulai terkelupas, atau tergores. Tapi warna merahnya ternyata jauh lebih jreng dibanding yang saya lihat di foto ketika proses tawar menawar berlangsung. Decal alias stiker yang menempel di sepeda memang tak orisinil. Tertempel decal Federal Monaco. Tak mengapa, decal ada di peringkat entah nomor berapa dalam daftar saya.

Nyonya pun tergiur untuk mencoba :)
Secara umum, sepeda ini memang layak pakai. Tapi karena cita-cita saya adalah memiliki sebuah sepeda Federal yang siap touring, proses selanjutnya tentu mengganti beberapa parts yang saya nilai kurang mumpuni, dan menambah beberapa asesoris untuk keperluan touring.

Berikut daftar belanja demi mengejar mimpi menjadikan Neng Iteung sepeda siap touing.

-        Frame set (Frame, fork, stem, dan ban), Federal Wild CAT-----Rp.  650.000
Handlebar (sempat berganti), Butterfly Bar (Steel)-------------Rp.  125.000
Bar Tape, Silicon Leather-----------------------------------------Rp.    85.000
Sadle, Pacific Expect More----------------------------------------Rp.  150.000
Kickstand, United-------------------------------------------------Rp.    65.000
Pedal, Non Series (Alloy)-----------------------------------------Rp.    85.000
Brake lever and Shifter, Shimano ST-EF41 via Indonesia------Rp.  175.000
Fenders, Non Series (Stainless Steel)---------------------------Rp.    60.000
Sproket, Shimano MF-TZ31 14-34T Megarange----------------Rp.  110.000
Shark Fin, Non Series (Plastic)----------------------------------Rp.    15.000
Racks, Non Series (Hollow Steel)-------------------------------Rp.  550.000
Bell, Non Series--------------------------------------------------Rp.    15.000
Front Light, SWAT with Stun Gun (Rechargeable)-------------Rp.  130.000
Rear Light, Non Series-------------------------------------------Rp.    35.000
Wheelset, Genio--------------------------------------------------Rp.  225.000
Bidon, Non Series (Steel)----------------------------------------Rp.    35.000
 Seatclamp, Non Series (Alloy)----------------------------------Rp.    20.000
Pannier, D-Baggers (Made In Indonesia)-----------------------Rp.  250.000

TOTAL BELANJA :  Rp.  2.780.000

Neng Iteung siap touring
Tak sampai 3 juta, tapi sudah nyaris sempurna untuk sebuah sepeda idaman. Memang masih ada beberapa PR jika ingin menggunakan Neng Iteung untuk Tour De Pangandaran awal tahun mendatang. Sektor rem misalnya, masih kurang mumpuni untuk saya yang terbiasa menggunakan rem cakram di Si Keong. Atau, penambahan spion, yang tak kalah pentingnya.

Tapi Insyaa Allah masih bisa terkejar jelang tenggat waktu akhir tahun. Sementara ini, Neng Iteung pun sudah siap menemani saya menjelajahi Bandung dan sekitarnya. 

I'am a LADY


*siapa bilang sepeda bagus harus mahal*




Bayu Adhiwarsono©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar