Sabtu, 18 September 2010

TERIMA KASIH, TUAN !

kau boleh berkata semaumu,
berteriak sesukamu,
menghantam sekeras mungkin,
memaki selantang apa pun,
lalu pergi

kau boleh menginjak,
meludah,
menghinakan,
lalu pergi

tapi tolong ku pinjam telingamu,
bukan untuk mendengarku bicara karena itu tak guna

dengarkan saja tepuk tangan gegap gempita
juga siulan nyaring
semuanya bukan untuk mengejek Tuan

itu tanda kagum kami,
betapa manusia sepertimu masih layak disebut manusia

terima kasih


 jakarta, delapanbelas kesembilan di duaribusepuluh, 21.09

Bayu Adhiwarsono©

2 komentar:

  1. kagum. karena manusia sepertimu masih kami anggap manusia. terimakasih. Nima, gaya ironi dan sindiranmu benar-benar kuat, tajam tapi tetap memegang kesantunan. tampak benar bahwa sipenulis adalah pribadi yang matang, mengkritik dengan tepat. tidak seperti para aktivis mahasiswa yang kadang tidak tahu apa sih yang mereka ingin katakan. salut buatmu.

    BalasHapus
  2. Bingung balasnya nih, mau terima kasih, sepertinya Bang Ipenk salah masuk blog. Mau marah, komentarnya pada tulisan di atas positif banget. Ah, thanks anyway aja deh.....:D

    BalasHapus