Kamis, 09 Juli 2009

DAMAI DI LEHER JENJANGMU

malam ini mungkin kau lebih memilih untuk membisu. berselimut seperti biasanya hingga batas leher jenjangmu. damai tidurmu itu yang selalu membuatku cemburu. walau terkadang memang ada senyum tangis maupun dengkur merdumu. tapi aku bahagia ketika kau tersentak membentak aku ada di sisimu hanya untuk membelai. hanya. hanya untuk mencoba membuatmu kembali terlelap. damai. yang membuatku cemburu.

sisa tangis siang tadi mungkin memang meninggalkan jejak sembab di indah matamu. bekas amarahmu mungkin masih memerah di leher jenjangmu yang setengahnya tertutup dua lembar selimut. caci maki yang sempat kumuntahkan sepertinya masih membuatmu terisak. tapi entah mengapa aku yakin kau pasti masih bisa terlelap dalam damai. damai. yang membuatku cemburu.

malam ini mungkin kau masih ingin membunuhku dalam cintamu. tak apa sayangku. tak apa jika itu memang bisa membuatmu damai. damai dalam lelap. lelap yang tak membuatku secemburu pada damaimu.

bakar kenangan tentangku. bakar hanya untuk malam ini saja. aku lebih memilih disiksa cemburu. cemburu akan damai. damai ketika kau lelap. lelap ketika dua lembar selimut menutupi hingga leher jenjangmu. leher jenjangmu yang tak kugeluti malam-malam ini.


jakarta, sembilan ketujuh diduaribu sembilan, 01.32




Bayu Adhiwarsono ©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar