Kamis, 28 April 2016

MENULARKAN KEBAHAGIAAN (SEBUAH ALASAN)

Sejak teman dan kerabat tahu saya punya hobi “baru” yaitu gowes, pertanyaan yang seringkali terlempar dari mereka adalah “Sudah turun berapa kilo, Bay?”. Mungkin karena melihat ukuran badan saya yang tambun dengan tinggi badan (nyaris) 160 cm dan berat 95 kg, seakan-akan itulah tujuan utama saya bersepeda.

Padahal  jujur saja, bukan itu.

Semakin lama saya semakin jengah dengan kondisi lalu lintas, terutama rute yang biasa saya lalui dari kost ke kantor dan begitu juga sebaliknya. Jarak yang tak lebih dari 6 km itu seakan membuat saya serba salah. Jika kondisi lalu lintas sepi, 5-10 menit yang saya habiskan bersama Si Hideung -kendaraan roda dua saya- terasa hampa. Perjalanan menjadi hanya suatu pengugur kewajiban saya bekerja. Tapi jika kondisi tengah macet, semua yang ada di diri saya seperti tergerus pupus terkikis habis. Waktu, tenaga, emosi. Semua terbuang percuma.

Saya tak mau jadi mereka yang saking tidak bahagianya dengan hidup, lalu melampiaskan di jalanan. Menjadi penjajah, menjadi perampok kebahagiaan orang lain.

Menjajah Zebra Cross seperti sudah jadi kebiasaan. Kalian PERAMPOK!
Saya ingin bersenang-senang. Hidup ini terlalu singkat untuk kita lalui tanpa bahagia. Saking singkatnya, bahkan saya ingin ketika tengah di perjalanan pun saya bisa tersenyum.

Saya pikir sepeda adalah jawabannya. Setidaknya untuk saya pribadi.

Ya, boys are always be boys. Pernah lihat anak-anak kecil tertawa untuk alasan yang menurut kita remeh temeh? Atau betapa mudahnya mereka melupakan amarah dan kesedihan, berganti senyum dalam hitungan detik? Saya rindu masa-masa itu. 

Dan ketika akhirnya saya memutuskan untuk menggunakan sepeda sebagai sarana transportasi utama, saya pun memang bersenang-senang. Saya seperti kembali hidup dalam sebuah gerak-lambat, menikmati setiap detil anugerah Sang Pencipta.

Life in slow-motion
Setiap hari rute ngantor seakan menjadi lintasan permainan sepeda untuk saya dan Si Keong. Bahkan ketika emosi mulai menyelinap, saya bisa dengan mudahnya kembali tersenyum. Dalam hitungan detik, seperti anak-anak. Macet yang sedemikian parah hingga betis nyaris kram, beberapa kali nyaris akrobat karena mendadak dipepet kendaraan bermotor, atau bahkan bercampurnya peluh dengan chainlube ketika mengganti ban bocor,  jadi puzzle yang begitu mengasyikan.

Dan ternyata semua itu tak hanya dalam perasaan saja. Angka menjadi pembuktinya. Per akhir April 2016, berat badan saya yang tadinya 95 kg menyusut hingga 83 kg, kolestrol yang tadinya mencapai 300 mg/Dl menjadi 151 mg/Dl. Bahkan saya sanggup bermain futsal hingga 1 jam penuh untuk pertama kalinya sepanjang hidup saya. Ya pertama kali, lha seumur hidup saya rasanya memang belum pernah kok bermain futsal. Duar!

Ya, saya bersenang-senang, saya bahagia. Itu alasan saya bersepeda. Yang lain? Itu bonus, kawan.

Lalu apa hubungannya dengan "Menularkan Kebahagiaan"? Sabar, silakan nikmati dulu kopi anda. Karena sepeda dan kopi, niscaya membuat hidup anda menjadi 500 kali lipat lebih bahagia.

Tunggu tulisan saya berikutnya ya.




Bayu Adhiwarsono©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar