Kamis, 23 Agustus 2007

Surat Buat Isteriku (3)


di-copy atas seijin penulis yang bersangkutan, Arief Tjahyadi, Thanks, Mas !

dulu sebelum menikah,
aku berharap istriku seperti khadijah:
melindungi suaminya kala gemetar ketakutan
dengan hangat selimut kasih
dan dekapan sayang keibuan.

atau seperti Siti Hajar:
meski sendiri ditinggal di gurun kesepian
tapi selalu merajut kesetiaan
dan teguh memegang janji.

atau fatimah az-zahra:
tabah menjalani hari-hari dalam kesederhanaan
meski hanya tinggal di rumah kecil
berhiaskan prihatin semata

tapi ternyata,akupun bukan Muhammad Rasulullah
yang kata-katanya senantiasa dapat dipercaya.
atau Ibrahim yang hanif,
dan teguh berdiri menjaga iman,
atau Ali bin Abi Thalib yang perkasa
namun selalu santun pada sesama.

aku hanya suamimu yang masih mudah marah
saat kejengkelan merusak hatinya
laki-laki yang akan berdiri sombong saat kau usik egonya
dan bocah balita yang dibungkus dalam tubuh orang dewasa:
manja, kekanak-kanakan, dan senantiasa tak mau kalah

sering aku jengkel ketika kau tak bisa melangkah secepat langkahku
padahal seharusnya akulah yang mendukungmu di jalan berbatu terjal
atau tiba-tiba keluar kata-kata kasar saat kau tak juga mengerti diriku
padahal seharusnya akulah yang membimbingmu dengan lemah lembut saat kau kesulitan

maka aku menerimamu apa adanya
sebagai istri
yang tentu akan punya kekurangan,
namun menyimpan kelebihan-kelebihan yang aku sendiri tak pernah miliki.

aku menerimamu
sebagaimana kau menerimaku

inilah sungai deras
yang selalu mengalir mencari lautanmu

semoga kelak akan terbaca
bahwa perjalanan kita tulus menuju pada sang pencipta
mengikuti irama dalam syariatNya
dan berada dalam surga abadiNya.


catatan Bayu Adhiwarsono:
Ummi sayang, ini untukmu ! Ternyata Abi memang masih harus belajar banyak !

Tidak ada komentar:

Posting Komentar