Kamis, 02 Juni 2016

MAY GRAND FONDO: KEBUN RAYA BOGOR

Akhirnya.... 
Sebetulnya sudah sejak lama saya ingin gowes ke Kebun Raya Bogor (KBR). Terletak di ketinggian 260 mdpl, gowes dari Jakarta (baca: Pulogadung, Jakarta Timur) menuju KBR menurut saya adalah salah satu gowes on-road dengan rute terbaik. Mulai dari jalanan dengan panas menyengat hingga ruas jalan yang teduh, rute padat lalu lintas hingga jalanan yang sepi, dan tentu saja medan yang memiliki elevasi bervariasi. Waktu tempuh pun masih bisa diselesaikan setengah hari, untuk kebanyakan pemancal. Sementara bagi saya, menurut perhitungan awal, total waktu yang harus saya alokasikan adalah sekitar 8-10 jam (termasuk shalat, istirahat, ataupun makan) untuk gowes sejauh 110-120 km, antara Pulogadung-KBR-Utan Kayu.

So, 31 Mei 2016. sehabis dhuhur dan TANPA makan siang saya pun memulai perjalanan untuk menuntaskan keinginan saya yang sudah sejak lama tertunda itu.

Sengaja saya mampir dulu ke kosan, selain untuk membawa bekal minuman lebih banyak, juga untuk menyimpan beberapa barang yang sekiranya tak perlu saya bawa di pannier. Lumayan, barang seberat apa pun bakal terasa pengaruhnya, ketika kita gowes untuk jarak tempuh di atas 100 km.

Mengambil jalur By-Pass (Jalan DI Panjaitan) lalu berbelok di Cawang, kemudian memotong daerah Pangadegan dan ke luar di Taman Makam Pahlawan Kalibata, saya lalu mengarahkan sepeda ke arah selatan.

Jalur Pasar Minggu hingga UI terasa begitu panjang dan nyaris membosankan. Beruntung banyaknya pohon rindang di sepanjang jalur ini membuat cuaca jadi agak bersahabat. 2 jam perjalanan, saya pun tiba di sekitar Universitas Indonesia. Agak memutar sediikit dan sempat tuntun sepeda melawan arah, akhirnya saya menemukan ini....

Tanda "Selamat Datang" yang waktu pertama kali gowes ke UI pertengahan Mei lalu tak sempat saya sambangi. Punten numpang lewat, untuk para sesepuh pesepeda di Kota Depok :)
Ini sebetulnya kali kedua saya melintas di sini
Memasuki Depok, cuaca justru tengah luar biasa panas. Beberapa kali saya hendak berhenti untuk melepas dahaga, tapi hanya es podeng lah yang akhirnya membuat saya benar-benar menghentikan laju Si Keong.
Es Podeng, teman ideal untuk menurunkan suhu tubuh
Asupan es podeng yangs aya temui di Jalan Kartini ini membuat suhu tubuh yang sempat naik karena panasnya cuaca, kembali berangsung turun. Cukup 10 menit saya melipir untuk menikmati segelas es podeng, karena perjanan yang saya tempuh baru 36 km dan masih menyisakan sekitar 80 km lagi. Well, 2,5 jam untuk 36 km. Berarti hitungan kasarnya saya masih bakal duduk di atas sadel DDK Speedline saya selama 6-7 jam lagi.

Tapi sekitar 1 jam melintasi Jalan Raya Citayam giliran perut saya yang mulai unjuk rasa. Saya lirik jam tangan, 15.30. Ah, waktunya menuntaskan 2 kewajiban yang tertunda, shalat ashar dan makan siang. Kebetulan sebuah warung mie instan dengan lokasi teduh dan bersih, saya lihat ada di sisi kanan jalan di wilayah Pabuaran.
Pilihan buruk. ASAL KENYANG !
Selesai 2 urusan ini dan mengisi ulang persediaan minum, sepeda kembali saya kayuh menuju tujuan semula, Kebun Raya Bogor. Masih ada sekitar 20 km lagi (menuju KRB, belum mikir urusan pulangnya lho ya.....:P)

Sesaat sebelum Maghrib, akhirnya saya tiba di gerbang pintu sebelah selatan Kebun Raya Bogor. Setibanya di sini, saya tak berhenti lama. Setelah mengabari istri tersayang di Bandung, lalu sekedar melepas dahaga, saya pun kemduian memutuskan kembali ke arah Jakarta sambil sebelumnya mencari tempat untuk shalat Maghrib. Rute Cibinong-Cilangkap-Kramat Jati jadi pilihan rute pulang. Saya yakin, mengayuh sepeda malam hari di jalanan ini masih relatif lebih aman dibanding jika harus mengambil jalan yang sama ketika berangkat ke KBR.
Persimpangan Jalan Raya Bogor dan Jalan Sentul Baru
Bokong yang semakin tidak nyaman, dan persediaan air minum yang kembali menipis, membuat saya memutuskan berhenti di persimpangan Jalan Raya Bogor dan Jalan Sentul Baru.

Sebuah kios kecil, dengan bangku memanjang. Pas untuk tempat ngopi, sekaligus menikmati pemandangan mereka yang dengan sukarela bermacet-macetan di atas kendaraan pribadinya.

Ada sedikit dialog menarik dengan seseorang bapak-bapak yang tengah menanti metromini di kios ini,

"Pulang kerja, mas?", si bapak memulai percakapan dengan ramah. "Iya, Pak", jawab saya pendek. Lalu beliau berjalan menghampiri Si Keong, memegang sadel (padahal buat saya, sadel adalah salah satu barang pribadi, karena di situ bokong saya ditempatkan setiap saya bersepeda) dan kembali bertanya "Rajin mas sepedaan. Kerja di mana?". Saya jawab, "Pulogadung, Pak".

Hening sesaat. Metromini menuju Depok yang dinantinya belum juga tiba.

"Pulogadung? Jakarta? Lha ini mau pulang atau gimana? Tinggal di mana memangnya?", saya diberondong pertanyaan bernada ragu.
"Ngekos sih di Utan Kayu, Pak". Dan mendadak si bapak ini terdiam, melirik Si Keong, lalu kembali menatap saya.

"AH, GILAAAAA!!!", nyaris mengagetkan sang empunya kios.
Beruntung tak lama kemudian, yang dinanti tiba. Beliau pun pamit, sambil tak lupa kembali melirik ragu pada saya dan Si Keong.
Hari semakin malam, saya pun tak bisa berlama-lama lagi menepi. Apalagi perut juga sepertinya mulai kembali menuntut asupan ulang. Mie instan di Pabuaran nyaris tak bersisa. :)

Ya, jelang Kramat Jati saya pun kembali "dipaksa" untuk berhenti. Demi sebuai kedai tongseng kambing.
Kambing memang gak ada lawannya !
Merasa perjalanan sudah semakin dekat, pace yang tadinya agak saya pacu sejak Bogor kembali saya turunkan. Menyantap tongseng kambing tak boleh tergesa-gesa. Selesai bersantai, biarkan dulu badan ikut menikmati. 30 menit saya bersantai di sini, sambil kembali menikmati betapa banyak orang begitu hidup dalam ketergesa-gesaan. Pergi kerja, buru-buru. Kerja, buru-buru. Pulang kerja, buru-buru.

Lalu kapan menikmati hidup yang katanya singkat ini?
Rute dan elevasi versi Strava
Akhirnya sekitar pukul 21.30 saya pun tiba di kosan, setelah sebelumnya sempat sedikit memutar ke arah Pramuka. Demi apa??
DEMI MAY GRAN FONDO
Ya, rekan-rekan sesama pesepeda pengguna Strava tentu tahu betul soal setoran Gran Fondo ini. :)
Total waktu: hampir 9 jam
Dilihat dari tabel ini, saya harus terus belajar mengatur pace bersepeda
Profil rute dan waktu di tiap zona elevasi yang saya lalui
Alhamdulillah, ini ketiga kalinya saya gowes untuk trip di atas 100 km, sejak akhir Oktober lalu saya "kembali" bersepeda. Jakarta - Bandung, Pulogadung - Tanjung Pasir - Utan Kayu, dan sekarang Pulogadung - Kebun Raya Bogor - Utan Kayu.

Hasrat kembali bersepeda di atas 100 km pun kembali terbersit. Bandung anyone???






Bayu Adhiwarsono©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar