Senin, 02 April 2007

DEMOKRASI

Demokrasi.


Pasti hampir semua dari kita, pernah belajar di sekolah, mahluk sejenis apakah yang disebut Demokrasi itu.


Saya sendiri sudah lupa detilnya, tapi yang jelas secara garis besar, intinya, Demokrasi adalah dari rakyat, oleh rakyat dan untuk rakyat. Dalam artian lain, dalam Demokrasi rakyat atau masyarakat luas lah yang berkuasa. Konsekuensinya, tentu saja, suara yang terbanyak lah yang berkuasa. Dan itu juga menimbulkan konsekuensi lain, suka atau tidak suka, bahwa mayoritas berkuasa dan minoritas pasti tertindas.



Kita juga tentu masih ingat, bahwa Indonesia berani tampil beda, dengan menyatakan bahwa Indonesia punya sistem politik sendiri, Demokrasi Pancasila. Dalam demokrasi jenis ini, mayoritas tidak serta merta berkuasa mutlak, yang minoritas tidak serta merta kehabisan jalan dan lalu jadi tersisih. Ada jalan tengah, ada kompromi, ada pembicaraan dengan akal tengah yang bertujuan mencari jalan dan hasil terbaik bagi setiap orang. Mufakat. Ya.....! Mufakat adalah intisari dari Demokrasi Pancasila.

Ideal ? Bagi sebagian orang, terutama bagi orang-orang "dulu". Perlu ditekankan, "dulu" tidak lalu otomatis berarti "tua". Orang dulu bisa saja tidak tua. Sebaliknya, orang yang sudah tua, belum tentu termasuk kategori orang dulu. Semua tergantung pada pola pikir dan kedewasaan serta kecanggihan bertindak.

Lalu mengapa orang dulu begitu suka dengan proses pencarian mufakat ? Karena disitulah, semua bisa saja terjadi. Yang baik menjadi buruk, yang buruk menjadi baik, yang putih menjadi hitam, yang hitam menjadi putih, semua bisa menjadi terbalik dan dibalik. Semua tergantung proses pendekatan, baik itu antar personal maupun antar instansi atau organisasi. Dan sukses atau tidaknya pendekatan tersebut, tergantung juga sebesar apa sumbangan yang diraih atau dikorbankan. Baik sumbangan pemikiran maupun sumbangan lain dalam bentuk yang lebih JELAS !!!!!!!!!!!!!!


Lalu masih idealkah Demokrasi Pancasila bagi bangsa kita di era yang makin modern ini ? Tolong jangan dijawab !!!


Sungguh, saya tak berani melemparkan pertanyaan itu pada orang lain. Dan saya pun sepertinya masih berpikir seribu kali, untuk mengeluarkan jawaban, bila ada yang menanyakan hal itu pada saya. Bukan karena takut, atau tendensius saya pada salah satu ideologi. Melainkan..........., saya masih ingin menghabiskan waktu bersama anak dan istri, dalam keadan damai dan penuh tawa. Tanpa terganggu gedoran tangan-tangan kekar di pintu rumah saya, yang sekonyong-konyong bisa saja membawa saya, ke sebuah dunia gelap yang baru, yang untuk membayangkannya saja saya tak sudi !!!


ps: Duhai anakku, kita memang belum merdeka, nak !


 


2 April 2007

Tidak ada komentar:

Posting Komentar