Minggu, 01 November 2015

SI KEONG

Sepeda adalah salah salah satu cinta lama saya.

Saya ingat betul, salah satu barang/mainan ketika kecil yang membekas hingga sekarang.....ya sepeda. Roland, itu adalah merk sepeda yang pertama kali orang tua belikan untuk saya dan Almarhum adik saya. 1 sepeda untuk berdua. Ya, karena saya dan adik saya hanya berbeda usia 9 bulan, kami jadi seperti anak kembar. Sampai soal mainan atau sepeda pun, kami memang sering berbagi.

Sepeda itu bahkan jadi "senjata" andalan kami ketika bermain bersama anak-anak tetangga di sekitar rumah kami. Ketika yang lain sudah merasakan kehebohan memiliki sepeda BMX sejak masih kanak-kanak, saya harus menunggu hingga kelas 1 SMP. Dan masih untuk berbagi. :P

SMA hingga kuliah saya mungkin terhitung nyaris tak pernah bersentuhan dengan sepeda, entah kenapa. Cinta monyet sepertinya bisa jadi kambing hitam. :)

Baru setelah lulus kuliah saya kembali punya sepeda, sebuah MTB vintage second, yang saya beli patungan dengan adik saya dan ditambahi oleh orang tua kami. Saya lupa merk-nya apa, yang pasti "berbau" Jepang. Berwarna hijau, frame besi (tentunya), v-brake, dengan tanduk alias bar ends berwarna biru (gak nyambung sama warna frame :P). Cuma secuil itu yang saya ingat.

Tapi walaupun tampangnya seadanya, sepeda vintage itu punya jasa lumayan besar untuk saya dan adik-adik saya. Karena sepeda inilah yang membantu tugas kami mengantarkan pesanan koran/tabloid/majalah ke para pelanggan, ketika kami sempat menekuni usaha loper kecil-kecilan.

Ketika tahun 2002 saya memutuskan untuk bekerja di Jakarta, sepeda seakan begitu saja terbuang dari hidup saya. Tak hanya sebagai alat transportasi -yang dengan mudahnya tergantikan oleh mobil dan motor-, tapi juga sebagai salah satu hobi saya. Ketika mungkin nyaris semua orang heboh dengan Bike to Work, saya seakan sama sekali tak tertarik untuk kembali bersepeda.

Baru tahun lalu, tepatnya sekitar bulan Oktober, entah dari mana asal muasalnya, saya tiba-tiba memutuskan untuk memilih sepeda sebagai alat transportasi saya di Jakarta. Setelah mobil lebih dulu saya tinggal di Bandung, motor pun menyusul. Keduanya mendadak tak menarik lagi buat saya gunakan sebagai alat transportasi sehari-hari. Dana yang saya siapkan untuk membeli sepeda pun tak banyak. Toh saya pikir sepeda yang hendak saya beli hanya akan saya gunakan untuk keperluan kost-kantor-kost, tak lebih.

1 juta Rupiah, cuma itu yang saya anggarkan untuk membeli sebuah sepeda. Tak muluk-muluk, kategori yang saya pilih ketika berburu sepeda kala itu hanya:
- MTB
- Rem cakram
- Kondisi layak pakai untuk trip tak lebih dari 10 km

Beruntung, saya akhirnya menemukan sebuah sepeda yang memenuhi kategori itu. Sebuah Wimcycle Roadchamp DX 18" berwarna putih yang saya peroleh dari sini. Si Keong, itulah nama yang saya sematkan pada sepeda ini. Sengaja saya memilih nama ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri bahwa saya membeli sepeda bukan untuk keperluan balap atau kompetisi.

Tampilan awal "Si Keong"
Tapi seperti banyak orang bilang, sepeda itu racun. Racun yang Insya Allah saya kupas di tulisan-tulisan saya berikutnya.

Salam Gowes.....





Bayu Adhiwarsono©

Tidak ada komentar:

Posting Komentar